Suami Sensasional

Suami Sensasional
Seratus Lima Puluh Dua


__ADS_3

Di hari pertama memulai tugas ‘tidak boleh marah’, Alexa merasa terbebani karena kebiasaan buruknya yang suka marah-marah dan mengomel itu sulit ditinggalkan. Bagaimana tidak, untuk hal kecil saja Alexa sering kali uring-uringan. Seperti contohnya pagi itu, ia mesti harus merasa muak saat mencari sandal yang senada dengan warna bajunya tidak didapati di rak sandal.


“Weniiii!” seru Alexa memanggil asisten rumah tangganya.


“Ya, Non. Saya datang!” Weni muncul bersama senyum lebar.


Alexa hampir saja memuntahka kekesalannya karena saat ia harus secepatnya sampai ke kantor, tapi malah disibukkan dengan mencari sandal. Namun kemarahannya tertahan, ia ingat bahwa ia tidak boleh marah. Terpaksa ia harus menahannya dan menanyai Weni baik-baik.


“Sandalku yang di sini mana?” Alexa menunjuk rak sandal yang kosong.


“Sandal yang warna merah bata?”


“Iya.”

__ADS_1


“Ooh… Kemarin saya lap dan lupa membawanya kesini lagi,” jawab Weni sambil cengar-cengir. Seperti biasa, sandal Alexa dipakai Weni untuk jalan-jalan. Ukuran kaki Alexa dan Weni yang tidak jauh berbeda, membuat Weni kerap kali nakal menjajal sandal dan membawanya jalan-jalan agar terlihat elit.


“Ya udah, cepat bawa ke sini. Aku mau pakai!”


“Oke, Nona.” Weni menghambur pergi. “Tumben Nona Alexa nggak marah, biasanya kasus sepele aja dia ngomelnya parah banget. Ini tumben keliatan manis. Semenjak nikah ama tuan muda ganteng, Nona Alexa banyak berubah. Cucok deh.” Weni bicara sendiri, udah kayak di sinetron-sinetron aja.


Tak lama kemudian weni kembali membawa sandal ke hadapan Alexa. ia meletakkan sandal di depan Alexa yang saat itu tengah duduk di sisi ranjang.


Alexa mengernyit menatap sandalnya. Bukankah Weni bilang sendalnya itu baru saja dilap dan dibersihkan dari debu? Lantas kenapa ia melihat sebutir nasi nempel di sendalnya?


“Eh, iya Non?” Weni was-was takut ada kesalahan lagi.


“Ini apa?” Tanya Alexa menunjuk sebutir nasi yang nangkring di sendalnya.

__ADS_1


“Eh oh.. Lah, itu sesajen kok bisa nemplek di situ?” Weni menyentil nasi tersebut dengan jarinya hingga terjatuh ke lantai. Mungkin si nasi terjatuh ke sandal itu saat Weni sedang makan di restoran bersama gebetannya. Halah, si nasi pakai acara numpang sandal segala supaya bisa menikmati rumah mewah.


Alexa sebenarnya ingin memerintah Weni membersihkans endalnya dengan tisu, tapi kelamaan. Sederet omelan yang sejak tadi menyerbu benaknya pun dia telan dalam hati. Dia kemudian memakai sandal itu dan melenggang pergi.


Bukan hanya itu saja, dalam kurun waktu yang hanya beberapa menit saja, Alexa sudah mendapatkan banyak ujian. Dan dia benar-benar sedang belajar sabar. Di perjalanan menuju kantor, mobil sempat banting stir ke kiri akibat hampir berserempetan dengan mobil yang berlawanan arah.


Alexa yang tubuhnya sempat tergoyang akibat gerakan mobil pun, hanya diam. Pandangannya tertuju ke ponsel setelah melirik sebentar ke arah sunil di bagian kemudi. Sunil yang menyetir pun sempat melirik ke spion, mengintip ekspresi majikannya yang ternyata baik-baik saja, tidak terlihat ekspresi horror.


Azlan yang berada di sisi Alexa, menatap Sunil kemudian bertanya, “Ada apa, Sunil?”


“Itu tadi mobil dari arah berlawanan ngebut banget, Tuan. Hampir makan jalan kita lagi,” jawab Sunil.


Azlan tidak lagi mengomentari.

__ADS_1


TBC


__ADS_2