
Kamar utama Gea
Setelah melewati sesi panas bersama cukup panjang, pada akhirnya Gea memilih untuk pergi membersihkan diri bersama Darrel, memastikan jika sisa cairan panas dan juga hangat sisa pergumulan mereka berdua tadi telah menghilang disapu oleh air.
Meskipun tidak dipungkiri terkadang Darrel menggodanya di kamar mandi, tapi sepertinya laki-laki itu tahu jika dia cukup kelelahan dengan sesi percintaan dua ronde lebih mereka.
Laki-laki tersebut hanya mencoba menggodanya dan sesekali mengajak Gea bercanda, namun laki-laki tersebut dengan penuh perhatian membantu memandikan dan membersihkan tubuh Gea, memperlakukan perempuan tersebut dengan cara yang begitu manis.
Hingga membuat putrinya selalu merasa dia benar-benar diperlakukan seperti tuan putri oleh daddy nya.
Cukup lama mereka berada di kamar mandi hingga akhirnya setelah itu mereka memilih untuk langsung beranjak dari kamar mandi dan mengganti pakaian mereka.
"Sebaiknya kita turun untuk mendapatkan makan malam lebih dulu, setelah itu kamu baru pergi beristirahat"
Darrel bicara cepat ke arah Gea tidak ingin putrinya tersebut langsung naik ke tempat tidur dan memilih untuk mengistirahatkan diri.
Dia takut perempuan tersebut kelaparan.
"Dad aku bukannya baru pergi makan dengan Grandpa Vier? Aku sama sekali tidak lapar saat ini"
Gea menjawab dengan cepat, mencoba meyakinkan diri jika dia sama sekali tidak lapar saat ini melainkan merasa begitu kelelahan karena saksi percintaan panjang mereka tadi.
"Tapi baby"
"Aku serius daddy"
Ucap Gea lagi.
"Benar tidak lapar?"
Laki-laki itu kembali mencoba menyakinkan Gea,dia baru saja selesai menggunakan pakaiannya, sembari Darrel bertanya dengan tatapan sedikit khawatir, dia tidak ingin Gea merasa lapar saat ini.
"Tentu saja daddy jangan khawatir soal apapun, aku benar-benar Masih merasa kenyang"
Gea kembali meyakinkan laki-laki yang ada di hadapannya tersebut.
Pada akhirnya Darrel mengalah dan membiarkan dia langsung pergi beristirahat tanpa mendapatkan kembali makan malamnya meskipun tidak dipungkiri dari cukup khawatir karena sesi percintaan panjang mereka menyebabkan perempuan tersebut kelaparan karena apa yang mereka lakukan jelas sangat menguras tenaga.
Pada akhirnya bisa dia lihat dia secara perlahan naik ke atas tempat tidur dan langsung membaringkan tubuhnya di sana, memilih mengistirahatkan diri tanpa peduli lagi dengan apapun di sekitarnya.
Melihat Gea yang tampak kelelahan dan mulai terlelap, Darrel secara perlahan membenahi posisi kepala perempuan tersebut agar naik ke lengan kiri nya.
Dia membiarkan perempuan tersebut terlelap di lengannya dan masuk ke dalam dada bidangnya.
Bahkan secara perlahan tangan kanan Darrel mengelus lembut puncak kepala Gea.
laki-laki tersebut tidak bergeming untuk waktu yang cukup lama, dia membiarkan perempuan tersebut sungguh-sungguh terlelap dan benar-benar tenggelam dalam tidurnya, karena dia tahu Gea pasti benar-benar merasa kelelahan saat ini.
Di tengah lelapnya Gea, Darrel sendiri tampak berpikir untuk waktu yang cukup lama, dia pikir tidak mudah saat ini untuk melewati hubungan mereka.
Hubungan terbaik mereka jelas akan sangat sulit untuk berjalan ke depannya mengingat bagaimana watak daddy nya dan juga Vier saat ini, bisa dia yakini untuk Restu mereka akan sangat sulit sekali untuk di kantongi.
Rasanya kepala laki-laki itu ingin pecah saat ini juga bagaimana rumitnya hubungan mereka belum lagi dia harus menyelesaikan soal Alisa, dari laris menyingkirkan perempuan itu secepatnya sebelum hal menjadi semakin kacau karena keadaan.
Dia harus mempercepat rencananya untuk membuatnya perempuan tersebut lari dari kehidupan mereka.
