Semalam Dengan Papa Mu

Semalam Dengan Papa Mu
Chapter 41


__ADS_3

Pada masa sekarang


Di sisi lain


Silsila berjalan terseok-seok dan tertatih-tatih menjauhi tempat yang dia anggap penjara yang membelenggu dia selama ini, pikiran nya saat ini adalah dia harus segera pergi dengan cepat tersebut dan tidak akan pernah kembali lagi kesana dalam seumur hidupnya.


Sejenak Perempuan tersebut mencoba menetralisir rasa lelah karena usaha mati-matian nya untuk melarikan diri dari tempat yang membelenggunya nya tersebut, dia mencoba bersandar pada pohon kayu di bagian hutan tersebut untuk beberapa waktu.


Silsila menyandarkan diri sambil memejamkan sejenak bola matanya, mengingat peristiwa dimasa lalu yang menghancurkan semua cita-cita dan kehidupan diri nya dan Marina.


****


Kembali ke masa lalu


Tubuh Silsila bergetar saat dia melihat dirinya yang tidak menggunakan sehelai benang pun terjaga bersama seorang laki-laki disamping nya.


Bola mata Perempuan tersebut berkaca-kaca saat dia sadar bukan Darrel yang tidur bersama nya.


Efek semalam dimana dia terlalu banyak minum menyeret nya pada malam panas dengan orang yang salah, bayangkan bagaimana perasaan Silsila jika yang tidur dengan nya saat ini adalah paman dari kekasihnya sendiri yaitu Vier.


No.... tidak mungkin!.


Tangis nya seketika pecah.


Vier yang ikut terjaga dari tidurnya mencoba memegang kepalanya yang terasa akan pecah, dia yang sejak tadi mematung karena keadaan dan tidak mengerti dengan apa yang terjadi mencoba untuk mengingat-ingat kembali kenapa dia dan kekasih Darrel berada di kamar bersama dan berbagi Saliva.


Sisa noda merah masih terlihat jelas di balik spray kasur mendominasi berwarna putih tersebut.


"Seseorang menjebak kita!".


Vier tidak pernah semarah ini, seharusnya saat ini dia sudah berada di san prancisco untuk menuntaskan urusan bisnis perusahaan nya.


Bahkan seharusnya dia mengambil waktu liburan dengan tunangannya sebelum pernikahan mereka bulan depan.


Oh ****.


Vier mengumpat penuh kemarahan.


Ada apa ini?!.


"Paman?!"


"Aku akan mengurus di semua nya, ini hanya kesalahpahaman besar, ini benar-benar kacau"


Vier bicara cepat, menatap netra mata Silsila yang menatap dirinya dengan bibir bergetar.


Dia iba tapi dia tidak bisa bertanggung jawab atas Silsila,dia akan menikah satu setengah bulan lagi dan dia terjebak pada hubungan satu malam dengan calon istri keponakan dari kakak perempuannya.


Bocah itu kekasih Darrel Oxtone, putra dari kakak perempuannya sendiri.


"Sial"


Umpat Vier sembari berdiri dari posisi nya,dia bergerak kasar menuju ke kamar mandi, membersihkan diri nya dengan penuh kemarahan.


Pertanyaan besar nya, siapa yang menjebak dirinya saat ini?!.


Silsila memungut pakaiannya dengan tangan dan tubuh gemetaran, dia menggunakan pakaian nya dengan terburu-buru dan bergerak pergi dengan cepat dari sana.


Dia pikir dia tidak mungkin bertahan di sana lebih lama lagi, jika tidak mungkin dia akan mengalami malu besar yang luar biasa, dia hancur tanpa tahu bagaimana caranya meminta pertanggungjawaban.


Kenapa dia bisa terjebak pada hubungan mengerikan dengan paman Darrel? Siapa yang tega menjebak nya malam tadi hingga berakhir seperti ini?!.


*******


Disisi lainnya lagi.


Alisa muda terlihat menyungging kan senyuman nya, dia menatap seorang perempuan yang tergeletak tidak berdaya tanpa pakaian, sisa noda merah masih melekat di atas spray kasur mendominasi berwarna merah tersebut.


Dua pelayan perempuan mengangkat tubuh perempuan tidak berdaya tersebut setelah menggunakan pakaian nya, Alisa buru-buru melepaskan pakaian nya dan berganti posisi untuk tidur tepat disamping laki-laki yang tengah terlelap tersebut.


