
Disisi lain Swiss
Keesokan harinya
Begitu masuk ke sebuah ruangan yang ada di hadapannya seorang perempuan menundukkan kepalanya saat Darrel bergerak melangkah masuk dan mulai melepaskan jaket yang digunakannya.
Perempuan tersebut buru-buru mengambil jaket yang telah dilepaskan oleh Darrel kemudian dia bergerak ke sisi kirinya dan menggantungkan jaket tersebut tepat di sebuah barisan gantungan di mana beberapa barang lainnya tergantung dengan rapi satu persatu di sana.
Darrel menarik kasar nafasnya, dia berjalan menuju ke arah kursi sofa mendominasi berwarna merah menyala, laki-laki tersebut sengaja meletakkan pantatnya di sana secara perlahan kemudian menghempaskan tubuhnya dengan gaya yang begitu kasar namun terkesan santai dan elegan.
Perempuan tadi tampak menundukkan kembali kepalanya, dia langsung segera keluar dari ruangan tersebut dan menutup pintu depan secara perlahan.
Detik berikutnya bisa dilihat Darrel menyambar rokok dan juga pamatik yang ada di atas meja, kemudian secara perlahan laki-laki tersebut mulai menyulut api di atas rokok tersebut di mana dia telah meletakkan rokoknya di pinggir bibirnya.
"Wajahmu terlihat sangat bahagia hari ini"
Suara seorang laki-laki memecah keheningan, dia duduk di kursi yang berbeda tepat di sisi kiri Darrel.
"Apa aku tidak terlihat bahagia selama hidupku?"
Darrel bertanya dengan nada yang sedikit dingin sembari dirinya mulai menghisap rokoknya secara perlahan.
Mendengar jawaban Darrel seketika laki-laki itu mendengus dengan kasar.
"Yeah mungkin kau bahagia, tapi wajahmu tidak pernah menampilkan keceriaan dan kebahagiaan seperti itu, kau persis seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan permen kesukaanmu, bahkan seperti laki-laki yang baru memenangkan lotere besar"
Ucap laki-laki tersebut cepat.
Mendengar ucapan laki-laki itu seketika membuat barrel sedikit mendenguskan nafasnya, dia kembali menghisap rokoknya secara perlahan kemudian menghembuskan dengan cepat ke atas, gumpalan asap terlihat memenuhi ruangan tersebut.
"Aku dengar kau membawa Gea dalam perjalanan kali ini?"
Laki-laki tersebut bertanya, dia menyandarkan tubuhnya di kursi sofa dimana dia duduk, terlihat begitu santai, membiarkan satu tangan nya bermain di bawah bibir nya.
"Kau tidak sedang berpikir untuk bercinta dengan putri mu sendiri bukan?"
Lagi laki-laki tersebut bertanya sambil menatap curiga kearah Darrel.
"Belakangan laki-laki pengusaha kaya Lebih tertarik dengan daun muda, gadis segar, polos dan masih perawan ketimbang perempuan matang dan dewasa yang sudah pandai bermain ganas di atas kasur"
Laki-laki tersebut bicara mengejek, menatap Darrel yang memiliki persoalan dengan hormon testosteron nya, dia tahu laki-laki itu sulit sekali mencapai ******* nya bersama Alisa, bahkan Darrel berkata dia tidak pernah memulai lebih dulu dan tidak memiliki semangat bercinta dengan perempuan tersebut selama pernikahan mereka, hingga beberapa orang mencurigai aktifitas seksual Darrel, banyak yang beranggapan Darrel kurang normal, mengingat dia bukan type celup sana celup sini yang suka jajan sembarangan kesana-kemari.
__ADS_1
Mendengar ucapan laki-laki di sampingnya Darrel langsung menaikkan ujung Alisnya.
"Oh shut up"
Darrel meraih kotak rokok di hadapan nya, melempar kotak rokok tersebut kearah laki-laki tersebut, namun sayangnya dengan catatan laki-laki tersebut mampu menangkap kotak rokok itu dengan tangan kirinya cepat.
Tapppp.
Laki-laki tersebut terkekeh kecil.