Pada akhirnya Darrel tampak mencoba Memijat-mijat keningnya untuk beberapa waktu,laki-laki tersebut menguap beberapa kali sembari bola matanya mengeluarkan air mata nya secara perlahan.
Laki-laki tersebut menepis rasa kantuk nya malam ini, mengingat ada banyak sekali hal yang harus dikerjakan saat ini karena besok dia harus menyelesaikan satu urusan penting diperusahaan.
sekali lagi Darrel menguap, sejenak dia membenahi selimut di tubuh Gea untuk beberapa waktu, memastikan putri kecil nya tersebut tidak merasa kedinginan.
setelah menyakinkan diri Gea benar-benar terlelap dalam tidurnya, Darrel bergerak secara perlahan membenahi posisi Gea, kemudian laki-laki tersebut beranjak turun dari kasur Tersebut dengan gerakan yang begitu hati-hati karena takut membangunkan perempuan tersebut saat ini.
Darrel melangkah mendekati meja nakas, dia meraih handphone nya, sebungkus rokok serta sebuah pamatik di atas meja tersebut, kemudian laki-laki itu mulai bergerak mendekati pacar jendela besar yang ada di sisi kiri dimana ranjang nya berada, dia membuka jendela tersebut secara perlahan kemudian bergerak keluar menuju ke arah teras kamar miliknya tersebut.
namun sebelumnya tidak lupa dia perlahan menutup terlebih dahulu jendela tersebut, karena dia tahu angin malam yang menerpa bisa menembus menuju kedalam kamar dan hal tersebut akan mengusik tidur putri nya.
laki-laki tersebut ini bergerak mendekati pinggiran teras yang menghadap ke arah pusat hamparan Padang rumput luas.
dia meletakkan rokoknya di pinggir bibirnya secara perlahan, kemudian dengan gerakan yang begitu santai Darrel menyalakan pemantiknya dan menyulutkan api pamatik ke ujung rokok nya.
setelah memastikan rokoknya menyala laki-laki tersebut langsung mematikan pamatik nya, kini dengan gerakan yang sangat santai Darrel mulai menyesap rokok miliknya secara perlahan.
Sembari dia menikmati hembusan asap rokok yang mengepul ke udara, laki-laki tersebut kini mulai menatap handphone ditangan nya untuk beberapa waktu, setelah itu dia mencoba menghubungi seseorang secara perlahan.
Menunggu jawaban dari seberang sana dengan cara yang begitu santai.
Cukup lama dia menunggu jawaban, hingga akhirnya tiba-tiba terdengar sahutan suara seorang laki-laki di seberang sana.
"Bagaimana?'
laki-laki tersebut tanpa basa-basi langsung bertanya to the point, dia jelas bukan tipe orang yang harus bertanya panjang lebar soal segala sesuatu sejak dulu.
Darrel diam sejenak, menunggu Jawaban yang terlontar dari seberang sana untuk beberapa waktu.
"Itu Bagus, aku akan menemui nya besok untuk mempercepat rencananya"
lanjut Darrel lagi sembari menaikkan ujung bibirnya.
__ADS_1
Dia kembali berusaha menyesap rokok miliknya untuk beberapa waktu hingga akhirnya tiba-tiba dia mengerutkan keningnya saat dia melihat sebuah mobil memasuki pekarangan mansion nya.
Alisa?!.
Seketika laki-laki tersebut menggerakkan rahangnya saat dia melihat Alisa mulai bergerak turun dari mobil yang dikendarainya.
Apa lagi mau nya?!.
Laki-laki itu bertanya di dalam hatinya sembari dia terus memperhatikan gerakan langkah perempuan tersebut yang mulai masuk ke dalam bensin dengan cara tergesa-gesa.
Darrel sama sekali tidak bergeming, dia tetap bertahan di posisinya untuk waktu yang cukup lama dan mencoba menghabiskan rokoknya untuk beberapa waktu sembari dia meletakkan handphonenya ke atas meja kecil di belakang nya.
Laki-laki tersebut mengetuk-ngetuk Jemari tangan kirinya secara perlahan, seolah-olah dia telah memikirkan soal sesuatu.
Cukup lama sembari dia mencoba untuk menghisap sisa rokok terakhirnya.
****
Di sisi lain.
