
Azlan membuka kontak dan menemukan nama Mekka. Niat hati ingin menelepon gadis itu. Tapi enggan. Apa yang akan mereka bicarakan? Jempol Azlan sudah menyentuh nama itu dan akhirnya dia pencet. Dia hanya bisa terdiam ketika akhirnya suara Mekka menyahut di seberang.
“Assalamu’alaikum, Mas.”
Jeda beberapa detik.
“Mas!”
“E eeh.. Iya, Wa’alaikumsalam.” Azlan tergagap seraya menggeleng-gelengkan kepala.
“Kok, ngelamun, Mas? Kenapa? Ada masalah?” Mekka berusaha bersikap hangat meski dengan suara bergetar karena grogi. Dia selalu mengumpulkan kata-kata di kepala setiap kali berbicara dengan Azlan. Gugup bukan main, sampai-sampai kalimatnya akan menjadi belepotan jika kata-katanya tidak disusun terlebih dahulu.
“Enggak, Mekka. O ya, gimana kabar Om Anjas sama Bibi Veti?”
Mekka menggigit bibir sambil terpejam gemas mendengar Azlan menanyakan kabar kedua orang tuanya. “Baik, Mas.”
“Bagaimana respon mereka tentangku?” Azlan membuka pintu balkon dan berdiri di teras balkon menikmati pemandangan luar.
“Jangan ragukan respon kedua orang tuaku, Mas. Mereka sangat meridhai hubungan kita. Ayah juga sempat beberapa kali menanyakan kapan Mas pulang dan... dan kapan datang ke rumah.” Mekka malu-malu mengucapkan kalimat itu. Harapan untuk bertemu Azlan sangat tinggi hingga ia nekat menyampaikan apa yang Ayahnya katakan supaya Azlan cepat pulang menemuinya.
“Iya, Alexa. Secepatnya aku akan pulang.”
“Apa, Mas? Alexa?” Mekka mengernyit bingung. Siapa Alexa? Kok, Azlan menyebut nama Alexa?
“Alexa apa maksudmu?” Azlan malah bingung mendengar Mekka menyebut nama Alexa.
__ADS_1
“Kamu sebut nama Alexa tadi.”
Azlan tergagap kebingungan lalu menabok pelan mulutnya sendiri. Bagaimana bisa lidahnya menyebut nama Alexa tanpa sadar? Ingat Azlan, yang sekarang sedang berbicara itu adalah Mekka. Gumam Azlan dalam hati. Kok lidahnya bisa kesleo menyebut nama Alexa?
Azlan berjalan kesana-kemari sembari mengacak rambut.
“Mas!”
“Iya iya, Mekka.”
“Kok, diem? Mas beneran nggak pa-pa nih?”
“Entahlah, aku lagi kurang konsentrasi. Mungkin karena belum makan. Agak laper.”
“Ya udah, Mas makan aja dulu. Nanti sakit.” Mekka duduk di kursi depan cermin rias, menatap wajahnya yang mendadak terlihat galau. Apakah kegalauannya itu pengaruh nama Alexa yang disebut Azlan tadi?
Azlan terkejut mendengar pertanyaan itu. Namun detik berikutnya dia kembali mengubah perasaan supaya tidak canggung dengan cara menarik napas dalam-dalam dan melepasnya perlahan. Dia tidak punya hubungan apa-apa dengan Alexa. Lantas kenapa dia segugup itu ketika ditanya siapa Alexa? Seakan-akan dia memiliki hubungan khusus dengan Alexa.
“Ooh... Itu. Alexa itu bosku. Setiap hari aku menyebut namanya, jadi lidahku kebiasaan menyebut nama itu.”
Mekka mengangguk lega sambil tersenyum tipis. Ternyata Alexa adalah bosnya, pantas saja mengisi pikiran Azlan karena sehari-hari pria itu menyebut nama itu. Tadinya Mekka mengira Alexa adalah seseorang yang istimewa di mata Azlan sampai-sampai Azlan kepikiran nama itu terus.
“Nggak lama lagi aku pulang,” celetuk Azlan, berharap Mekka tidak akan berpikir hal buruk tentangnya setelah nama Alexa dia sebut.
“Serius, Mas?”
__ADS_1
“Iya.”
“Alhamdulillah.”
“Ya udah, aku tutup teleponnya. Asslamu’alaikum.”
Mekka menjawab salam dan Azlan menutup telepon.
“Ya Allah, apakah benar Mekka yang jadi jodohku?” Azlan mengepalkan tangan dan meletakkan kepalan tersebut ke keningnya dengan mata terpejam. Ia balik badan dan terkejut saat mendapati Alexa sudah berdiri di sana.
Azlan terkejut dan perasaannya was-was. Apakah Alexa mendengar perkataannya tadi tentang Mekka? Semoga tidak. Ya ampun, kenapa Azlan merasa tidak nyaman jika Alexa mengetahui ada gadis bernama Mekka yang akan menjadi istrinya?
Alexa berdiri dengan kedua tangan menyilang di dada, lipatan tangannya itu menarik kaos di dadanya hingga membuat kaosnya mengetat dan memperjelas bulatan di dadanya. Switer di pundaknya.
Azlan menarik ujung switer yang menjuntai di pundak Alexa dan menyampirkannya ke pundak satunya sehingga dada gadis itu tertutupi.
Alexa tampak tidak perduli dengan apa yang dilakukan oleh Azlan.
“Aku mau pergi ke kafe, ikut aku!” Alexa balik badan kemudian melenggang.
Azlan melepas nafas lega, sepertinya Alexa tidak mendengar perkataannya tentang Mekka. Ia mengikuti Alexa keluar.
***
TBC
__ADS_1
Sabar ya gaes, kapan Azlan menghalalkan wanita, dia pasti merid, maunya sama Alexa apa Mekka nih?