Suami Sensasional

Suami Sensasional
Enam Puluh Delapan


__ADS_3

Alexa menatap Leo yang mematung di tempat. Serta Kikan yang memasang wajah tegang. Hm… Alexa menang banyak. Bukan hanya Leo saja yang dia bikin harus mundur, namun juga Kikan. gadis itu seperti kalah telak.


“Terima kasih atas waktu yang sudah diberikan. Semoga di lain waktu akan ada waktu yang lebih baik. Selamat pagi!” Alexa balik badan sembari melirik Azlan dan berkata, “Ayo, pergi!”


Azlan mengikuti nonanya keluar.


Di depan pintu ruangan meeting, Azlan memegang lengan Alexa dan menahannya hingga tubuh gadis itu berputar menghadap ke arahnya.


“Apa yang nona lakukan padaku?” Azlan menatap Alexa. Jujur saja nafsu Azlan menyukai tindakan Alexa saat menciumnya tadi, namun akalnya membantah dan ingin menjauh dari segala tindakan yang membuatnya terlena.


“Aku nggak mau tau, di hadapan semua orang, kamu harus mengakui kalau kamu adalah suamiku,” tegas Alexa. “Kenapa? Kamu nggak suka? Aku hanya ingin menyelamatkan hidupku. Aku ingin lepas dari Leo.”


“Tapi bukan begitu caranya, Nona. Apa nona tahu kalau yang nona lakukan itu salah? Laki-laki dan wanita yang bukan muhrim saling berpandangan hingga menimbulkan nafsu aja udah dilarang, apa lagi sampai berciuman?”

__ADS_1


“O ya? Lalu apa yang kau lakukan saat aku tenggelam di kolam renang?”


Sontak kejadian waktu itu terkilas balik di ingatan Azlan, saat bibirnya menyentuh bibir Alexa, saat tangannya menyentuh dada Alexa, dan saat wajahnya berada sangat dekat dnegan wajah gadis itu.


“Nona jangan bercanda, itu beda perkara.” Azlan membela diri dengan nada suara agak tinggi.


Sontak Alexa terdiam dan ekspresi wajahnya mendadak mendung.


Azlan merasa bersalah. Dia lantas menatap Alexa dengan teduh. “Sorry, aku nggak bermaksud menyakitimu.”


“Maafkan aku.” Hanya itu yang Azlan ucapkan. “Aku hanya ingin mengingatkan supaya nona nggak melakukan hal seperti di ruangan meeting tadi.”


“Jangan mau menang sendiri ya! Disaat kamu yang berbuat, kamu anggap itu hal benar. Tapi disaat aku yang berbuat, kamu ceramahi aku dan bilang kalau itu keliru. Whatever, aku nggak perduli. Kamu menyukai aku atau membenciku, keduanya itu tetap menguntungkan bagiku. Kalau kamu menyukaiku, aku akan ada di hatimu. Dan kalau kamu membenciku, aku akan tetap ada di pikiranmu,” sewot Alexa menatap Azlan tajam.

__ADS_1


Azlan tidak lagi membantah mendengar kata-kata Alexa. Tidak semudah yang dia pikirkan untuk dapat memberi pengertian pada gadis itu.


Alexa melenggang pergi dan Azlan mengikutinya sampai ke ruangan Alexa. Azlan duduk di sandaran tangan sofa, ia menyilangkan tangan di dada dan menatap Alexa tegas. “Kapan Nona menikah?”


Pertanyaan itu membuat Alexa menoleh ke arah Azlan dan menatap pria itu dengan alis terangkat.


“Apa maksudmu nanya kayak gitu?” tanya Alexa. Ia tidak tahu kemana arah pertanyaan Azlan.


“Tentu nona nggak ingin hidup lajangan terus, kan? Apa nona nggak punya planning untuk menikah?” Setelah menjalani kontrak kerjanya, Azlan merasa ingin mundur dari pekerjaan itu. Bukan karena ia tidak menyukai pekerjaan itu, tapi justru karena ia sangat menyukai Alexa, dan ia tidak ingin terjadi hal-hal negatif jika saja ia dan Alexa selalu bersama-sama. Ia sudah menerima upah dimuka, dan upahnya itu sebagian besar sudah dia transfer kepada bundanya untuk keperluan hidup di kampung, tidak mungkin ia sanggup mengembalikan uang dalam jumlah sebesar itu jika ia memutuskan untuk berhenti bekerja demi menghindari maksiat. Satu-satunya jalan adalah Alexa harus menikah. Tapi siapa calon suaminya?


“Kalau kamu bosan dengan pekerjaanmu, jangan ajak aku berdebat. Nikmati aja kebosananmu itu,” ketus Alexa yang merasa kesal menganggap sikap Azlan adalah sebagi wujud dari rasa tidak suka di posisi sekarang. Alexa mulai bekerja dan menyambung semua kabel yang menghubungkan dengan laptop. Dia mencolokkan semua kabel ke tempatnya masing-masing.


Azlan tidak lagi membalas perkataan nonanya. Justru karena Alexa menarik perhatiannyalah yang membuatnya ingin menghindari pekerjaannya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2