Suami Sensasional

Suami Sensasional
Tujuh Puluh Delapan


__ADS_3

Alexa duduk menyendiri di sebuah kursi. Dentuman musik berbaur dengan suara tawa menambah riuh situasi diskotik. Aroma minuman beralkohol menguar bercampur kepulan asap rokok.


Alexa menatap ponsel yang bergetar. Azlan memanggil.


“Ada apa, Azlan?” jawab Alexa.


“Nona, kita pulang sekarang. Nona nggak seharusnya berada di diskotik. Diskotik bukan tempat yang tepat untuk membuang masalah,” ucap Azlan yang menunggu nonanya di luar diskotik. Tepatnya menunggu di dalam mobil.


“Plis jangan ganggu aku dulu.” Alexa menggeser tombol merah dan sambungan terputus.


Kembali Azlan menelepon, berali-kali, namun Alexa tidak menjawab. Ia sedang tidak ingin diganggu. Kekecewaannya sudah memuncak.


“Helo, Jes!” sapa Alexa sambil mengapit ponsel antara bahu dan telinga. Ia menjawab telepon sahabatnya itu.


“Gila, rame banget. Lo pasti di diskotik, ya?”


“Ya. Gue lagi kesel sama bokap gue. Di hari ulang tahun gue begini, bokap gue malah pergi ke luar kota nemuin istrinya. Padahal dia janji mau ngabisin waktu sama gue.”


“Pulang sekarang, Lexs. Kita rayain ulang tahun lo di rumah lo.”


“Nggak usah ngibur gue, Jes. Di sini gue hepi, kok.”


“Leks.”


“Baay...” Alexa mematikan ponsel. Ia sedang ingin melepas kekecewaannya. Dengan mendengar suara dentuman musik, hatinya sedikit terhibur.


“Minum?” seorang lelaki bertopi hitam menawarkan segelas minuman kepada Alexa. Usianya kisaran dua puluh sembilan tahun.


“Enggak.” Alexa menggeleng.

__ADS_1


“Ini bisa bikin lo tenang.” Cowok itu kembali menyodorkan gelas ke depan wajah Alexa.


“Enggak!” ulang Alexa.


“Ayolah!”


“Dia nggak minum itu,” tolak seseorang sembari mendorong kembali gelas yang ditawarkan kepada Alexa.


Sontak Alexa dan cowok bertopi itu serentak menoleh ke pria yang terang-terangan menolak minuman yang disodorkan untuk Alexa.


“Azlan?” Alexa menatap pria tampan itu.


“Pulang!” titah Azlan.


Alexa mengernyitkan dahi tak mengerti. Sejak kapan Azlan bertindak seperti kakaknya begini?


“Jangan sentuh dia!” pekik Alexa melarang cowok bertopi menyentuh Azlan. Dengan sengaja, ia berdiri di tengah-tengah saat cowok bertopi hendak menarik kerah kemeja Azlan.


Pria bertopi tidak mau tinggal diam. “Memangnya siapa kau?” ia menatap mata Azlan dengan tajam.


“Aku calon suaminya!” tegas Azlan.


Alexa menoleh, menatap Azlan yang berdiri di sisinya. Calon suami? Alexa tercengang. Namun detik berikutnya ia tersadar dan langsung berkata, “Ayo, kita pulang!” ajak Alexa pada Azlan.


Segera Azlan melangkah keluar diskotik diikuti oleh Alexa. Kepala Azlan terasa pusing berada di ruangan itu. Ia memasuki mobil dan menyetirnya mendekati Alexa.


Alexa masuk ke mobil yang menghampirinya.


“Nona, seharusnya nona nggak memasuki diskotik lagi,” ucap Azlan sat mobil sudah bergerak di jalan raya.

__ADS_1


“Aku kesal pada papa,” celetuk Alexa cemberut.


“Artinya Pak Joan perduli padamu. Buktinya dia mengutusku untuk mengawasimu.”


“Makasih, Azlan. Kamu udah jagain aku.”


“Pak Joan akan memecatku kalau aku nggak menjalankan tugas dengan baik.”


Sesampainya di rumah, Alexa langsung melenggang masuk.


“Nona, diskotik nggak baik untuk wanita sepertimu,” ucap Azlan yang berjalan di belakang Alexa.


Alexa yang sudah sampai di ruang depan pun menoleh, ia tertegun dan hanya bisa diam menatap Azlan.


“Apa perlu kamu mengatakan itu ke aku?” tanya Alexa akhirnya.


“Aku perduli padamu. Ini untukmu,” ucap Azlan sambil menyerahkan secarik kertas yang ia ambil dari kotak dashboard.


“Thanks.” Alexa meraih kertas itu. “Aku anggap ini hadiah ulang tahunku.”


Azlan tersenyum tipis. “Anggap aja begitu. Bukalah nanti saat akan tidur.”


“O ya? Jadi ini kusimpan dulu sekarang.” Alexa mengantongi kertas itu. “Okey, sebagai tanda terima kasihku karena kamu udah mau memberiku hadiah, maka ijinkan aku bikinin kamu kopi.”


Azlan mengangkat alis kemudian mengangguk.


“Tunggu di sini!” ujar Alexa kemudian ia melenggang pergi.


TBC

__ADS_1


__ADS_2