Darrel Oxtone.


Sangat sulit sekali melumpuhkan mu dan membuat mu tunduk di bawah kaki ku, kau pikir bisa menikahi seorang babu?!.


Upik abu tidak akan pernah menjadi seorang Cinderella, jadi jangan pernah bermimpi untuk bisa naik menjadi nyonya Oxtone seperti di kisah-kisah drama percintaan dan kisah dongeng Disney yang merupakan tokoh fiksi dan tidak pernah benar-benar terjadi di dunia nyata.


Dia berbaring tepat di samping Darrel, membiarkan tubuh mereka menyatu dengan sempurna, Alisa memeluk laki-laki tersebut yang masih lelap dalam pengaruh obat penenang yang di berikan untuk laki-laki tersebut.


"Kemana kami akan membawa nona Marina?"


Satu perempuan Bertanya kearah Alisa.


"Pergilah ke mobil, dia sudah mengatur semuanya dan tahu akan membawa Marina kemana"


*******


Beberapa hari sebelum kejadian hari itu


Restoran xxxxxxxx

__ADS_1


Pusat kota.


Alisa terlihat duduk dengan santai menghadap ke arah air laut dimana ombak menderu dan bergerak kencang di bawah sana, restoran pinggir laut tersebut menampilkan satu nuansa indah yang bisa membuat siapa saja menatap nya merasa tenang karena suara indah nya.


Perempuan tersebut menikmati masa ini Sembari menyeruput es lemon yang ada di hadapannya.


Dia menunggu seseorang sejak tadi yang akan datang menemui dirinya, cukup lama dia menanti didalam keheningan tanpa suara.


Alisa Fatwaji itu adalah nama nya.


Apa yang dia inginkan dari keluarga Oxtone?!.


Status dan kedudukan dalam keluarga berkuasa Top 3 di dataran Eropa.


Dia membutuhkan Darrel Oxtone untuk menyelamatkan perusahaan ayah nya dan dia tahu tuan Oxtone menjadikan dia sebagai gadis pilihan untuk putra nya karena pengaruh nama kakek nya dimasa lalu.


Awalnya dia pikir mungkin dia tidak akan jatuh cinta pada Darrel Oxtone, tapi rupanya pesona laki-laki tersebut bisa membuat dia jatuh cinta tanpa bisa mencegah nya.


Laki-laki tersebut memang rupawan dan menggoda, namun sayang nya manusia bangsawan itu terlalu bodoh, jatuh cinta pada babu, seorang Upik abu.


Alisa akan memastikan jika Upik abu tidak akan pernah naik menjadi seorang ratu.


Seulas senyuman mengembang dibalik wajah Alisa ketika seorang laki-laki berusia sekitar 43-45 tahunan berjalan mendekati dirinya, dia berdiri dari posisi nya lantas menyambut kedatangan laki-laki tersebut dengan penuh sopan santun nya.


"Jadi kamu adalah putri Fatwaji?"


Tanya laki-laki dihadapan nya tersebut.


"Ya Paman, Oxtone"


Jawab Alisa sambil mengembang kan senyuman nya.


Laki-laki penguasa Oxtone tersebut terlihat mengembangkan senyuman nya, berpikir dia telah menemukan calon menantu paling tepat untuk putra nya.


*******


Beberapa malam sebelum kejadian .


Alisa mencoba beringsut dari posisi nya, dia merasa inti bawah nya seolah-olah habis di cabik-cabik oleh seseorang, ditengah rasa pening yang menderanya dia mencoba menyadarkan dirinya dari keadaan.


Dia pikir semalam dia terlalu banyak minum, berada di ulang tahun teman nya dan menerima ajakan kekasih nya jelas bukan hal yang baik untuk nya, dia seperti nya Terjebak pada situasi yang tidak menguntungkan.


Bola mata Alisa seketika terbuka, dia menatap Bram muda yang terbaring tepat disampingnya dimana laki-laki tersebut masih terlelap didalam tidurnya dan...


Oh ****.


Alisa berteriak histeris, suara melengking nya memecah kesunyian pagi.


