
Diantara semua kisah yang tertulis, ada satu kisah yang lucu, gadis yang kerap terciduk akibat tingkah konyolnya itu, tertangkap kamera wartawan sedang jualan keripik ubi. Bukankah ayahnya seorang direktur perusahaan besar? Ada apa dengannya?
Ah, masih banyak lagi berita-berita sensasional lainnya tentang Alexa. Kasus-kasusnya menjadi trending topik kala itu. Berurusan dengan polisi seperti sudah makanan sehari-hari baginya.
“Nih, Alexa Lian.” Yakub meletakkan ponselnya ke meja tepat di depan Azlan. “Lulusan Universitas Jerman.”
Pandangan Azlan mengarah ke layar ponsel milik Yakub. Tampak foto Alexa sedang berpose seperti bintang model dengan mulut manyun di sana, ekspresinya lucu dan jujur saja Azlan suka. Segala sesuatu yang Alexa posting dibanjiri ribuan komentar.
“Alexa Lian, Followernya berjubel, dia lebih dari sekedar artis,” terang Yakub yang langsung membuka akun milik Alexa gara-gara penasaran, siapa Alexa yang sebenarnya?
“Ck ck... “Azlan bergumam. Justru tingkah laku Alexa yang merugikan orang lain itu membuatnya menjadi dikenal banyak orang.
Dia pernah ditangkap karena narkoba. Apakah sampai sekerang dia masih menyentuh barang itu? lalu kenapa Alexa begitu takut dengan gelap? Azlan menggelengkan kepala, kenapa harus ikut-ikutan kepo.
“Segitu tenarnya yang namanya Alexa, Gubernur aja kalah tenar. Masak sih lo nggak tau siapa gadis yang jadi nonanya lo itu?” ungkap Arul.
__ADS_1
Tentu saja Azlan tidak pernah tahu dengan persoalan seperti itu. Memangnya apa yang perlu ia tahu? Jika membicarakan Al Quran yang sampai saat ini masih dia pelajari, mungkin Azlan lebih tahu.
“Dia itu suka bikin heboh dimana-mana. Suka berbuat sesuatu di luar nalar. Dan menggemaskan,” lanjut Arul sembari mengerlingkan sebelah mata.
“Cuci dulu pikiran lo!” Azlan mengusap muka Arul dengan telapak tangannya. “Memang bener, kamu perlu banyak-banyak beristighfar.”
Arul malah tertawa. “Sorry Lan, memang gini dari sononya. Suka gemes sama cewek kayak Alexa.”
“Kayaknya lo perlu dikenalin ke cewek pesantren deh biar tuh cewek bisa menuntun lo ke jalan yang bener.”
“Gue mah masih muda. Nggak usah dituntun, entar kalo udah jadi kakek baru dituntun.”
Ponsel di saku celana Azlan berdering. Azlan merogoh ponselnya dan melihat nomer tak dikenal memanggil. Tiba-tiba Azlan teringat pesan Bundanya tadi pagi.
‘Kamu nanti telepon Mekka ya. Nomernya bentar lagi Bunda kirim.’
__ADS_1
Itu adalah kata-kata Bunda Dinda, membuat Azlan teringat ujung nomer itu sama dengan nomer yang kini meneleponnya. Azlan belum menunaikan amanah Bundanya untuk menelepon Mekka, tapi Mekka sudah menelepon duluan.
Azlan merasa canggung menjawab telepon itu. Berbicara dengan gadis yang akan menjadi calon istri terasa berbeda dengan saat ia berbicara dengan para gadis sekantor yang selama ini tidak menyandang status apapun terhadapnya. Ya Tuhan.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumssalam. Kenapa belum telepon ke nomer ini? bunda suruh kamu telepon, biar kamu kenal sama Mekka. Biar kamu taarufan sama dia.” Bukan suara gadis asing yang Azlan dengar, melainkan suara bundanya.
Kecanggungan Azlan memudar. Karena ternyata lawan bicaranya sekarang adalah Bundanya sendiri.
“Bun, maaf. Sejak tadi aku sibuk.”
“Apa sekarang masih sibuk?”
“Enggak, kok.”
__ADS_1
“Bisa Bunda bicara sebentar? Bunda bukannya mendesak kamu, Bunda cuma ingin kemu mengenal calon istrimu. Lebih cepat lebih bagus, bukan? Ini sekarang Bunda lagi sama Mekka. Calon mertuamu masak enak dan menyuruh Mekka nganterin rantang ke rumah, isinya perkedel kesukaanmu, juga ada opor ayam. Sayangnya kamu nggak ada di sini. Kamu bicara sebentar sama Mekka ya.”
TBC