
Kembali ke masa lalu
Mansion utama Conte
Kamar utama Gibran
Lewat tengah malam
Laki-laki tersebut seketika menarik sebuah pistol di bawah bantal tempat dia tidur, setelah kemarin dia mengurungkan niat nya untuk menghabisi Conte, malam ini Gibran pikir dia harus berhasil memusnahkan laki-laki tersebut.
Sebenarnya dia tidak pernah berpikir ingin menghabisi nyawa laki-laki itu, tapi setelah dia tahu Conte hampir memperkosa Eliza, puncak kemarahan Gibran semakin memanas.
Laki-laki itu benar-benar membangun kan sisi gelap dalam dirinya.
Bola mata Gibran seketika menggelap, ekspresi wajahnya terlihat begitu suram dan mengerikan, dia meraih pistol yang ada di hadapannya nya dan secara perlahan meletakkan nya ke belakang punggung nya.
Dia mulai membalikkan tubuhnya, berniat beranjak dari sana namun sebuah tangan Mencoba untuk menghentikannya.
Mommy nya mencoba menahan langkah Gibran sembari menggelengkan kepalanya, tangan wanita itu terlihat sedikit gemetaran, bayangkan ibu mana yang rela melihat putra putri mereka kehilangan masa depan karena kesalahan orang dewasa.
Bola mata wanita tersebut terlihat berkaca-kaca, dia mencoba terus menahan tubuh Gibran agar tidak melangkah lebih jauh ke depan.
laki-laki tersebut buru-buru meraih tangan Mommy nya, dia menggelengkan kepalanya secara perlahan sembari memindahkan kedua telapak tangannya ke arah wajah wanita yang ada di hadapannya tersebut.
"Kita tidak mungkin membiarkan kejahatan seperti ini terus berlanjut bukan, mom?"
Tanya Gibran pelan.
"karena tidak ada seperti inilah gimana orang-orang berkuasa selalu bisa melumpuhkan orang-orang lemah, pada akhirnya kejahatan di muka bumi ini semakin lama semakin merajalela"
Ucap Gibran pelan.
__ADS_1
"ini Realita mom, ketika hukum tumpul ke bawah, para orang-orang besar bisa seenak hati menggunakan uang mereka, kita yang harus menyelesaikan semuanya"
Tambah Gibran lagi.
Ini kenyataan yang rata-rata terjadi di negara kita bukan? pada akhirnya ketika keadilan tidak ditemukan, satu-satunya cara menyelesaikan dengan cara nya sendiri.
"Tapi kamu akan kehilangan seluruh masa depanmu, jangan lakukan itu, mari kita pergi menjauh dari sini, merupakan seluruh hal yang terjadi dan membuka lembaran baru"
Pinta mommy nya dengan suara bergetar sembari menahan air mata nya yang akan tumpah.
Wanita itu berusaha untuk menahan suara nya, tidak ingin bicara kencang hingga menimbulkan kecurigaan, tidak ingin menangis keras atau terisak tidak berdaya.
"Saat kita lari ketakutan demi ketakutan akan terjadi, Conte akan mengejar kita kemanapun kita berada, tidak akan pernah ada ketenangan di dalam hidup kita meskipun sejauh mana kita pergi, Mom"
Gibran menghapus air mata mommy nya secara perlahan, dia menggelengkan kepala nya kembali.
"Satu kali dia akan kembali menemukan kita dan akan menyiksa kita dengan caranya, tanpa tanda tanganku ataupun Eliza dia bukan siapa-siapa di keluarga Conte, jadi dia jelas membutuhkan aku dan Eliza"
Gibran bicara sembari mengingatkan Mommy nya soal Adi kuasa diri nya di sana.
Gibran melepaskan genggaman tangan nya dari wajah mommy nya.
"Aku tidak bisa melakukan nya, mom"
"Tapi..."
wanita tua itu kembali menggelengkan kepalanya sembari berusaha meraih tubuh Gibran.
