
Kembali ke sisi lain.
Brakkkkkkk.
buggggggg.
Pukulan membabi buta yang diberikan Bram pada lawan nya membuat Leonel berulang kali menghembuskan nafasnya kasar, dia meminta laki-laki besar yang menjadi penanggung jawab tempat tersebut menghentikan semua nya, Leonel bahkan dengan cepat mencoba menarik tubuh Bram.
Percayalah lawannya akan remuk redam jika mereka tidak menghentikan Bram saat ini juga, laki-laki itu mulai menggila dengan keadaan.
"Brengsek..."
Bram kembali ingin memukul lawan nya yang sudah terhuyung dan terluka parah.
"Bram kau akan membunuh nya"
Leonel berteriak kencang, menahan tubuh Bram agar tidak bergerak lebih menggila dan berhenti memukul ke depan.
Mendengar kemarahan Leonel, Bram terlihat diam, mencoba menetralisir kemarahan nya untuk beberapa waktu.
Bisa dia lihat darah segar keluar dari hidung dan mulut lawan nya, bahkan ringisan keras memenuhi ruangan tersebut.
****.
Bram mengumpat, dia meremas rambut nya dengan kasar.
"Ada apa dengan mu sebenarnya Bram? Aku melampaui batasan mu Bram, kau bisa membunuh nya jika terus memukul nya seperti tadi, ini hanya permainan, bukan ring sebenar nya"
Leonel mencoba membawa Bram agar segera pergi dari sana, mendudukkan paksa Laki-laki itu ke sebuah kursi di ujung sana.
"Aku kehilangan akal sehat ku saat ini"
Ucap Bram kemudian.
Saat mendengar laki-laki tersebut berkata begitu, Leonel seolah-olah bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi saat ini.
"Apakah Marina baik-baik saja?"
Tanya nya pelan, dia mencoba meraih botol minuman yang ada di sisi kanan nya yang terletak di atas kursi kayu memanjang.
Berkali-kali kehilangan, berkali-kali kembali mendapatkan Marina tapi dalam keadaan tidak baik-baik saja jelas membuat Bram kehilangan akal warasnya.
Bayangkan bagaimana perasaan Bram saat tahu pelaku utama kejahatan yang membuat perempuan yang dia cintai adalah Alisa? Laki-laki mana yang tidak akan memendam dendam besar saat ini saat mendapatkan kenyataan jika Marina orang yang dia cintai tidak baik-baik saja.
"Aku tidak pernah se khawatir ini Leonel"
Bram bicara cepat, menyambar minuman yang ada di tangan Leonel saat ini.
__ADS_1
Laki-laki tersebut buru-buru meneguk minuman tersebut dengan cepat, membiarkan dahaga nya lolos bersamaan rasa marah dan sedih nya, bisa dilihat secara perlahan minuman itu melewati tenggorokan nya.
"Dia kembali masuk ke masa kritis nya?"
Tanya Leonel lagi.
"Yah, dia kembali masuk ke masa kritis nya"
Setelah berkata begitu, Bram terlihat diam, mereka memilih untuk bungkam beberapa waktu.
"Aku ingin kau menyelesaikan soal Alisa secepat nya"
Ucap Bram tiba-tiba.
Mendengar ucapan Bram, sejenak Leonel menunggu apa lagi ucapan Bram yang akan keluar berikut nya.
"Aku ingin dia benar-benar berakhir di Saint-Paul, Saint-Rémy"
Ucap Bram kemudian.
"Dia mulai berhalusinasi sesuai dengan apa yang aku inginkan, kau tahu bagaimana berikut nya harus membawa dirinya?"
Lanjut laki-laki itu lagi.
"Apakah itu tidak berlebihan?"
"Apa perbuatan nya selama ini tidak di anggap berlebihan?"
Bram bertanya sambil menatap tajam bola mata Leonel.
"Aku tahu, dia bersalah untuk banyak hal termasuk menghancurkan kehidupan banyak orang"
"Jadi Saint-Paul, Saint-Rémy. Menjadi tempat cukup setara untuk Alisa kedepannya"
Leonel bergidik ngeri mendengar ucapan Bram, dia tidak bisa menghalangi nya sama sekali. Kejahatan dari Alisa jelas cukup setimpal ketika mendapat kan hukuman seperti itu.
