Suami Sensasional

Suami Sensasional
Tujuh Puluh Dua


__ADS_3

Alexa mengaku lapar dan ia meminta supaya Azlan menghentikan mobil di tempat makan.


Seperti yang diminta oleh Alexa, Azlan menghentikan mobil.


Alexa menoleh ke luar jendela, ia tidak mendapati restoran ataupun kafe di sekitar sana.


“Kok, berhenti di sini?” Alexa menoleh ke samping dan ia tidak mendapati Azlan di bangku kemudi. Ia melihat pria itu sudah berada di luar mobil. Ia kemudian ikut turun dari mobil.


“Nona mau makan?”


“Ya.”


Azlan melangkah menjauhi Alexa. Gadis itu termenung sebentar menatap langkah Azlan yang gontai, namun detik berikutnya ia mengiringi langkah Azlan menelusuri trotoar.


Alexa mulai menghela nafas ketika sudah jauh mereka melangkah dan Azlan tidak juga mampir ke restoran. Semua restoran dilalui begitu saja.


“Azlan, bukannya kita mau makan?”


“Iya, ini mau makan.”


“Kenapa kamu nggak berhenti-berhenti?”


Azlan akhirnya berbelok saat menemukan warung kecil yang berjualan lontong dan bubur ayam. Ia duduk di kursi kayu sepanjang satu setengah meter yang mejanya juga memiliki ukuran yang sama panjang.


Alexa ikutan duduk di sisi Azlan dan meletakkan kedua tangannya ke meja. Manik mata gadis itu berputar memperhatikan sekeliling. Azlan diam-diam melirik ke samping, cukup salut pada Alexa yang terlihat biasa saja pada tempat kecil yang jauh dari kata mewah, gadis itu tidak ilfil atau jijik. Dia terlihat mengelap meja depannya dengan tisu dan duduk tenang menikmati angin sepoi-sepoi yang meniup rambutnya.


“Nona hanya akan menikmati makanan sederhana di sini,” ujar Azlan.


“Kenapa kamu memilih tempat ini?”


“Karena hari ini aku yang akan traktir. Dan nona tau sendiri, ukuran kantongku hanya akan cukup untuk makan di tempat beginian.”


Alexa tertawa mendengar penjelasan Azlan. “Oke, itung-itung, hari ini ulang tahunku. Jadi bolehlah aku terima tawaranmu.”


“Oh iya, aku baru ingat tadi nona bilang kalau hari ini adalah hari ulang tahunmu. Apa perlu kita pindah tempat supaya hari ulang tahun nona lebih nyaman dengan makan di restoran elit?”


“Nggak usah.”


Azlan mengernyit. “Bukankah seharusnya hari ulang tahun dirayakan di tempat spesial?”


“Semoga ini akan jadi spesial. Orang-orang terdekatku nggak ada di dekatku. Pacarku juga nggak ada. Lalu aku harus dengan siapa?”


Azlan mengangguk. “Nona mau makan apa?”


“Apa yang ada di sini?” Alexa balik tanya.


“Soto sama lontong aja.”


“Mm... Lontong aja, deh.”


Azlan mengangguk. Gadis itu bahkan tidak protes dengan menu yang tersedia. “Minumnya apa?”


“Es teh aja,” sahut Alexa sesaat setelah melihat menu yang ditempel di dinding. Disana hanya tersedia, kopi panas, es teh, dan jus jeruk.

__ADS_1


“Bik, lontong pecalnya dua, es teh satu, kopi panas satu,” seru Azlan yang diangguki penjual.


“Pesen yang pedes, ya!” ungkap Alexa.


“Emangnya nona tahan? Muka seperti nona nggak meyakinkan kalau tahan makan pedes.”


“Jangan ngeremehin. Boleh liat nanti, aku jago makan pedes. Jangan-jangan kamu yang mewek kalo makan pedes. Berani apa nggak kamu nantangin aku?”


“Oke, boleh.”


Mendengar jawaban Azlan, Alexa langsung bangkit berdiri dan menemui penjual yang tengah sibuk menyiapkan pesanan di mejanya.


“Bik, ada cabe rawit mateng yang udah digiling?” tanya Alexa.


“Maksudnya sambel, Neng?” tanya penjual.


“Iya, itu maksudnya.”


“Itu sambel untuk soto.” Penjual menunjuk sambal hijau dalam mangkuk.


“Apa itu lontong pesenan gue?” tanya Alexa sembari menunjuk dua piring lontong yang tengah diracik.


“Iya, Neng.”


Dengan segera Alexa menuangkan sambal berwarna hijau ke piring berisi lontong tersebut, membagi sambal ke dua piring yang sudah siap antar.


“Loh loh...” Si penjual keheranan.


“Gue bayar seratus ribu buat cabenya. Setuju?”


“Yuk, antar ke meja gue.” Alexa kembali duduk di sisi Azlan dengan senyum lebar.


Tak lama pesanan datang. Azlan mengernyit saat penjual meletakkan dua piring lontong ke meja.