"Percayalah pada ku mom, bawa Eliza menjauh dari sini, seseorang telah menunggu kalian di pintu belakang, bersiap membawa kalian menjauh secepatnya"
Setelah berkata begitu, Gibran menoleh ke sisi kanan nya, seorang laki-laki terlihat berdiri di dekat pintu penghubung belakang, laki-laki tersebut terlihat begitu was-was dan khawatir.
__ADS_1
Setelah berkata begitu, Gibran secepat kilat meraih telapak tangan mommy nya, dia mencium punggung tangan wanita tersebut untuk beberapa waktu.
"Pergilah, aku mencintai kalian"
Ucap Gibran kemudian.
"Jika mommy bertemu Linda, sampaikan salam ku untuk dia, katakan pada nya aku akan datang, aku telah menyiapkan semua persiapan pernikahan nya, gaun pengantin impian nya bahkan juga cincin pernikahan nya"
Kali ini bola mata Gibran terlihat berkaca-kaca, dia berusaha tidak mengeluarkan air mata nya, sebenarnya dia tidak pernah tahu apakah rencana ini akan berhasil atau tidak, tapi dia berusaha untuk menyakinkan diri jika semua akan baik-baik saja, dia pasti bisa memusnahkan Conte dan antek-anteknya juga bisa pergi menyeberangi lautan bersama orang-orang yang dia cintai.
Tapi bukankah manusia hanya bisa berusaha? membuat rencana dan berharap semua akan baik-baik serta mencapai apa yang diharapkan!.
Setelah itu Gibran kembali menoleh kearah laki-laki yang ada di ujung sana, memerintah kan nya agar segera membawa mommy nya menjauh dari sana.
Seolah-olah paham dengan perintah Gibran, laki-laki tersebut langsung membawa wanita itu menjauh dari sana.
Mommy Gibran berkali-kali menggelengkan kepalanya, mencoba untuk menahan langkahnya tapi apalah daya dia hanya bisa pasrah ketika laki-laki di sampingnya menarik tubuhnya dan mencoba membawanya jauh dari sana sedangkan Gibran terus menatap nya penuh Harap agar dirinya segera pergi secepat nya.
Di antara kebimbangan yang menghantam, wanita itu hanya bisa meneteskan air matanya secara perlahan, mencoba menahan tangisan nya yang mungkin akan pecah, berjalan penuh keraguan seolah-olah ini kali terakhir dia akan melihat putra nya.
Laki-laki itu kemarin yang selalu dia gendong dan dia timang, yang dia asuh dengan penuh cinta, yang membuat dia tertawa dan bangga, kemudian saat Gibran mulai dewasa laki-laki itu lah yang selalu menghibur nya, menghapus air matanya dikala dia terluka atau bahkan menangis karena rasa sesak yang menghantam dirinya.
Gibran putra kesayangannya nya, yang bersikap begitu manis dengan jutaan canda tawa yang menghiasi rumah mereka, bagaimana mungkin dia membiarkan anak sebaik dan se ceria itu kehilangan masa depannya?!.
Membiarkan tangan penuh kelembutan dan hangat tersebut harus berlumuran darah menghabisi nyawa laki-laki mengerikan yang telah menipu dan menyakiti Semua orang?!.
Masih bisa dia lihat Gibran bergerak perlahan menjauh kearah depan sedangkan dirinya bergerak kearah belakang bersama laki-laki seusia Gibran tersebut.
Mereka berdua memisah arah dengan tujuan yang berbeda dan berharap akan bertemu pagi ini ditempat yang sama.
Dia hanya bisa berdoa dalam diam, semoga putra nya baik-baik saja, tidak terluka atau terjadi hal-hal yang tidak dia inginkan, dia berharap mereka bertemu kembali sebelum matahari terbit besok dan pergi menjauh dari negara tersebut secepat nya.
__ADS_1
Bola mata wanita itu masih menatap punggung kokoh Gibran yang secara perlahan menghilang dibalik pintu kamar depan.
Pergilah, dan kembalilah dengan baik-baik saja, nak.