
“Aku akan ada party kecil-kecilan sama temen-temen kuliahku,” ujar Alexa pada Azlan saat ia duduk di salah satu meja sebuah kafe.
“Kalau begitu kita pisah meja aja, aku takut akan mengganggu privasimu.”
“Nggak usah! Aku nggak bilang kehadiranmu akan mengganggu privasi kami.”
“Lalu, apakah aku harus duduk gabung dengan kalian?”
“Tentu.” Alexa duduk di salah satu kursi dan meletakkan tasnya di meja. “Aku udah booking meja ini sebelumnya. Duduklah!” Alexa menunjuk kursi di depannya dengan dagunya.
Azlan tampak enggan, namun kemudian ia duduk juga.
“Aku udah janjian dengan papa di sini, dan dia berjanji akan menemuiku, kami akan merayakan ulang tahunku secara privat di sini,” ucap Alexa. “aku udah booking tempat untuk aku dan papa nanti.”
“Kalau nona merayakan ulang tahun di sini bersama Pak Joan, bagaimana dengan teman-teman nona nanti? Bukankah mereka juga akan makan bersama nona di sini? Itu artinya nggak privat karena ada orang lain selain Pak Joan.”
“Aku janjian sama papa jam lima nanti, dan sekarang ini adalah waktuku bersama teman-temanku. Aku udah atur scedhule.”
“Bukankah Pak Joan sempat bilang kalau beliau sibuk dan nggak ada waktu hari ini?” Azlan mengingat perkataan Pak Joan yang sempat menolak tawaran Alexa untuk perayaan ulang tahun.
“Ya. Tapi aku udah bicarakan lagi soal ini ke papa, dan dia berubah pikiran. Dia akan meluangkan waktunya untukku.”
__ADS_1
Azlan mengangguk.
Tak lama seorang pelayan datang.
Azlan melirik pelayan sebentar kemudian bertanya pada Alexa, “Kita menunggu teman-temanmu datang dulu baru pesan makanan kan?”
“Nggak perlu, kita pesan sekarang aja. Mereka sebentar lagi juga datang.”
“Oke. Aku Chicken katsu! Minumnya es kopi Vietnam,” pesan Azlan pada pelayan restoran sembari menunjuk menu.
“Sama,” jawab Alexa saat tatapan pelayan tertuju ke arahnya dan pelayan segera pergi.
Azlan mengangkat alis mendengar Alexa yang memesan makan dan minum sama persis dnegan pesanannya.
Mereka menunggu beberapa saat hingga seorang pelayan muncul menyajikan pesanan yang masih panas.
Alexa menyilangkan kaki, menaruh kaca mata di atas kepala.
Tak lama seorang pria dan dua wanita muncul mendekati meja yang dihuni Alexa dan Azlan.
“Halo!” Alexa melambaikan tangan pada tiga manusia yang datang.
__ADS_1
“Halo!” seorang gadis membalas sapaan Alexa. dia mencium pipi kiri dan kanan Alexa, satu gadis lainnya juga melakukan hal yang sama.
Seorang lelaki berkaos hitam tak tinggal diam, dia juga mencium pipi kiri kanan Alexa.
Kemudian ketiganya duduk di kursi yang tersisa. Di kiri kanan Azlan, duduklah dua gadis cantik, sementara kursi di sebelah kanan Alexa diduduki oleh teman prianya.
“Kenalin ini Azlan!” Alexa memperkenalkan Azlan pada teman-temannya. “Dia pegawai papaku.”
Azlan mengangguk singkat menatap wajah-wajah asing itu, disambut dengan senyum lebar oleh ketiganya.
“Ini Lia, ini Nesa, dan ini Marvel,” sebut Alexa memperkenalkan tiga temannya pada Azlan. Kembali Azlan mengangguk.
Tak lama seorang pelayan muncul lagi. Ketiga teman Alexa memesan makanan dan diangguki oleh pelayan. Tidak butuh waktu lama untuk pelayan menyajikan hidangan. Kemudian kelimanya mulai menyantap makanan.
“Lo makin cantik, Alexa. Gue hampir nggak mengenali muka lo,” ucap Marvel sembari menatap wajah Alexa intens dan penuh dengan kekaguman.
“Oh ya? Inilah Alexa yang sekarang.” Alexa tertawa renyah, betapa ia terlihat ceria dan bahagia.
“Gue bakalan betah di rumah kalau memperistri elo.”
Lia dan Nesa tersenyum mendengar pernyataan Marvel.
__ADS_1
Azlan mengalihkan pandangan ke piringnya. Tiba-tiba selera makannya musnah dalam seketika waktu. Apakah mungkin nafsu makannya hilang hanya gara-gara melihat Alexa tersenyum saat dipuji lelaki?
TBC