Suami Sensasional

Suami Sensasional
Dua Ratus Lima


__ADS_3

Yakub yang saat itu sedang berada di atas sajadah, langsung bangkit. Melipat sajadah dan menaruhnya di tempatnya, lalu mengganti sarung dengan celana panjang. Kemudian menghambur keluar dengan naik mobil. sambil menyetir, Yakub menelepon Mekka. Ia mengusulkan Mekka untuk menemani Alexa karena saat ini Mekka adalah salah satu orang terdekat alexa. Yakub tahu kalau Pak Joan sedang berada di luar negeri, ia juga tidak memiliki nomer ponsel bunda Dinda.


Rumah Mekka lebih dekat jika dibandingkan dengan rumah Bunda Dinda sehingga perjalanannya tidak akan memakan waktu lama.


Yakub memberitahukan Mekka mengenai keadaan Alexa, serta Azlan yang menurut keterangan Alexa dalam keadaan kritis setelah kecelakaan. Tanpa berpikir panjang, Mekka menyetujui untuk diajak ke rumah sakit. Yakub menjemput Mekka ke rumah kontrakan wanita itu, Mekka sudah menunggu dan langsung masuk ke mobil, duduk di sisi Yakub.


“Mas Yakub, lalu bagaimana kondisi Alexa sekarang?” Mekka tampak khawatir, raut wajahnya menunjukkan kecemasan yang luar biasa. “Dan Mas Azlan, bagaimana pula dengan kondisinya? Ya aAllah…”


Yakub sekilas menatap wajah cantik yang dibalut kecemasan itu. “Aku juga belum tahu, kita akan melihat kondisi mereka. Kamu bisa hubungi Bunda Dinda, bundanya Azlan sekarang? Kabari kejadian ini kepada beliau supaya beliau juga ke rumah sakit. Sekarang Alexa dan Azlan sangat membutuhkan orang-orang terdekat mereka.”


“Oh.. iya iya. Aku akan menelepon Bunda Dinda dan mengabari maslaah ini.” Mekka merogoh ponsel dari tasnya kemudian membuka kontak dan mencari nama Bunda Dinda, sosok yang pernah menjadi mertuanya meski hanya dalam hitungan hari.


“Assalamualaikum…” Suara Bunda Dinda terdengar nyaring. Beliau belum tidur di jam segini. Beliau baru saja selesai shalat tahajud.


“Wa’alaikumsalam, Bunda.”

__ADS_1


“Eh, Mekka. Ada apa menelepon Bunda malam-malam begini, Nak?”


“Bunda, ada kabar tidak baik, segera Bunda ke rumah sakit Sejahtera sekarang, Azlan kecelakaan. Aku juga belum tahu kondisi Azlan bagaimana sekarang.”


“Astaghfirullah…” Suara Bunda Dinda berubah getir.


“Tapi di sisi lain, sekarang juga cucu Bunda akan lahir. Bunda cepat ke rumah sakit sekarang. Aku juga sedang menuju ke sana.”


“Iya iya. Bunda segera datang.”


“Apa nggak lebih baik kita menjemput bunda Dinda sekarang?” Tanya Mekka menatap Yakub yang sedang konsentrasi menyetir dnegan kecepatan tinggi.


“Nggak bisa, Mekka. Sebab rumah Bunda Dinda berlawanan arah, bahkan jaraknya juga jauh. Sementara kita harus segera sampai di rumah sakit secepatnya. Azlan dan Alexa sangat membutuhkan kita.”


“Ooh…”

__ADS_1


Yakub melirik tangan mungil Mekka yang meremas ujung bajunya. “Kamu mencemaskan bunda Dinda?”


Mekka menghela nafas untuk menenangkan diri. “Aku mencemaskan semuanya. Aku juga mencemaskan Bunda Dinda yang harus pergi ke rumah sakit sendirian malam-malam begini.”


“Bunda Dinda mungkin akan mengajak Rara atau Lala untuk menemaninya. Percayalah Bunda Dinda pasti bisa mengatasi situasi dengan baik. Sekarang justru keadaan Azlanlah yang perlu dikhawatirkan.”


Mekka terdiam. Sejak tadi, dia juga mencemaskan hal yang sama. Dia juga mencemaskan kondisi Alexa yang sedang berjuang dalam proses persalinan tanpa suami yang menemaninya.


“Kamu udah lama mengenal Bunda Dinda, bukan?” sambung Yakub.


“Ya.”


“Kamu pasti tahu bagaimana bijaksananya beliau.”


Setelah itu tidak ada lagi perbincangan diantara keduanya di atas mobil yang melaju kencang. Masing-masing bergulat dengan kecemasan yang seperti merebus hati dan pikiran. Hanya embusan nafas berat yang sesekali terdengar memenuhi ruangan.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2