
Azlan langsung membelokkan motor melintasi pintu gerbang motor yang terbuka sembari melempar uang dua lembar ratusan ribu ke arah tukang ojek. Kemudian ia melompat turun dan berlari masuk ke rumah. gerakan Azlan yang begitu cepat membuat tukang ojek gelagapan hingga motor hampir tumbang jika saja ia telat menginjakkan kaki ke lantai halaman.
“Buseeet... orang kaya kok kalau naik motor ugal-ugalan begono. Untung gue nggak mati konyol,” ucap si tukang ojek sambil mengamati rumah mewah di depan matanya. Ia kemudian buru-buru turun dari motor dan memungut dua lembar uang yang terjatuh di lantai halaman.
Azlan menaiki anak tangga dan langsung membuka kamar. Ia terkejut kamar berserakan seperti kapal pecah. Bantal guling terjatuh di lantai, peralatan make up berhambur di lantai, beberapa pintu lemari dan laci terbuka. Alexa terpaku dengan wajah memucat di sudut kamar. Di depan wanita itu, tampak seorang pria menodongkan pisau sementara sosok pria lainnya mengangkat sebuah tas besar.
“Azlan, mereka perampok...” Sebelum sempat Alexa menyelesaikan ucapannya, pria yang menodongkan pisau ke arah Alexa, bergerak dengan cepat menuju ke arah Azlan dan menghunuskan pisau tersebut.
Azlan berkelit cepat hingga pisau hanya mengenai udara. Azlan menangkis pukulan pria bertopeng itu saat dia melayangkan tinju. Beberapa kali adu tinju dan tendangan terjadi antara Azlan dan pria bertopeng. Sementara pria lain yang bertugas memegang tas, melempar tas tersebut ke arah wajah Azlan hendak membuat Azlan terjatuh dengan lemparan tas tersebut, tapi meleset. Tas malah teronggok di lantai karena Azlan berkelit sangat cepat menghindari lemparan tersebut.
__ADS_1
Azlan melompat dan menerjang pria berkaos hitam yang tadi melempar tas ke arahnya. Tubuh pria itu tersungkur dan jatuh setelah menerima tendangan di dadanya.
“Ugh...” Pria berkaos hitam merintih dan membenarkan topeng di wajahnya yang hampir terlepas.
Alexa berteriak meminta tolong.
Idris dan beberapa orang lainnya muncul. Namun terlambat, Azlan sudah lebih dulu terkapar sesaat setelah pria bertopeng menembakkan senjata api ke arah Azlan, peluru menembus dada Azlan. Dua pria bertopeng sudah menghambur pergi melalui lantai balkon membawa tas besar.
Alexa menghambur meraih tubuh Azlan yang telah bersimbah darah. Tangis wanita itu pecah, ia mengangkat kepala Azlan yang terkulai dan memangkunya. Air mata Alexa berguguran dan membasahi pipi Azlan di pangkuannya. Jemari lentik Alexa meremas rambut Azlan sembari memanggil nama pria itu.
__ADS_1
“Azlan, Azlan, kumohon jangan tutup matamu. Kamu pasti baik-baik aja. Azlan, aku mencintaimu.” Alexa sesenggukan.
Mata Azlan terlihat sayu, pria itu seperti tidak kuat lagi membuka matanya. Satu tangannya meremas dada yang tertembak. Ia meringis, tangannya menjulur ke atas meraih pipi Alexa. Kemudian tangan itu melemas dan terhempas jatuh.
“Azlan, kumohon. Aku mohon jangan tinggalin aku. Azlan, bangun! Bangun, sayang!” Tangis Alexa kian menjadi. Ia enjatuhkan wajahnya ke kening Azlan. Bahunya bergetar akibat tangisnya yang sesenggukan. Tak lama kemudian ia mengangkat wajah dan menoleh ke sekeliling dan melihat Arga dan Weni yang hanya diam mematung. Bahkan Weni malah ikutan menangis melihat tangisan majikannya.
“Lakukan sesuatu!” titahnya setengah marah.
Weni spontan menghambur menuju ke meja telepon berniat hendak menelepon polisi. Anehnya, polisi sudah datang sebelum ia sempat menekan nomer pada telepon. Dua polisi yang datang tersebut tak lain adalah polisi yang mengejar Azlan saat di perjalanan pulang. kebetulan mereka sampai di rumah Alexa dan mendengar keributan di rumah itu saat keduanya sedang menghampiri si tukang ojek di halaman rumah.
__ADS_1
TBC