
“Hei, aku bertanya dan kamu cuekin sejak tadi!” Alexa menepuk dada Azlan agak keras membuat Azlan mengaduh merasakan tepukan tersebut.
“Sakit, Leksa. Kamu memukul bagian yang terluka.” Azlan menunjuk dadanya bekas tembakan dan Alexa malah menepuknya.
“Aku nggak suka dicuekin,” ketus Alexa menatap Azlan geram.
“Bahkan kamu nggak mau minta maaf?” Azlan tersenyum skeptis menatap kekesalan Alexa.
“Aku di sini sejak tadi menungguimu. Aku juga menyuapimu tadi. Sekarang kamu pejam mata terus. Apa kamu pusing atau gimana kok merem mulu? Yang sakit dada kok yang lemes mata, sih?” Alexa menggerutu membuat Azlan tergelak.
“Aku nggak apa-apa. Sebentar lagi aku juga akan pulang.”
“Kondisimu masih seperti ini dan kamu udah minta pulang? dokter kan belum ngijinin?”
“Kamu nggak liat? Sejak tadi wartawan bolak-balik datang ke sini minta ijin untuk bisa menanya-nanyaiku, itu membuatku ingin segera pergi dari sini.”
“Itu bukan alasan. Toh mereka juga nggak kuijinin masuk menemuimu. Udahlah, tetap di sini. jangan kemana-mana. Kamu belum sembuh.”
__ADS_1
“Aku bukan bayi yang lemah. Ini luka kecil, Leksa.” Azlan memperlihatkan senyum.
“O ya? Luka kecil katamu? Apa kamu nggak ingat kamu sempat merintih dan bahkan nggak sadarkan diri akibat menahan rasa sakitmu? Peluru itu nyaris mengenai jantungmu, ingat itu? Sekarang kamu menyepelekan lukamu itu, ah ya ampun!”
“Kamu ingin punya suami kuat atau lemah?” bisik Azlan membuat Alexa menatap Azlan intens.
Alexa kemudian tersenyum tipis. “Ya ya, aku kalah. Lalu apa kamu yakin akan pulang?”
“Aku nggak menyukai tempat ini, tentu aku ingin segera pulang.”
Azlan hanya diam hingga saatnya bibir mereka bertautan. Dahinya terlipat melihat sosok wanita berdiri di ambang pintu. Mekka. Wanita itu menatap ke dalam dengan wajah sembab. Beberapa detik Azlan dan Mekka bertukar pandang. Wajah Azlan hanya terlihat sebagian saja karena bagian hidung sampai ke dagu tertutup oleh kepala Alexa.
Azlan memenyentuh bahu Alexa dan memundurkan tubuh itu hingga wajah keduanya berjarak.
“Kenapa?” tanya Alexa. “Aku masih ingin menciummu.”
“Mm...” Azlan sedikit memiringkan kepala untuk dapat menjangkau pandangan di pintu yang tertutup tubuh Alexa, Mekka sudah tidak ada lagi di sana.
__ADS_1
“Hei... Lagi-lagi kamu nyuekin aku. Jangan bikin aku memukulmu untuk kedua kalinya.” Alexa mengangkat tinjunya memberi ancaman.
“Jangan jangan! Itu pasti akan sakit.” Azlan mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.
“Bukankah kamu yang bilang kalau kamu itu kuat? Kenapa takut?”
Azlan sedikit menarik sudut bibirnya. Pikirannya kini sedang tertuju kepada Mekka, apa kabar Mekka? Entah bagaimana perasaan wanita itu, hingga ia tidak bisa menanggapi gurauan Alexa. Bukan maksudnya tidak bisa jujur pada Alexamengenai Mekka, tapi ia tidak mau Alexa terluka dan bahkan menjadi rapuh jika mengetaui hal itu. Azlan akan mencari waktu yang tepat dan saat yang baik untuk memulai kejujurannya, dan waktu itu bukanlah sekarang. Hati dan iman Alexa belum sekuat baja, wanita itu tidak sekuat Mekka.
“Kalau begitu biar aku urus administrasi, setelah ini kamu biar cepat pulang,” ucap Alexa.
“Ya. pergilah!” Azlan melepas infus yang menusuk tangannya begitu saja, kemudian ia mengenakan pakaiannya.
Alexa tertegun menatap Azlan yang tampak tak perduli pada lukanya, wanita itu kemudian bangkit berdiri kemudian melenggang meninggalkan ruangan.
Azlan menuju pintu, ia menoleh ke kiri kanan, mencari Mekka. Namun wanita itu sudah tidak ada. Entah kemana perginya. Perasaan Azlan mulai tak menentu, ia sungguh merasa bersalah, merasa menjadi pria paling jahat karena telah melukai perasaan Mekka yang sangat halus.
TBC
__ADS_1