Suami Sensasional

Suami Sensasional
Dua Puluh Sembilan


__ADS_3

“Seenggaknya naluri nona yang bicara, lebih baik nona bagikan sebagian kekayaan nona kepada orang yang lebih membutuhkan, contohnya seperti supir nona sekarang. Dia membutuhkan upah,” ucap Azlan berusaha membuat Alexa memahami kondisi orang yang berkekurangan.


“Aku nggak mikir sampai ke situ.” Alexa malas mengurus kehidupan orang lain, apa lagi sampai ke urusan pendapatan segala. Ia tidak habis pikir kenapa Azlan sampai harus memikirkan nasib supirnya. Ya ampun.


Alexa memalingkan wajah ke luar jendela. Ia ingin mengalihkan pandangannya dari wajah Azlan, kini pandangannya tertuju ke gedung-gedung yang dilintasi.


Azlan menoleh ke arah Alexa, ia hanya dapat menjangkau sebagian pipi gadis itu karena wajahnya menghadap jendela mobil.


“Nona, apa yang terjadi diantara kita kemarin?”


Jantung Alexa seperti disengat listrik mendengar pertanyaan Azlan. Ingatannya terkilas balik pada kejadian saat Azlan menimpa tubuhnya, saat bibir pria itu menciumnya, saat tangan pria itu menyentuh dirinya. Astaga… Alexa menikmati dan menyukai hal itu.


Alexa menoleh ke arah Azlan. Azlan menatap Alexa seperti meminta penjelasan. Namun Alexa tak kunjung menjawab, gadis itu hanya memilin-milin rambutnya dengan jemari lentiknya.


“Nona, maafkan aku. Semuanya terjadi seperti di bawah alam sadarku. Aku seperti kehilangan kendali. Kepalaku terasa berat dan pusing sekali waktu itu. Aku bahkan sampai lupa dengan apa yang telah terjadi diantara kita.”

__ADS_1


“Sudahlah! Lupakan!”


Sudahlah? Lupakan? Begitu saja tanggapan Alexa? Apakah itu artinya tidak terjadi kegiatan yang lebih lanjut lagi setelah mereka saling berpelukan atau Alexa memang tidak perduli dengan kejadian itu? Mungkin pria lain akan bahagia saat menerima sikap Alexa yang terlihat tidak perduli setelah disentuh, namun Azlan tidak. Dia merasa sangat bersalah, menyesal dan tentu akan mempertanggungjawabkan perbuatannya jika memang hubungan mereka kemarin sudah melewati batas.


“Nona, aku …”


“Azlan, jangan bicara lagi jika kamu hanya ingin membahas masalah itu.”


“Kenapa? Aku seharusnya melindungi nona dari hal buruk apa pun, dan justru aku yang menjadi ancaman untuk nona. Apakah itu bukan sebuah masalah?”


Azlan ingat dia hanya mengenakan pakaian dalam saat terbangun dari tidur, apakah benar mereka tidak melampaui batas? Semoga saja Alexa berkata benar. Ya Tuhan, ampuni Azlan yang telah salah langkah.


“Sejak awal aku memang udah salah,” tutur Azlan sembari menatap lekat bola mata nonanya.


“Salah kenapa lagi? Aku kan udah memintamu untuk nggak membahasnya,” sergah Alexa.

__ADS_1


“Memasuki club itu udah merupakan kesalahan, aku sama aja mendatangi maksiat.”


“Kamu hanya melaksanakan tugas. Kamunya aja yang nggak bisa menahan diri. Apa hanya karena godaan Kikan dan hanya dengan melihat tubuh molek Kikan, lantas kamu kehilangan akal?” Alexa mulai kelihatan kesal. Setiap kali membahas Kikan, Alexa selalu saja terbakar keresahan.


“Ya, itu memang kesalahanku. Bahkan dengan menerima tawaran kontrak kerja bersama nona juga udah salah.”


“Ooh… Kamu menyesal? Aku tahu sejak awal kamu nggak mau menerima pekerjaan ini, dan kamu menerimanya hanya karena sebatas rasa patuh pada papaku. Benar begitu bukan?”


“Salah satunya begitu.”


Oh ya ampun, pria ini begitu jujur sekali. Apa salahnya dia bilang tidak demi menjaga perasaan Alexa? tapi Azlan bukanlah pria plin-plan, dia bisa tegas dan jujur.


“Sayangnya kamu terikat kontrak, kamu nggak bisa membatalkan kontrak kerjamu. Kalau kamu membatalkan, maka kamu akan menanggung resikonya. Masuk tahanan, atau membayar ganti rugi dengan denda yang aku yakin kamu nggak akan bisa mengumpulkannya dalam setahun.”


“Ya, nona benar. Aku harus professional kerja.”

__ADS_1


TBC


__ADS_2