Bram telah sampai pada titik kesabaran nya.
"Dia sebentar lagi akan tiba di sana, perempuan tersebut sudah hampir masuk pada fase dimana dia mulai bingung dengan keadaan nya, Bram"
*****
Apartment utama Bram
Begitu suara alarm berdering memekakkan telinga semua penghuni apartemen mewah tersebut, seketika semua orang berlarian dengan gelagapan bergerak menuju ke lantai atas.
Bram berjalan dengan tergesa-gesa masuk ke dalam sebuah kamar mendominasi berwarna putih, bola matanya menyiratkan sebuah kesedihan, wajahnya bahkan menyiratkan sebuah ketakutan, ekspresi panik begitu kentara diberikan oleh laki-laki itu kepada semua orang.
__ADS_1
Begitu masuk ke dalam kamar yang ada di hadapannya, seketika Bram langsung bergerak mendekati kasur yang ditempati oleh satu sosok tubuh tak berdaya di atas nya.
Beberapa tim dokter mencoba memberikan pertolongan mereka, suara berisik dari layar monitor mengganggu pendengaran nya.
Laki-laki tersebut ingin maju dan mencoba untuk ikut memberikan bola bantuan pada sosok perempuan yang tak lain adalah Marina, tapi seorang perempuan dengan cepat menahan lengan nya sembari menggelengkan kepalanya.
"No Bram, kau tidak mungkin bisa melakukannya, serahkan pada tim dokter mereka yang akan bekerja dan mengurus semuanya"
Ucap perempuan itu cepat.
Bram terlihat diam, dia gusar dan tidak berdaya, hanya mampu memejamkan sejenak bola matanya kemudian laki-laki tersebut pada akhirnya langsung menyingkir dari sana.
Berapa kali dia tahu dokter berkata agar dirinya menyerah soal Marina, beberapa kali selang-selang yang menempel di tubuh perempuan itu minta agar segera dilepaskan karena mereka pikir mungkin sudah tidak memiliki harapan lagi untuk Marina melihat kondisinya yang jelas tidak tergolong baik-baik saja.
Bram bergerak menjauh dari sana dengan berbagai macam kemungkinan yang tidak bisa dipahami, jutaan kekhawatiran menghantam dirinya.
Perempuan disamping nya terlihat duduk di samping Bram, sesekali melirik kearah Bram dan mencoba untuk menenangkan laki-laki tersebut.
Bola matanya terus menatap ke arah depannya di mana para tim dokter terus mencoba untuk melakukan pertolongan, Jutaan kekhawatiran menerjang laki-laki tersebut.
Jangan lagi.
Itu menjadi harapannya saat ini.
Dia sudah tidak sanggup lagi melihat perempuan tersebut bertaruh dengan nyawanya.
Entah berapa lama waktu dia menunggu, dimana bola matanya tak sanggup ia lepaskan dari sosok Marina, beberapa tim dokter terus bertarung untuk melakukan penyelamatan pada perempuan tersebut di mana garis detak jantung pada layar monitor terus berjalan dengan tidak teratur.
Apakah Bram harus lari dari sana saat ini?, Mencoba untuk menenangkan pikirannya?.
Dia jelas tidak ingin melakukannya karena dia takut melepaskan pandangan dari perempuan itu akan membuat satu penyesalan tersendiri untuk dirinya.
Dia belum siap untuk melepaskan Marina.
Meskipun dia tahu beberapa kali dokter berkata agar dia bersiap diri untuk melepaskan segala macam selang yang ada di tubuh perempuan tersebut.
Hingga pada akhirnya masa kritis itu lewat juga, salah satu dokter menatap ke arahnya dengan tatapan yang sulit dijelaskan.
"Bagaimana?"
Bram langsung berdiri dari posisi duduknya, mendekati laki-laki dengan rambut yang telah memutih tersebut dengan cepat.
Laki-laki berpakaian serba putih tersebut terlihat diam, dia menatap wajah dihadapan nya untuk beberapa waktu.
"Apa hal buruk terjadi pada istri ku?"
Tanya nya lagi kemudian dengan wajah penuh kekhawatiran.
__ADS_1