“Nekat kamu,” ucap Azlan menatap sambal yang meleleh di atas lontong. Entah kenapa perutnya mendadak melilit. Ia kira pedas yang dimaksud tidak segila itu. Yaitu pedas versi makanan warung dan hanya dibanyakin sambel kacangnya saja, bukan ditumpahin sambel begini. Tapi tidak mungkin ia menyerah, malu jika mundur sebelum bertempur.


“Kamu boleh mengaduk lontongku supaya cabenya nyampur jadi nggak ada kecurangan, biar aku yang aduk lontong milikmu.” Alexa benar-benar mengaduk lontong di piring milik Azlan.


Azlan pun mengaduk lontong milik Alexa.


Beberapa orang yang duduk di sana tampak heran melihat dua orang berpenampilan rapi dan wangi duduk di warung kecil itu.


“Makan, Mas, Mbak!” tawar Alexa melihat beberapa orang yang sejak tadi terlihat memperhatikannya dan disambut dengan anggukan kepala.


Kenapa mereka heran gitu ngeliat aku? Apakah ada yang aneh denganku? Pikir Alexa. Tapi ia tidak perduli.


“Ini akan seru.” Alexa menyantap hidangan setelah mengelap sendok dengan tisu. Ia terlihat menikmati lontong dengan lahap.


Sementara Azlan masih mengaduk-aduk lontongnya. Lidahnya pasti akan terbakar setelah menyantap cabe segitu banyaknya. Apa jadinya ususnya nanti setelah diolesi cabe begini?


“Ayo, makan!” Alexa bersemangat.


Akhirnya Azlan mulai menyendok dan menyuapkan ke mulut. Saat makanan melewati lidah, belum terasa apa-apa. Rasa pedas mulai membakar saat makanan melintasi tenggorokan. Azlan buru-buru menyantap makanannya dengan cepat supaya rasa pedas berlalu dengan cepat.

__ADS_1


Keringat mulai mengucur deras di pelipis Azlan, ia bahkan melipat ujung lengan kemejanya. Pori-pori di kedua tangannya yang berotot pun mengeluarkan keringat. Beberapa menit, perut Azlan mulai mulas. Begitu cepat reaksi si cabe bekerja. Lambungnya juga terasa panas.


Azlan meneruskan makannya. Sedikit lagi habis.


“Aku duluan habis.” Alexa meletakkan sendok dan garpunya lalu meneguk es teh melalui bibir gelas tanpa perduli sedotan yang tersedia.


Azlan melirik ke piring milik Alexa yang sudah kosong. Gila, dibantu jin apa ya sampai-sampai Alexa bisa secepat itu melahap lontong sepedas itu? Azlan hampir menyerah. Ia sudah tidak tahan lagi. Ia berhenti dan meneguk air mineral. Satu gelas belum cukup, ia pun menghabiskan dua gelas. Buset, mules.


“Habisin!” seru Alexa dengan tatapan mengejek.


Azlan menarik nafas. Rasanya isi mulutnya seperti terbakar, pedas bukan main.


Meski menahan pedas yang luar biasa, Azlan cepat-cepat menyendok sisa lontong yang dilumuri cabe tersebut ke mulut. Setelah itu ia kembali meneguk air mineral sebanyak-banyaknya. Air mineral mampu menetralisir mulas. Sayangnya perutnya tidak cukup menampung banyak air.


Azlan menggeleng-gelengkan kepala menahan pedas yang luar biasa. Matanya sudah berair dan rambutnya juga basah oleh keringat.


“Hahaaa... Kamu tuh ya, ternyata hebat juga bisa ngabisin sambel sebanyak itu.” Tawa Alexa pecah. “Kamu sering makan di sini, ya?”


“Beberapa kali,” jawab Azlan dengan nafas ngos-ngosan menahan rasa pedas di mulut dan mulas di perutnya.


Azlan langsung membayar makanan dan minumannya.


“Kopinya nggak dimunum, Mas?” tanya penjual.


Azlan melambaikan tangan sebagai isyarat tidak akan meminum kopinya.


“Kita cepat pulang,” ujar Azlan meninggalkan warung dengan langkah lebar.


“Kenapa mesti buru-buru?” tanya Alexa.


“Di rumah akan mudah nyari Wc.”


“Hahahaaa...” Tawa Alexa meledak.


TBC


Halo semuanya, udah kenal ma aku gk? Ema Shu?


Mohon dukungannya yak, sumbangin poin dan koin bagi yg punya.


Haduuh.. semoga yg kasih poin dan koin dimurahin rejekinya karena udah bantu dukung baca cerita bernuansa romance berbumbu religi ini.


Tengkyuh untuk akun atas nama



Syska Cahyani


Weni Suryani


Fitria Elfaiz


__ADS_1


Itu adalah tiga nama teratas yg udah baik banget kasih vote poin di cerita ini. Tengkyuh 😘😘😘


Setelah ini, ada gak yg bisa mengalahkan tiga nama itu dan jadi ranking teratas penyumbang poin di cerita ini?


__ADS_2