
Restauran xxxxxxx.
Gea terlihat turun dengan cepat dari mobil Vier, agak bingung karena laki-laki tersebut membawa nya ke restauran xxxxxxx dihadapan nya tersebut.
"Kita akan makan Grandpa?"
Tanya Gea cepat.
"He em"
Jawab Vier cepat.
Gea terlihat senang, buru-buru dia berlarian cepat kearah depan, bergerak lincah masuk ke pintu masuk lebih dulu mendahului Vier yang bergerak dibelakang nya.
Laki-laki tersebut menatap kearah atas, memastikan jika semua akan berjalan sesuai dengan rencana nya, dia sejenak menghela pelan nafasnya.
"Grandpa apa aku boleh memesan apapun yang aku sukai?"
Gea bertanya cepat, sedikit berteriak sambil menunggu di pintu masuk, bergerak kesana kemari dengan lincah untuk beberapa waktu kemudian kembali diam dan menunggu.
"Kamu bisa memesan sesuka hati mu sayang"
Vier menjawab sambil mengembangkan senyuman nya, menatap dalam wajah Gea yang kini terlihat begitu bahagia.
Laki-laki tersebut pikir dari mana sebenarnya dia harus memulainya, semua terasa begitu berat.
Dia ingat bagaimana percakapan nya dengan Silsila hari itu.
"Dan katakan pada ku, apakah bayi yang di bawa Alisa adalah putri kita?"
Vier bertanya sambil menyentuh lembut pipinya.
Silsila terlihat diam mematung, menatap balik Vier sembari dia meremas pelan telapak tangan nya.
"Jangan berbohong lagi Silsila, tidak ada orang yang harus kau lindungi saat ini, aku menunggu mu lebih dari 17 tahun hanya untuk mendapatkan mu dan anak kita yang kamu sembunyikan dari ku"
Silsila terlihat bergetar, bisa dilihat dia mulai meneteskan air matanya secara perlahan, menatap Vier tanpa mengedipkan bola matanya.
"Katakan pada ku, Silsila"
Vier terus menatap Silsila, menunggu dengan perasaan berdebar-debar, entah apa yang dia harapkan dari jawaban Silsila, nyatanya apapun jawaban nya dia akan menerima nya dengan penuh kebahagiaan.
Firasat dan insting nya terus bermain dan berkata, Gea adalah putri nya.
Karena itu dia sering mondar-mandir membawa anak itu di masa lalu, meskipun dia tahu Alisa selalu gelisah dia membawa putrinya, Vier tidak pernah benar-benar peduli.
sebagai seorang Ayah insting untuk melindungi putri tercintanya bakalan lebih kuat, bahkan seorang ayah tidak bakal rela kalau putrinya dekat dengan seseorang yang salah.
Dia sering mengingatkan Gea agar tidak salah berhubungan dengan seseorang, mencoba bertanya setiap kali mereka bertemu, bahkan seringkali mencoba memperingati Gea soal teman-teman nya.
Meskipun aneh dia tidur pernah mencurigai perasaan nya sendiri, mommy nya seringkali mendesaknya untuk menikah setiap kali melihat Vier dekat dengan Gea.
"Kau sudah siap untuk menimang anak Vier,kau sudah pantas menjadi seorang ayah"
Dan dia selalu menghindar setiap kali mommy nya membahas soal perempuan dan pernikahan.
"Maaf kan aku Vier"
Ucap Silsila pelan.
"Tidak ada yang perlu di maafkan, Silsila"
Ucap Vier menyakinkan Silsila.
"Aku tidak bermaksud menyembunyikan nya"
Suara nya terlihat bergetar, air mata nya terus tumpah.
"Kita bisa mendiskusikan nya di masa lalu, kenapa pergi menanggung nya sendiri?"
Mendengar ucapan Vier, Perempuan tersebut menggigit bibir bawahnya.
"Aku takut menghancurkan pernikahan paman"
mendengar ucapan Silsila, Vier terlihat diam.
Pada akhirnya pernikahan nya tetap hancur, dia tidak benar-benar menikah dan memutuskan untuk tidak hadir di hari pernikahan mereka.
Dunia nya kacau balau dan terbalik, mencari Silsila pontang-panting tanpa kepastian.
"Itu pemikiran yang terlalu simple"
Jawab Vier pelan.