"Respon yang kamu berikan semakin membuat ku curigai dengan aktivitas sek
su.al"
"Sialan kau"
Umpat Darrel lagi.
"Jangan bilang kau sedang bermain api dengan putri mu sendiri sialan"
"Aku sedang memikirkan nya"
"Oh shi.t aku serius"
Alih-alih menjawab Darrel langsung membuang pandangannya.
"Katakan pada ku apa berita selanjutnya?"
Darrel melirik ke arah sisi kanannya di mana seorang perempuan tampak duduk santai di sana.
Perempuan tersebut terlihat cuek dia sama sekali tidak peduli dengan obrolan yang dilakukan oleh dua laki-laki di hadapan itu.
"Kita tiba di waktu yang sedikit terlambat, mereka bergerak mendahului kita membawa Marina"
Ucap Perempuan itu cepat.
"Bahkan mereka membawa laki-laki tua itu juga, hanya terlambat sebentar, saling berselisih jalan dimana kami bergerak dari sisi kanan hutan, mereka keluar dari sisi kiri hutan"
Lanjut perempuan itu lagi kemudian.
Mendengar ucapan perempuan tersebut Darrel sama sekali tidak bergeming, laki-laki itu terus menghisap rokoknya sehingga menghabiskannya pada hisapan terakhir, dia mematikan sisa api rokoknya tepat di sebuah asbak kaca yang terletak di atas meja yang ada di hadapannya, dia menekan sisa api rokok tersebut secara perlahan.
__ADS_1
"Kau yakin jika yang mereka bawa adalah Marina?"
Darrel bertanya sembari menatap perempuan yang ada di samping kanannya tersebut, mencoba memastikan sekali lagi jika perempuan itu tidak salah dalam mendapatkan informasi.
"Tentu saja bahkan anak buahmu sudah meyakini nya"
Jawab Perempuan tersebut cepat.
Darrel kembali diam, dia memilih untuk tidak mengeluarkan suaranya saat ini, laki-laki itu memutar sebuah cincin di jari tengahnya sembari dia memejamkan bola matanya untuk beberapa waktu.
"Terus selidiki ke mana mereka akan membawanya, terus bergerak hati-hati karena aku takut Daddy ku bisa membaca pergerakan kalian,belum lagi aku dengar Vier ikut bergerak untuk mencari Marina"
Ucap Darrel tiba-tiba.
Mendengar Darrel menyebut nama Vier, perempuan di sampingnya itu terlihat menoleh ke arah Darrel.
"Kenapa dia ikut bergerak? Apakah ini ada hubungannya dengan cerita buruk kalian di masa lalu?"
Perempuan tersebut bertanya sembari mengerutkan keningnya.
"Kalian tidak tahu? Vier telah bergerak kembali ke Paris sejak semalam"
Laki-laki di sisi kiri Darrel bicara dengan cepat terlihat laki-laki itu kini menarik segelas wine yang ada di hadapannya, secara perlahan laki-laki tersebut mulai menyesap minuman dari gelas bertangkai tinggi tersebut, dia menikmati wine yang ada di tangannya untuk beberapa waktu, menikmati sensasi manis dari minuman berwarna merah tersebut, memastikan dia menegak hingga habis wine ditangan nya.
Mendengar ucapan laki-laki tersebut seketika Darrel langsung menoleh ke arah dirinya.
"Apa?"
Tanya Darrel kemudian.
Alih-alih menjawab ucapan Darrel, laki-laki tersebut kembali berkata.
"Dan aku pikir kau harus hati-hati dengan keadaan, jika hasil tes nya keluar dan apa yang menjadi kecurigaan besar saat ini benar terjadi, aku yakin Vier akan membunuh mu Tanpa berpikir dua tiga kali jika kau berani menggoda Gea"
Lanjut nya lagi Sembari menaikkan ujung bibirnya.
"Aku harap kau tidak bermain-main dengan Gea, sebab wajah mu menampilkan hasrat dan gelombang gai.rah setiap kali membicarakan soal Gea atau bahkan menatap Gea hingga sejauh ini"
Dan saat laki-laki tersebut berkata begitu, Darrel terlihat mengumpat kesal didalam hati nya.
Sh.it.
__ADS_1
******