
Pertemuan di ruang kerja Alexa dengan Pak Syarif membuat hubungan kerja antara perusahaan Pak Joan dengan perusahaan Pak Syarif yang beregrak di bidang yang sama semakin membaik.
Alexa meninggalkan ruangan setelah menyudahi obrolan santainya dengan pak Syarif. Ia membiarkan Azlan dan Pak Syarif bertukar pendapat di ruangan itu untuk melanjutkan perbincangan sesama lelaki.
Alexa melangkah di koridor sambil memainkan ponsel. Seperti biasa, aplikasi instagram menjadi pusat perhatiannya. Pandangannya yang terus tertuju ke ponsel, membuatnya tak sadar telah menabrak office boy yang membawa beberapa gelas minuman. Gelas goyang dan tumbang di atas nampan, airnya tumpah ke luar.
Alexa mengangkat wajah dan terkejut melihat air gelas tersebut mengenai baju Mekka yang kebetulan melintas di koridor yang sama.
Sontak Mekka mengusap pakaian bagian perut yang terkena kopi
“Sorry, aku sungguh nggak melihat jalan.” Alexa menjulurkan tangan ingin membantu, setidaknya membersihkan baju Mekka. Namun ia bingung harus membersihkan dengan menggunakan apa sebab di tangannya kini tidak memegang apa pun, termasuk sapu tangan.
“Nggak apa.” Mekka tersenyum sambil mengibas-ngibaskan bajunya, berusaha menjauhkan kain dari kulit perutnya. “Ini bukan apa-apa. Aku terbiasa dnegan hal-hal seperti ini.”
“Tapi itu pasti panas. Ayo kuantar ke klinik terdekat.”
“Jangan cemas. Ini hanya air hangat saja. Aku nggak merasa kepanasan.” Mekka tersenyum menatap kecemasan Alexa. ia kemudian melirik bajunya yang menjadi hitam akibat tersiram air kopi. Awalnya memang terasa panas pada bagian kulit perutnya, namun rasa panas itu hanya sepersekian detik saja dia rasakan. Detik berikutnya rasa panas itu tidak lagi terasa akibat tersapu dinginnya AC ruangan.
“Baiklah kita ke toilet. Akan kubantu membersihkan pakaianmu.”
“Nggak perlu. Aku bisa melakukannya sendiri,” lembut Mekka.
“Selamat siang!” sapa sosok pria yang baru saja muncul.
__ADS_1
Sejurus pandangan tertuju kepada pria itu. Tak lain Yakub. Pria berkemeja putih dipadu dasi cokelat itu tersenyum, dibalas senyum oleh Mekka dan office boy. Kecuali Alexa yang hanya menganggukkan kepala singkat.
“Apa ada masalah? Adakah yang bisa saya bantu?” tanya Yakub. Pandangan Yakub tertuju ke pakaian Mekka yang menghitam. “Sepertinya bajumu kotor tersiram kopi. Ini aku ada sapu tangan untuk membersihkannya.” Yakub memberikan sapu tangan yang baru saja ia rogoh dari kantong celana kepada Mekka.
“Terima kasih.” Mekka menyambutnya dan mengusap bagian yang kotor dnegan sapu tangan.
“Aku nggak sengaja membuat pakaian Mekka menjadi seperti ini. Oh… Sepertinya hari ini aku terlalu ceroboh.” Alexa menyalahkan dirinya sendiri. Pandangan Alexa beralih ke arah Office Boy. “Hei, kenapa malah bengong? Cepat bantu Nona Mekka!” hardik Alexa pada office boy yang terdiam dan bingung.
“Eh iya. Baik, Nona!” Office boy kemudian menatap Mekka dan berkata, “Mari, Nona. Saya antar ke toilet.”
Mekka mengangguk.
“No no. Tidak perlu kau antar Nona Mekka. Biar aku yang antar dan menunjukkan toiletnya,” ujar Yakub.
Mekka menatap pria asing yang tidak dia kenal itu. berperawakan tinggi dan rapi. “Baiklah.”
“Oke.” Mekka mengangguk kemudian berlalu pergi bersama Yakub yang mengantar menuju ke toilet.
“Nona Mekka, saya dengar Anda adalah sekretaris Pak Syarif, direktur salah satu perusahan multinasional. Benar begitu?” Yakub seperti sedang berbasa-basi.
“Ya, benar.”
“Ooh… Saya kenal baik dengan beliau. Sebelum Anda, sekretarisnya adalah Nona Jasmine.”
__ADS_1
“Sepertinya Anda… Siapa nama Anda?”
“Kenalkan, saya Yakub. Wakil Azlan di sini.”
“Saya Mekka Ghifari.”
“Saya pernah mendengar nama itu.”
“Ooh… Berarti nama saya pasaran.”
“Bukan begitu. Kamu satu kampung dnegan Azlan bukan?”
Mekka tertegun mendengar nama Azlan kembali disebut. “Mm.. I iya. Bagaimana Anda bisa tahu?”
“Saya sahabat dekat Azlan, dan saya beberapa kali ikut ke kampung halaman Azlan saat dia pulang kampung.”
“Dan Anda melihat saya?”
“Ha haaaa…” Yakub tertawa ringan. “Ini toiletnya.” Yakub menunjuk pintu arah toilet.
“Terimakasih. Saya permisi.”
Yakub mengangguk dan berlalu pergi.
__ADS_1
Di sisi lain, Alexa menuju ke basement, menunggu Mekka di mobil. Ia teringat sikap Mekka tadi. Otaknya sedang bekerja memberikan penilaian terhadap diri Mekka, wanita yang baik dan selalu murah senyum sekalipun seharusnya dia dalam keadaan kesal.
BERSAMBUNG