Alisa terlihat mengeram kesal, dia terus menggedor pintu kamar putrinya, menunggu seseorang membukanya dari dalam sana dimana dia mendapat kabar jika putrinya dan juga Darrel berada di kamar yang sama.
Di tengah perasaannya yang berkacambuk menjadi satu, tiba-tiba pintu kamar putrinya terbuka, bisa dilihat dia yang masih mengantuk sembari mengucek-ngucek bola matanya bertanya ke arah Alisa.
"Mommy?"
Dia bertanya sembari mengerutkan keningnya, mencoba untuk membiasakan bola matanya dari cahaya bola lampu yang ada di hadapannya.
Secara jujur perempuan tersebut masih sangat mengantuk, namun ketukan pintu dan gedoran pintu yang cukup kencang mengejutkan dirinya.
Melihat ekspresi putrinya seketika membuat Alisa mengerutkan keningnya, dia dengan jutaan rasa penasaran mencoba untuk masuk ke kamar putrinya tersebut.
"Apa daddy mu disini?"
Tanya Alisa cepat.
Gea buru-buru menggelengkan kepalanya, dia menatap mommy nya untuk beberapa waktu,. Membiarkan berbuat tersebut masuk ke dalam kamar ya dan mulai menelisik ruangan tersebut.
Seperti kata Gea, Alisa sama sekali tidak menemukan Darrel di sana, perempuan itu mencoba untuk mencari melihat di segala hasil yang ada di kamar tersebut bahkan dia mencoba untuk mengintip di kamar mandi.
Dan dia sama sekali tidak menemukan laki-laki tersebut saat ini.
"Kamu tidur sedikit lebih awal? Apa kamu merasa lelah?"
Alisa kembali bertanya.
"He em, grandpa Vier menjemput dan membàwa ku untuk pergi makan bersama, kami pulang sedikit larut"
Mendengar nama Vier disebutkan, membuat perempuan itu sedikit terkejut.
"Vier?"
"He em, grandpa Vier mommy"
Ucap Gea lagi.
Setelah berkata begitu ya kemudian langsung menguap, dia belanja mendekati kasurnya dengan cepat lantas memilih untuk kembali naik ke atas kasurnya dan membaringkan tubuhnya di sana.
"Mommy sudah cukup lama tidak melihat dia"
Alisa bicara cepat.
"Kapan laki-laki itu kembali?"
"Grandpa bilang baru dalam beberapa Minggu ini"
"Dia tidak mengabari mommy?"
"Itu hal yang biasa, Gea rasa dia juga tidak mengabari semua orang atas kepulangan nya"
Jawab putri nya cepat.
Alisa terlihat diam sejenak, memilih untuk bergerak mendekati putrinya lantas duduk di atas kasur mendominasi berwarna pink tersebut.
"Apa Darrel tahu?"
Dia kemudian bertanya pada putrinya.
"Aku rasa daddy tahu, mom"
Setelah berkata seperti itu dia memilih untuk memeluk bantara gulingnya lantas mencoba untuk menenggelamkan tubuhnya di sana.
Dia pikir dia benar-benar mengantuk saat ini dan tidak sanggup untuk diajak bicara lebih panjang dan lebar oleh mommynya.
"Mom bisakah aku pergi tidur sekarang juga? Aku benar-benar merasa mengantuk"
Ucap dia kemudian lantas dia berusaha untuk memejamkan bola matanya.
Mendengar ucapan putrinya pada akhirnya Alisa menganggukan kepalanya, perempuan itu berniat untuk berdiri dari posisi duduknya dan berinisiatif untuk segera beranjak serta pergi dari sana meninggalkan putrinya Yang merengek dan berkata ingin tidur saat ini juga.
__ADS_1
Namun belum sempat dia benar-benar berdiri dari posisi duduknya tiba-tiba saja dia melihat ada bagian kasur dari putrinya yang tampak basah.
Sejenak hal tersebut membuat Alisa mengerutkan keningnya.
"Apa kamu mengompol di celana? Atau kamu makan di atas kasur?"
Tanya perempuan tersebut kemudian masih menatap sisa cairan di atas kasur untuk beberapa waktu lantas kemudian di melirik ke arah putrinya.
Mendapatkan pertanyaan seperti itu dari mommy nya seketika membuat Gea langsung membuka bola matanya dengan cepat.
"Ya?"
Perempuan itu bertanya sembari mengerutkan keningnya.