"Aku cukup sadar diri dengan status ku paman, karena itu aku tidak bisa kembali dan bicara dengan paman, maafkan aku"
"Ini bukan tentang status kelas atas dan bawah, ini tentang bentuk pertanggungjawaban Alisa"
__ADS_1
"Aku tidak harus memaksa paman melakukan nya, sejak awal paman sudah bilang pada ku bukan? Ini satu kesalahan?"
Silsila seketika menatap dalam bola mata Vier, berharap laki-laki tersebut ingat apa yang dia ucapkan pagi itu.
Vier langsung menelan salivanya.
"Aku dalam kondisi bingung, bicara diluar kapasitas ku"
Ucap vier pelan.
"Tapi kata-kata itu cukup membuat ku Sadar, aku ini siapa"
"Silsila..."
Seketika perempuan tersebut menundukkan kepalanya.
Laki-laki tersebut diam sejenak, dia menatap tangan Silsila yang terlihat gemetaran, secara perlahan laki-laki tersebut menyentuh lembut tangan perempuan tersebut, dia kemudian berusaha untuk duduk, menjengukkan dirinya secara perlahan dan membiarkan tubuhnya ditopang oleh kedua kakinya.
Bola mata laki-laki itu kini menetapkan kearah Silsila yang menunduk, dia membiarkan tangan kanan nya menyentuh dagu perempuan tersebut, meminta nya menatap kearah Vier dengan serius.
"Mari lupakan soal masa lalu dan membuka lembaran baru"
Vier bicara kembali secara perlahan.
"Katakan pada ku, apakah anak yang dibawa Silsila adalah putri kita?"
Tanya Vier begitu perlahan.
Silsila menatap wajah Vier dengan tangan dan bibir masih bergetar.
"Dia seorang putri?"
Tanya Silsila pelan.
Vier menganggukkan kepalanya.
"Aku bahkan tidak diizinkan untuk melihat nya setelah melahirkan nya"
Lagi perempuan itu menangis membiarkan air matanya jatuh membasahi kedua belah pipi cantik nya.
Dia ingat bagaimana kejamnya Alisa kepada dirinya, begitu anak itu lahir Alisa langsung membawanya pergi tanpa perasaan, bahkan dia tidak diizinkan untuk memeluk atau menciumnya, perempuan itu merampas hak dirinya untuk menjadi seorang ibu dari anaknya sendiri, bayangkan bagaimana
terlukanya Silsila saat itu.
Bahkan dia hanya mendengar sebentar tangisan bayinya, dia bahkan tidak diizinkan untuk menyentuh sedikit saja tangannya.
9 bulan dia berjuang, lalu perjuangan nya di rampas dengan kejam oleh perempuan berhati iblis tersebut.
Vier terlihat mengeram, api kemarahan tersirat dari balik bola matanya, gemuruh dada laki-laki tersebut seolah-olah nyaris tidak bisa dikendalikan.
"Kau benar-benar ingin cari mati"
Geram laki-laki itu kemudian.
Alisa, apa yang akan aku berikan pelajaran untuk mu atas keserakahan mu saat ini?!.
"Grandpa? Grandpa...?"
Suara Gea mengejutkan Vier, laki-laki tersebut seketika tersadar diri ingatannya, dia menatap kearah Gea yang kini menggandeng tangannya.
"Kita akan duduk di mana?"
Perempuan itu bertanya dengan tidak sabaran membawa laki-laki tersebut agar berjalan ke arah depan, dua pelayan terlihat menundukkan kepala mereka begitu mereka masuk dari pintu depan restoran tersebut.
"Kita akan duduk di lantai atas"
Vier menjawab cepat.
Membawa langkah Gea sambil melebarkan senyuman nya, sesekali Membiarkan perempuan kecil itu bertingkat selayak nya anak-anak seusia Gea.
Begitu tiba di lantai atas, sejenak bola mata Gea menatap kearah Vier, dia mengerjapkan bola mata polos, kemudian menatap seorang perempuan seusia mommy nya.
Jika mommy nya berwajah sedikit culas dengan alis mata menukik tajam, perempuan ini kalem dan tenang, wajah nya terlihat sendu dan penuh kepedihan, bola mata wanita itu menatap Gea dan Vier secara bergantian.
Gea sejenak mengerutkan keningnya.
Dia pikir bukankah mereka sedikit mirip?!.
Beberapa hal terlihat cukup mirip.
"Kau sudah tiba?"
Perempuan itu bertanya sambil berdiri dari posisi duduknya.
"Yah kami sudah datang, sayang duduk berikan salam dan ciuman mu pada Silsila"
Vier melirik ke arah Gea, membiarkan perempuan tersebut untuk memberikan salam terbaik dan pelukan terbaik nya.
