Suami Sensasional

Suami Sensasional
Seratus


__ADS_3

Azlan melambaikan tangan pada bunda dan adik-adiknya setelah sebelumnya ia sempat menciumi pucuk kepala si bungsu penuh kasih sayang. Ia sudah berada di dalam mobil travel yang siap membawanya ke Jakarta. Tiga hari setelah ijab qobul itu berlangsung, Azlan memutuskan untuk kembali ke Jakarta. Ia berharap bisa menemukan siapa bosnya yang telah mempercayakan mobil kepadanya.


Mobil bergerak meninggalkan halaman rumah, Azlan masih fokus melambaikan tangan pada adik-adiknya yang berdiri di depan rumah.


Mekka yang duduk di sisi Azlan, tersenyum melihat interaksi yang tercipta, hangat dan menyenangkan.


Azlan menutup kaca mobil saat bunda dan adik-adiknya sudah semakin menjauh.


Supir menyetir mobil dengan penuh konsentrasi.


Sepanjang perjalanan, Azlan hanya diam sembari mengingat-ingat nama Alexa Lian. Nama itu pasti tidak asing bagi dirinya, namun ia masih belum bisa mengingatnya. Anehnya, hatinya serasa seperti tersiram es setiap kali menatap nama itu. Cesssss… Siapa Alexa Lian sebenarnya?


“Mas!” panggil Mekka memecah keheningan. Sudah setengah jam berlalu sejak mereka meninggalkan halaman rumah bunda, Azlan masih diam dan tidak bicara. Pria itu terkesan pendiam dan dingin pada wanita. Itulah yang Mekka rasakan. Bahkan Azlan sama sekali tidak menyentuhnya sejak malam selepas ijab qobul. Pria itu seperti menganggap Mekka adalah orang asing. Dia membiarkan Sasha yang bolak-balik minta tidur bersama Azlan mengingat Azlan hanya sesekali bisa pulang ke kampung setelah sekian lama meninggalkan kampung. Ya, selama tiga hari, Azlan membiarkan Sasha tidur bersamanya di kamar tengah, dan membiarkan Mekka tidur sendirian di kamar pengantin. Memang, tindakan Azlan tersebut beralasan, sebab Sasha sakit dan butuh kasih sayang, sebab Azlan jarang bertemu dengan adik-adiknya. Tapi tetap saja, Mekka merasa tak enak hati.

__ADS_1


“Mas!” ulang Mekka karena dicuekin.


“Ya?” sahut Azlan menoleh ke arah Mekka.


“Kamu baik-baik aja?”


“Ya,” singkat Azlan.


“Kulihat kamu terlalu banyak mikir, aku nggak ingin kamu jadikan masa lalu yang belum bisa kamu ingat itu menjadi beban.”


“Nggak usah dipaksakan mengingat-ingat, Mas. Bahaya. Kamu kan juga harus menjaga kondisimu sendiri. Aku yakin, ingatanmu pasti akan berangsur pulih. Bunda Dinda kan selalu mendoakanmu. Aku juga.”


“Hm.”

__ADS_1


“Hampir sepuluh tahun kamu menghabiskan waktumu di Jakarta. Dan waktu terakhir yang kamu habiskan juga di Jakarta, memorimu ada di sana. Kemungkinan ingatanmu akan segera pulih saat kamu sudah menemukan orang-orang yang kamu kenali di sana, juga tempat-tempat yang sering kamu pijak sebagai tempat aktifitasmu sehari-hari.”


“Ya, kamu benar.” Azlan seperti malas berbicara, pikirannya terlalu penuh oleh masa lalu yang hilang.


“Aku pasti bantuin kamu mencari identitasmu di Jakarta. Andai saja ponselmu nggak hancur, kamu pasti masih bisa menemukan orang-orang terdekatmu di Jakarta. Sayangnya kartu ponselmu pun hilang entah kemana, padahal Rara udah mengeluarkannya dari ponsel untuk menyelamatkannya. Tapi malah entah kemana. O ya kamu lapar nggak?”


Azlan diam saja.


“Mas!”


Azlan menoleh. “Aku capek. Tadi malem ngobrol sama adik-adikku sampe tengah malem. Sekarang ngantuk. Aku tidur dulu.” Azlan merubah posisi joknya menjadi setengah berbaring. Ia menyumbat telinga dengan earphone, mendengar pengajian dan memejamkan mata.


Mekka mengangguk, membiarkan Azlan tertidur.

__ADS_1


***


__ADS_2