"Kasur mu, basah"
Ucap perempuan itu sembari menangkap bola mata putrinya.
Begitu dia melihat ke asal gimana bola mata muminya menetap tadi seketika perempuan itu sedikit terkejut dan membeku.
"Itu..."
Gea langsung tercekat.
Oh no...itu sisa cairan percintaan mereka.
******
Ke sisi lain
Mansion Utama Oxtone.
"Apa kamu tidak merasa aneh pada perubahan sifat Darrel?"
Tuan Oxtone terlihat bicara sembari bertanya ke arah istrinya soal perubahan dari putra mereka.
Laki-laki itu merasa sedikit aneh dengan sifat Darrel, perhatian yang diberikan putranya pada cucunya cukup membuat dia gelisah saat ini.
Mendengar ucapan suaminya seketika membuat nyonya Oxtone menoleh ke arah laki-laki tersebut, dia jelas menatap bingung apa yang terus dioceh oleh laki-laki tua tersebut.
"Sayang kau selalu memandang seseorang dari sudut pandang yang aneh, sangat wajar jika Darrel memberikan perhatian kepada Gea, itu akan memangkas jarak di antara mereka"
Oceh nyonya Oxtone, dia mengirimkan kepalanya sejenak kemudian perempuan tersebut kembali fokus pada kegiatannya memindah makan malam untuk mereka.
"Entahlah tapi aku hanya merasa sedikit gelisah"
Usia laki-laki itu cepat, pada akhirnya dia memilih untuk Diam seribu bahasa mencoba untuk mengambil majalah yang ada di atas meja di belakang sana.
Istri laki-laki tersebut terlihat menggelengkan kepalanya, dia pikir dia tidak memahami apa yang dipikirkan oleh suaminya saat ini.
Darrel terlihat cuek dan masa bodoh kepada Gea, suaminya pasti gelisah marah.
Namun saat Darrel memberikan banyak perhatian kepada cucu mereka, laki-laki itu bahkan menjadi jauh lebih gelisah, dia seolah-olah mencurigai putranya sendiri.
Pada akhirnya karena istrinya berkata dia bersikap aneh saat ini, laki-laki itu kemudian memilih untuk diam, enggan untuk meneruskan ucapannya karena hal itu akan semakin memperberat suasana dan keadaan.
Di tengah keheningan kedua orang tersebut tiba-tiba saja seorang wanita berjalan tergopoh-gopoh dari arah depan.
Itu adalah pelayan kepercayaan mereka, wanita berusia lebih daripada 50 tahun itu membawa sesuatu di tangannya sambil dia bergerak mendekati Nyonya Oxtone.
"Nyonya, tuan"
Wanita itu menundukkan kepalanya.
"Ada apa?"
Nyonya Oxtone tampak mengerutkan keningnya, dia bertanya sembari menatap ke arah wanita yang ada di hadapan itu.
"Seseorang menitipkan amplop ini untuk tuan dan nyonya"
Wanita tersebut bicara dengan cepat kemudian dia menyerahkan amplop yang ada di tangannya kepada tuan Oxtone.
Laki-laki tersebut buru-buru menerimanya sembari menatap ke arah amplop mendominasi berwarna coklat itu.
Tuan Oxtone pada akhirnya menerima sampah coklat itu kemudian membiarkan wanita yang ada di hadapannya itu pergi beranjak menjauhi dirinya.
"Apa itu sesuatu yang cukup penting?"
Nyonya Oxtone bertanya cepat.
Mendapatkan pertanyaan dari istrinya seketika membuat laki-laki itu menaikkan kedua bahunya.
"Aku belum membukanya dan melihatnya"
Jawab laki-laki tersebut asal, dia sengaja membayar kecil
Hingga akhirnya laki-laki tersebut secara perlahan mulai membuka amplop mendominasi berwarna coklat yang ada di tangannya tersebut tepat beberapa waktu saat wanita di hadapannya bergerak menjauhi mereka.
Tangan laki-laki itu membuka dengan cepat amplop nya, sejenak dia masih bingung sebenarnya apa isi apa tersebut.
__ADS_1
Hingga akhirnya saat dia mengeluarkan beberapa lembar kertas, seketika hal tersebut membuat tuan Oxtone mengerutkan keningnya, hingga akhirnya pada detik berikutnya laki-laki tersebut menampilkan ekspresi yang cukup mengerikan untuk semua orang.