
Alexa meraih ponsel dan langsung menjawab telepon. Ia sengaja diam untuk mendengarkan suara di seberang.
“Halo! Maaf aku mengganggu di jam segini. Aku hanya ingin menyampaikan informasi penting.” Suara lembut wanita menyahut di seberang. Wanita itu diam menunggu tanggapan.
Alexa yang awalnya ingin menjadi pendengar saja tanpa harus menyahuti, kini ia terpaksa harus bersuara. “Ya, bicaralah!” sahut Alexa. “Kau, Mekka bukan?”
Mekka yang mendengar suara wanita pun terkejut, ia terdiam sejenak. Ada yang mencelos dalam hatinya mendengar suara wanita yang menyahut. Meski ia sadar kalau wanita itu adalah istri Azlan, namun tetap saja ia tidak bisa memungkiri perasaannya kalau ia tersakiti.
“Iya, aku Mekka, sekretarisnya Pak Syarif,” lirih Mekka.
Alexa mengingat sosok wanita yang pernah datang ke kantornya bersama dengan Pak Syarif. Saat itu, dia tidak begitu ngeuh dengan wanita yang mendampingi pak Syarif. Dia juga tidak memperhatikan dengan seksama. Bahkan ia sudah lupa dengan wajah wanita itu. Oh… ternyata mantan istri suaminya kini berada di sekitar hidupnya.
“Kau ingin bicara dengan suamiku bukan?” Tanya Alexa tanpa berbasa-basi.
“Ya.”
“Katakan saja! Nanti kusampaikan pada Azlan. Hal penting apa yang ingin kau katakan?” tegas Alexa.
__ADS_1
Mekka mengesah, dadanya entah kenapa menjadi sesak sekali. Ia kesulitan untuk bicara. Menurut sepengetahuannya, Alexa tidak tahu menahu hubungan antara dirinya dan Azlan. Azlan juga pernah berpesan agar ia menyimpan rahasia itu rapat-rapat dari Alexa. walaupun pesan itu terdengar sangat menyakitkan dan jelas menyisihkan dirinya dengan terang-terangan, namun ia mesti harus bersabar dan kuat menghadapi semua itu.
“Aku hanya ingin menyampaikan pesan pak Syarif yang ingin bertemu dengan Azlan sekarang juga. Ada hal urgent yang ingin beliau rundingkan dengan Pak Azlan,” jawab Mekka.
“Oh. Baiklah. Akan kusampaikan.” Batin Alexa berkecamuk mendengar suara Mekka.
“Terimakasih. Saya tutup teleponnya. Selamat sore!” lembut Mekka dengan sopan.
Sebenarnya Alexa ingin marah, namun suara lembut Mekka entah kenapa membuat nurani kemanusiaannya bekerja dengan normal, ia tidak tega membentak atau mengeluarkan kata-kata buruk. MEmangnya Mekka salah apa? Ya, Mekka tidak salah apa-apa dalam hal ini.
“Tunggu dulu! Jangan tutup teleponnya!” sergah Alexa.
“Aku ingin bertemu denganmu sekarang.”
Mekka tertegun mendengar ajakan itu. Apa maksud Alexa memintanya ketemuan? Apakah Alexa sudah mengetahui hubungan masa lalu antara dirinya dengan Azlan? Atau Alexa ingin membicarakan mengenai pekerjaan? Mekka sungguh bingung dan takut salah mengambil langkah.
“Memangnya ada hal yang harus kita bicarakan?” Tanya Mekka berhati-hati.
__ADS_1
“Iya.”
Alexa kemudian menyebutkan sebuah alamat kafe. Setelah itu Alexa memutus sambungan telepon. Jari telunjuknya menyentuh riwayat panggilan dan menghapus nama Mekka dari riwayat panggilan masuk. Ia keluar kamar dan bertemu dengan Weni di lantai satu.
“Wen, gue keluar. Lo cepet temuin Azlan dan bilang ke dia kalau tadi Pak Syarif nelepon ke hp Azlan dan gue yang jawab teleponnya. Pak Syarif ingin bertemu Azlan di kantor sekarang juga untuk membahas hal penting. Buruan sana!” titah Alexa.
“Tuan Azlannya dimana?”
“lo cari aja ndiri sono!” Alexa meninggalkan Weni.
“Eh loh, ini gimana, Non? Udangnya udah mateng dan lagi anget-angetnya, loh.” Weni menunjukkan piring berisi udang berukuran besar yang dia bawa.
“Halah, jangan ngurusin udang. Itu nanti aja. Tarok aja di meja makan,” jawab Alexa sambil berjalan keluar.
Weni geleng-geleng kepala. Ia kemudian menjalankan perintah majikan, meletakkan piring ke meja makan dan mencari Azlan untuk menyampaikan pesan dari Alexa.
***
__ADS_1
TBC