
Azlan mengusap daun telinganya yang terasa pedih. Astaga, cantik-cantik serem juga kalau main jewer.
“Udah ah, aku nggak mau baca bukumu itu. Jelek.” Alexa melempar buku itu dan mengenai dada Azlan.
“Kamu yakin nggak mau membacanya?”
“Enggak. Bodo amat deh.” Alexa menarik selimut dan menutupkannya sampai ke wajah.
Azlan tersenyum kemudian menarik selimut hingga selimut kembali tertarik ke bawah. Tampaklah wajah Alexa yang matanya tengah terpejam.
“Tantangan pertama kamu udah nyerah. Ternyata aku salah menilaimu, kupikir kamu adalah wanita berkemauan keras. Tapi ternyata kamu lemah, begini aja kamu mundur.” Azlan mencemeeh.
Alexa membuka mata dan membelalak kaget. “Apa kamu bilang? Aku lemah?”
“Ini udah jadi bukti. Lagi pula, awalnya aja kok menceritakan neraka, akhirnya kamu akan merasa terbuai.”
Alexa diam saja, seperti sedang berpikir.
“Kalau begitu aku akan pergi ke suatu tempat bersama wanita lain aja, apa kamu akan rela melihatku bersama dengan wanita lain?”
“Kamu mau selingkuhin aku?”
Azlan diam saja.
“Hei, aku nanya, jawab!” Alexa menampilkan ekspresi kejam.
“Aku hanya akan pergi bersamamu kalau kamu baca buku itu.”
“Ya udah, kamu aja yang kasih tahu aku apa garis besar isi buku itu. Selesai, kan? Itu hal mudah.”
“Kamu nggak akan pernah memahaminya kalau kamu nggak membacanya sendiri. Detil cerita nggak akan kamu dapetin.”
__ADS_1
Alexa terdiam beberapa saat. Namun kemudian ia menyerah. “Oke oke, baiklah aku akan baca. Semaleman bakalan selesai.”
“Nggak akan selesai.”
“Kamu ngeremehin kehebatan membacaku? Aku bisa baca kilat.”
“Itulah yang nggak bisa kamu lakukan di buku itu. Kamu harus membacanya dengan teliti agar paham.”
“Oke. Itu mudah bagiku.” Alexa akan berniat mengaku sudah membaca meski yang nantinya akan dia baca hanyalah bagian awal dan akhir saja.
“Ingat, aku akan menanyaimu beberapa poin mengenai isi buku. Kalau kamu nggak bisa menjawab, artinya kamu nggak membacanya.”
“Hah? Gila! Kamu bikin aku kayak anak SD yang lagi proses sekolah dan ujian gitu?”
“Seperti itulah.”
“Astaga.”
“Oke oke. Whatever. Nanti aku pasti membacanya.”
Azlan tersenyum. Ia mengecup singkat pipi Alexa.
“Bibirmu terasa dingin, apa kamu masih kedinginan?” Tanya Alexa sambil menatap wajah Alzan yang masih sedikit memucat.
“Enggak.”
“Aku bisa menghangatkanmu kalau kamu masih merasa dingin.”
Azlan mengulas senyum lagi. “Dengan pelukan dan bercinta?”
“Kamu udah memberiku tugas semenyebalkan ini dengan membaca buku, kamu pikir aku akan memberimu jatah bercinta? Enggak. Aku punya cara lain untuk bisa menghangatkan tubuhmu.” Alexa bangkit bangun kemudian mengambil korek dari dalam laci.
__ADS_1
Azlan mengernyit menatap Alexa menyalakan api.
“Untuk apa korek api itu?” Tanya Azlan.
“Untuk dinyalakan dan dideketin ke kulitmu supaya hangat.”
“Itu sama aja kamu mau membakarku.”
Alexa tertawa, namun detik berikutnya Alexa menjerit kecil. “Aw!” Jari lentik Alexa terkena api yang dia nyalakan akibat kurang fokus pada korek yang dia pegang. Dia kemudian meniup-niup jemarinya.
“Baru kena api sedikit aja udah kepanasan. Gimana dengan api neraka? Nggak terbayangkan andai saja tubuh di bakar di atas api.”
“Azlan. Kamu malah ngeledekin aku, bukannya ngebantuin,” sewot Alexa.
Azlan tersenyum kemudian menjulurkan tangan dan ******* jemari wanita itu. “Udah, ini nggak apa-apa. Nanti juga baikan,” ujar Azlan dengan lembut. Kemudian ia bangkit berdiri dan melenggang menuju ke pintu sesaat setelah emnyambar ponsel dan mengantonginya. “Aku tinggal dulu sebentar.”
“Hei, mau kemana?”
“Keluar.”
“Kemana?”
Azlan akan menemui Mekka, tapi tidak mungkin ia jujur dengan niatnya itu. “Ketemu teman. Ada yang perlu kukerjakan.”
“Kamu nggak mau nemenin aku baca buku?”
“Nanti aku akan temenin kamu setelah pulang.” Azlan tersenyum kemudian mengecupkan bibir ke udara.
“Mmuah…” Alexa membalas kecupan itu dengan gaya yang sama.
TBC
__ADS_1
POIIIIIN... KUTUNGGU POIN KALIAN DI NOVEL INI 😘😘😘