"Apa kau gila? Kau meniduri ku tanpa izin...sialan aku bilang biarkan Darrel lebih dulu yang melakukan nya"


Dia jelas gelagapan, bagaimana bisa Bram memporak-porandakan keperawanan nya dikala dia berkata dia akan memberikan nya pada Darrel setelah pernikahan dan akan tetap bertahan dengan Bram dan berjanji akan memberikan seluruh hidupnya pada laki-laki tersebut setelah dia menikah dengan Darrel.


"Kau mengacaukan semuanya"


"Oh come honey, nilai keperawanan tidak ada artinya, kau bisa membohongi sinl bodoh itu dengan otak licik mu, cukup menipu nya dan bermain sedikit sandiwara"


Bisa-bisa nya Bram menjawab ucapan nya dengan nada yang begitu santai dan seperti tanpa dosa.


"Kau pikir aku bisa mengulang melakukan nya dengan Darrel? Kau pikir dia bodoh tidak bisa membedakan mana darah perawan dan mana tidak? Laki-laki jaman sekarang tidak sebodoh laki-laki jaman dulu brengsek"


Umpat Alisa penuh kekesalan.


"Bukankah kau memiliki Marina? Kau bisa menukar peran sementara mu dengan saudara tiri mu, setelah itu menjebak Upik abu, kau bisa masuk ke dalam kehidupan Darrel dengan cara aman, bukankah tuan Oxtone hanya butuh penerus kerajaan Oxtone? Anak siapapun dia kita tidak perlu memikirkan nya"


*******


Kembali ke kejadian pagi itu.


Darrel berusaha untuk memijat kepalanya beberapa waktu, rasa berat dan juga sakit menghantam kepalanya, dia pikir Ada apa dengan dirinya, seolah-olah seluruh tubuhnya remuk menjadi satu karena habis bekerja dengan sangat keras.


Darrel mencoba untuk membuka bola matanya secara perlahan, di tengah rasa sakit yang melanda kepalanya.


Entah apa yang ada di dalam pikirannya saat ini, samar-samar dia mencoba mengingat, rasanya semalam dia ada bersama dengan dua perempuan.


Silsila dan Marina.


Silsila?!.


Yah dimana Silsila?!.


Seketika Darrel membulatkan bola matanya, dia mencoba bangun dari tidur nya tapi alangkah terkejutnya dirinya saat dia sadar jika ada seseorang yang tengah menangis terisak di sampingnya.


Darrel terbelalak kaget saat dia menoleh ke arah sisi kirinya tersebut.


"Alisa?"


Seketika laki-laki tersebut tercekat.


*********

__ADS_1


Satu bulan ½ setelah kejadian itu.


Silsila menatap alat tes kehamilan ditandangan nya dengan dada bergemuruh dan bahu bergetar, seketika bola mata nya berkaca-kaca, dia mulai meneteskan air mata nya.


Dua garis merah terpampang jelas di dalam benda pipih tersebut, seketika Silsila menyentuh lembut perutnya.


Ada kehidupan baru didalam sana.


Ini seperti mimpi paling buruk didalam hidup nya.


Dia pikir apa yang harus dia lakukan saat ini? Kembali pada Darrel atau menemui Vier?.


Silsila menggigit bibir bawahnya,dia tahu dia tidak pantas menemui kedua-duanya dimana dia tahu dia telah memutuskan Darrel dengan dalih sudah memiliki seorang kekasih.


Bahkan dia juga memilih tidak mengacaukan kehidupan Vier yang jelas akan menikah malam ini dengan tunangannya.


Siapa yang harus dia hubungi sekarang?! Siapa yang bisa dia mintai bantuan saat ini?!.


Seharusnya dia mendengar kan ucapan ayah nya kemarin.


Kita hanya orang miskin yang tidak mungkin bisa masuk ke kasta kalangan atas, jangan terlalu jauh bermimpi, Silsila.


Buanglah impian mu jauh-jauh, orang kaya tetaplah orang kaya, mereka tidak akan pernah memandang kita bagaimana pun caranya.


Sejak awal dia seharusnya tidak terlibat dengan keluarga Oxtone, padahal ayah dan ibu Darrel bahkan pernah memperingati dirinya.


"Berapa harga mu?"


Wanita muda dengan penampilan elegan tersebut bicara dengan nada pongah, menata kearah dirinya dengan tatapan begitu mengerikan.


