
Alexa sedang duduk di dalam taksi yang melaju. Hari ini Alexa sedang malas menyetir mobil sendiri, ia juga sedang tidak mood pergi bersama Sunil, jadi ia memilih untuk naik taksi saja.
Tak lama kemudian ia turun dari taksi. “Tungguin di sini, Pak. Gue nggak lama, kok.”
“Baik, Nona,” jawab supir taksi.
Alexa memasuki pekarangan dan mengetuk pintu rumah kontarakan Azlan, beberapa kali ia mengulang ketukannya. Hasilnya sama saja, nihil. Tidak ada jawaban.
“Huuufth…” Alexa meniup anak rambutnya yang menjuntai ke depan hidungnya. Ia sudah mencoba untuk menelepon Azlan namun nomernya tidak aktif. Sekarang ia mengunjungi rumah kontrakan yang dulu ditempati Azlan, namun sepertinya rumah itu kosong.
“Nona mencari siapa?”
Suara dari arah belakang membuat Alexa menoleh. Ia mendapati seorang wanita setengah baya di dekat pagar rumah.
__ADS_1
“Azlan, pria yang menempati rumah ini.”
“Ooh… Udah lama Mas Azlan nggak ke sini lagi, kok,” jawab ibu itu. “Saya pemilik kontrakan ini. Nona siapa, ya?”
“Aku istrinya.”
“Loh, Mas Azlan udah menikah? Kok, saya baru tahu? Duuh, istrinya cantik banget,” puji Ibu itu sambil mengamati kecantikan Alexa. “Tapi ngomong-ngomong gimana ceritanya Nona yang sebagai istrinya bisa nggak tahu kemana perginya Mas Azlan?”
Tatapan mata Alexa mulai terlihat sinis, pertanyaan ibu itu mengundang kekesalannya. “Emangnya aku mesti pasang cctv di ketiak suamiku biar aku tau kemana dia pergi?”
Alexa menghempaskan tubuh duduk di sisi teras. Tidak ada kursi di sana, jadi ia terpaksa termenung di teras dengan kaki selonjor, persis seperti anak kecil. Perasaannya kini sedang sangat kesal akibat ulah Atika, dan bertambah kesal saat ia tidak menemukan Azlan. Disaat sedang gundah begitu, ia hanya butuh tempat sandaran, yaitu bahu Azlan. Tapi pria itu malah menghilang entah kemana. Nggak mungkin kan Alexa meminjam bahu ibu pemilik kontrakan tadi untuk nyender? Astaga, mikir apa sih dia?
“Nona Alexa, kenapa Nona di situ? Bukankah Azlan udah nggak menempati rumah itu lagi?” seru Arul yang kebetulan melintas, ia masih dalam posisi duduk di atas motor yang mesinnya masih menyala.
__ADS_1
Alexa bangkit berdiri kemudian setengah berlari mendekati Arul. “Kamu bilang sana ke Yakub untuk handle meeting hari ini, aku nggak masuk kerja.”
“Kenapa Nona nggak telepon saja ke Yakub atau mengirimkannya email berupa surat tugas, takutnya nanti tidak resmi jika hanya sekedar ucapan dari mulut saja” jawab Arul setelah menahan napas selama beberapa detik akibat deg-degan menatap Alexa yang berjarak sangat dekat dengannya. Inilah kali pertamanya Arul menatap Alexa dari jarak sedekat itu. Dan memang benar, kecantikan Alexa bukanlah sekedar isu semata. Ingat Rul, itu istri orang. Masih aja mengaguminya.
“Jangan balik memerintah. Kamu kerjain aja perintahku!” hardik Alexa membuat Arul spontan mengangguk patuh.
“Ya sudah, saya ke kantor dulu. O ya, Nona, ada yang lupa, boleh saya pesan sesuatu kepada Nona?”
“Apa?” ketus Alexa yang sejak tadi membawa rasa dongkol sejak di rumah.
“Mmm…. salam buat teman Nona, Jesy.” Arul mengulumm senyum setelah mengucapkan kalimat itu.
Alexa mengangkat alis dan langsung masuk ke dalam taksi yang menunggu, taksi melesat meninggalkan Arul.
__ADS_1
TBC