__ADS_1
"Ahhhh apakah dia calon Grandma ku? Aku suka dia dari pada Clara"
Gea terlihat begitu berterus-terang, dia kurang suka pada tunangan Grandpa nya yang bernama Clara, meskipun sebenarnya Clara tidak begitu buruk,tapi hati nya menolak saat Grandpa nya memperkenalkan mereka dulu, seolah-olah perempuan itu ingin merampas Grandpa nya dan tidak akan mengembalikan nya kepada dirinya.
Alih-alih menjawab, Vier lebih suka mengembangkan senyuman nya.
"Aku sudah bisa menebak nya"
Gea bicara penuh semangat, memeluk Silsila senang dengan cepat.
Bayangkan bagaimana jantung nya bergemuruh saat dia memeluk perempuan asing tersebut? Rasanya cukup aneh dan... Ah entahlah.
Seolah-olah ada satu ikatan batin yang tidak bisa dia pahami di antara mereka, rasanya seolah-olah mereka adalah satu kepingan hati yang terpisah menjadi dua.
Gea pikir mungkin ini hanya perasaan salah karena dia merasa bahagia paman Vier nya telah mendapatkan kekasih pilihannya.
Begitu dia melepaskan pelukannya bisa dilihat perempuan di hadapannya itu menatapnya dengan bola mata berkaca-kaca.
"Grandma, anda baik-baik saja?"
Gea bertanya pelan dan serba Salah.
Perempuan itu buru-buru menggelengkan kepalanya, dan membawa Gea agar duduk tepat di sampingnya.
"Apa kah dia?"
Perempuan itu bertanya, menatap vier untuk beberapa waktu.
Laki-laki tersebut mengganggukan kepalanya pelan.
"Oh .."
Silsila mencoba menahan tangisnya, dia kembali memeluk Gea yang terlihat bingung dengan keadaan.
Seolah-olah larut dalam pemikiran dan keadaan, Gea membiarkan Perempuan tersebut terus memeluk nya sembari menangis lirih.
"Grandma?"
******
Lewat ½ jam setelah keadaan mencair.
"Aku akan memesan makanan nya"
Ucap Gea kemudian, mencatat daftar menu yang dia inginkan dengan cepat.
Silsila menganggukan kepalanya, menatap Gea sembari mencoba menetralisir perasaan nya, Vier bilang mereka tidak bisa langsung memaksa Gea untuk mengetahui kenyataan, anak itu pasti butuh waktu untuk belajar menyesuaikan diri dan menerima kenyataan.
Dia dan vier tidak mungkin menjadi egois.
Apalagi mereka harus menjelaskan secara perlahan soal segalanya, membuka kedok Alisa cepat atau lambat dan menyakinkan semua orang soal Gea.
Entah berapa lama mereka melakukan nya secara bergantian hingga akhirnya mereka meminta pelayan untuk menyiapkan nya.
Cukup lama mereka menunggu hingga akhirnya tiba-tiba Paman nya bertanya.
"Katakan pada ku soal Darrel"
Ucap vier kemudian.
"Apakah dia berlaku buruk pada mu?"
Laki-laki tersebut bertanya sembari menatap dalam bola mata Gea.
Mendapatkan pertanyaan seperti itu membuat perempuan itu sedikit menggarukkan kepalanya, dia pikir ini menjadi pertanyaan yang cukup sulit untuk dijawab oleh dirinya.
"Daddy begitu baik pada ku"
Ucap Gea pelan.
Vier terlihat menganggukkan kepalanya.
"Apa dia pernah berbuat kasar pada mu?"
Gea kembali menggelengkan kepalanya.
"Dia membawa mu liburan kemarin?"
Lagi Gea menganggukkan kepalanya, entah kenapa dia merasa seperti sedang di interogasi oleh orang tua nya sendiri, merasa khawatir dan takut jika ketahuan sudah berbuat salah, seolah-olah Vier Bertanya seperti laki-laki tersebut adalah daddy nya.
Gea terlihat khawatir, meremas telapak tangan nya dengan cemas.
"Vier... jangan seperti itu"
Silsila bicara mengingatkan Vier, dia menggelengkan kepalanya.
Entahlah Vier hanya merasa firasat nya tidak baik-baik saja soal Gea dan Darrel.
__ADS_1
"Jika Grandpa meminta mu tinggal dengan grandpa dan grandma, apakah kamu akan keberatan?"
Lagi laki-laki tersebut bertanya, membuat Gea semakin khawatir di buat nya.