
“Sepertinya kamu kurang sehat. Apa kamu mau minum hangat?” Atika menjulurkan gelas di tangannya ke arah Alexa.
Alexa menatap minuman rasa jeruk di tangan Atika, kemudian tatapannya kembali ke wajah Atika. “Kau masih di sini? Kenapa kau nggak pulang?”
“Pulang? Hei, bangun dari tidur panjangmu. Apa kamu lupa? Ini rumah suamiku, aku memiliki hak untuk turut menempati rumah ini. Kalau kau nggak suka, kamulah yang mesti pergi dari rumah ini. Setelah itu kamu bukan siapa-siapa lagi di sini.”
Alexa menatap sinis ke arah Atika. “Dasar parasit! Beraninya kau menghinaku. Apa masih kurang harta yang udah papa berikan buat lo?”
Senyum lebar di wajah Atika langsung lenyap. Mukanya memerah dan matanya melebar. “Jaga ucapanmu! Kalau aku mau, Papamu bisa membuatmu angkat kaki dari sini atas perintahku.”
“Cih!” Alexa bangkit berdiri. Dengan nafas tersengal dan wajah merah padam, ia melangkah mendekati Atika dan tangannya sudah menjulur ingin mencakar mulut wanita itu. Namun gerakan tangannya tertahan saat Azlan datang dan memeganginya. Alexa menoleh, menatap Azlan yang sudah berdiri di sisinya.
“Alexa, jangan lakukan!” pinta Azlan.
__ADS_1
“Wanita iblis ini bicara semaunya aja. Dia pantas mendapatkannya,” ucap Alexa sangat kesal.
“Alexa, ingat tugas keduamu? Saat ini masih berjalan.” Azlan menatap mata Alexa teduh.
Astaga! Tugas dari Azlan baru saja dibicarakan dan sekarang haruskah dia menahan emosi saat berhadapan dengan wanita yang sangat dia benci itu? Wanita itu sungguh tidak pantas mendapat sambutan baik darinya. Bagaimana bisa ia menahan emosi saat harus berhadapan dengan Atika? Ya ampuuun… ternyata tugas kedua tidaklah semudah yang dia bayangkan. Kalau ia tidak melaksanakan tugas itu, tentu Azlan akan mengancam dengan kalimat yang sama seperti yang sudah-sudah. Alexa jelas tidak ingin melihat Azlan bersama wanita lain. Dia sangat mencintai Azlan. Andai kalimat ancaman itu kembali terucap dari bibir Azlan, sebenarnya Alexa bisa saja membalas ucapan Azlan dengan mengatakan kalau dia juga bisa bersenang-senang dengan pria lain jika saja Azlan akan bersenang-senang dengan wanita lain, tapi bukan itu yang dia harapkan. Dia tidak ingin ada orang ketiga, baik dari pihaknya ataupun pihak Azlan. Maka ia tidak mau menduakan Azlan.
Nafas Alexa masih tersengal menahan emosi di dadanya. Ya, dadanya seperti terbakar, panas.
“Suruh wanita iblis itu keluar dari rumah ini, maka aku akan bisa melakukan tugasku dengan baik,” ucap Alexa sambil menatap horror ke arah Atika.
“Dia telah menghinaku, Azlan.” Suara Alexa bergetar menahan gemuruh emosi.
“Alexa, jika dihina lalu balas menghina, maka akan ada dua orang hina,” ujar Azlan dengan lembut.
__ADS_1
Kalimat yang diucapkan Azlan terasa menohok di hati Alexa. Kalimat itu sederhana, namun memiliki ruang kebijakan dan makna yang sangat dalam.
Ekspresi wajah Alexa yang tegang berubah, sorot matanya yang nanar kembali normal.
“Biarkan dia melakukan apapun yang dia mau, jangan perdulikan itu.,” sambung Azlan berusaha membantu untuk melunturkan kekesalan Alexa.
Alexa melepaskan tangannya dari pegangan Azlan, kemudian ia melangkah pergi dan naik ke lantai atas.
“Wow, amazing! Aku nggak menyangka Alexa begitu patuh padamu. Lihatlah, dia menuruti kata-katamu. Sepertinya kau memiliki kekuatan di matanya,” ujar Atika sambil menghempaskan tubuhnya duduk di sofa, kemudian ia meneguk minumannya sambil menatap Azlan yang berdiri di sisi sofa.
“Aku suaminya, tentu Alexa menuruti suaminya. Alexa wanita baik yang mengerti dengan urusan pernikahan, dia tahu bagaimana caranya dia akan ikut ke surga bersamaku, tentu dia akan menurutiku semasa ucapanku adalah benar, termasuk untuk tidak melawanmu, karena kau adalah ibunya. Sama sepertimu yang tentunya juga mesti menuruti suami.” Azlan melenggang pergi setelah mengucapkan kata-kata itu sambil membawa segelas air minum yang sejak tadi dia pegang.
Atika terdiam dan tidak membalas, keningnya terlipat berpikir.
__ADS_1
TBC