"Orang miskin hanya butuh uang untuk bertahan, kau bisa menyebutkan berapa harga mu dan aku akan membayar nya"


Kala itu mereka duduk di sebuah restoran xxxxxxxx pusat kota, dia yang berpakaian sederhana sangat tidak pantas berada di sana dan berhadapan dengan seorang nyonya muda cantik dan elegan.


"Kau tahu? Suami ku telah memilih seorang gadis muda untuk Darrel, Alisa jelas sepadan menikah dengan Darrel dibandingkan kamu, dia berpendidikan tinggi, mengerti bisnis, ayah nya seorang pengusaha, kakek nya memilih nama baik hingga hari ini, dia bahkan tahu bagaimana berhadapan dengan orang-orang yang setara dari kalangan atas jadi untuk membuat kamu menggantikan posisi Alisa sangat tidak mungkin, aku harap kamu cukup tahu diri"


Silsila menggigit bibir bawahnya, dia menundukkan kepalanya dengan perasaan hancur dan malu.


"Berhentilah menemui Darrel, jika tidak aku akan memilih mengakhiri hidup ku sendiri hingga semua dunia akan menyalahkan kamu atas kematian ku"


"Bibi .."


"Aku bukan bibi mu"


Tatapan sinis tersebut menghujam jantung Silsila, dia menelan kasar salivanya.


Yah seharusnya dia cukup tahu diri karena itu memilih menyerah dan kini terbelenggu dan terjebak dalam kehancuran hidup nya.


Silsila menggenggam gemetaran alat tes kehamilan di tangan nya, samar-samar dia mendengar suara televisi yang mengumumkan acara pernikahan penerus perusahaan MAXIMA COMPANY yang akan di selenggarakan dalam beberapa jam kedepan.


Vier, laki-laki itu akan melepas masa lajangnya pada hari ini juga.


Seketika tangis silsilah pecah didalam keheningan didalam kamar mandi dimana dia duduk kini.


*****


Kembali ke masa kini


Silsila membuka bola matanya dengan cepat, membuang semua kenangan yang ada di ingatan nya, dia mencoba kembali menyeret langkah nya agar segera menjauh dari neraka untuk nya.


Alisa setelah menghancurkan kehidupan nya, perempuan mengerikan itu bahkan mengurung nya dan mengambil putri nya.


Apa yang diinginkan Perempuan itu dari dirinya dia sama sekali tidak tahu, dia yang awal nya hidup baik-baik saja setelah pergi menjauh dari keluarga Oxtone dan Maxima tiba-tiba harus bertemu dengan Alisa, dimana Perempuan tersebut menculik dirinya dan memisahkan dia dan bayinya.


Silsila terus berusaha menyeret langkah nya, berjalan tanpa berani menoleh kearah belakang, ingin berusaha berlarian tapi tidak berhasil karena tubuhnya masih terasa mati langkah.


Sejenak Silsila membeku saat dia merasa ada yang mengejar langkah nya, perempuan tersebut mempercepat gerakan nya dalam jutaan ketakutan nya, semakin cepat dia melangkah semakin cepat seseorang mengejar nya, dan ditengah keadaan takut serta panik nya tiba-tiba seseorang menarik lengannya dengan cepat.


"No....please ...no...."


Seketika Silsila berteriak histeris, dia sudah tidak ingin lagi berada dalam genggaman tangan Perempuan tersebut.


Kehidupan nya tidak pernah baik-baik saja, seolah-olah dirinya adalah ancaman besar untuk Alisa.


Silsila ingin bebas, dia ingin keluar dari neraka jahanam yang membelenggu diri nya, dia ingin lepas dari rantai api yang mengunci seluruh tubuhnya, dia lelah bahkan hampir gila.


Dia benar-benar tidak ingin lagi berada didalam genggaman Alisa.


Perempuan tersebut bagi nya sudah gila.


"Silsila"


Satu suara seketika mengejutkan dirinya, sosok tersebut berusaha terus menggenggam erat dirinya, memaksa nya agar tidak histeris dan memberontak.


"Ini aku"


Dia bicara cepat, berusaha menenangkan perempuan dihadapannya.


Bola mata Silsila membulat dengan sempurna saat dia melihat siapa sosok yang kini berada di hadapannya.

__ADS_1


__ADS_2