Suami Sensasional

Suami Sensasional
Seratus Satu


__ADS_3

Alexa melangkah memasuki rumah besarnya. Ia menoleh ke kiri kanan. Tidak ada siapa-siapa di rumah luas itu. Sepi. Ya ampun, rumah segede gitu tapi penghuninya kosong.


“Weeen! Weni!” teriak Alexa memanggil asisten rumah tangganya yang ganjen.


“Ya, Non!” Gadis yang katanya nangis kejer sampai semalam suntuk setelah Azlan menikah dengan Alexa itu muncul dari arah dapur. Ia tersenyum melihat majikannya yang cantik jelita sudah pulang dari panti rehabilitasi. “Ini beneran Non Alexa?”


“Jadi kamu pikir siapa? Kuntilanak?”


Lah, bukan saya yang ngomong loh.” Weni cekikikan.


“Ngejawab lagi lo. Penghuni rumah ini pada kemana? Kenapa rumah ini sepi banget kayak kuburan? “


“Ya ampun, baru aja Non nyebut kuntilanak, sekarang nyebut kuburan. Udah serem aja bawaannya. Bentar lagi genderuwo lagi.”


“Wen, gua nanya bukannya lu jawab malah ngelantur?” Alexa memperlihatkan ekspresi tegas membuat Weni langsung menutup mulutnya dnegan telapak tangan. “Selama Non di rehabilitasi, kan Tuan Muda Azlan kabarnya ke Riau untuk mengurus proyek baru, trus Tuan Tua ke luar negeri bersama istri barunya.”


“Tuan Tua? Siapa Tuan Tua maksud lo?”

__ADS_1


“Tuan Mudanya kan Mas Azlan, Tuan Tuanya ya Pak Joan. He heee..”


Alexa geleng-geleng ekpala melihat tingkah Weni. Ingin menjitak kepala Weni biar nggak nyablak tapi percuma, bawaan Weni memang suka nyerocos. Udah ganjen, cerewet, suka ngejayus lagi.


Alexa menghempaskan tubuh ke sofa. Ia tidak ingat kemana papanya pergi sebab papanya pergi tanpa berpamitan padanya. Ia hanya ingat perpisahannya dengan Azlan terakhir kali. Setelah itu, ia tidak lagi berkomukasi dengan pria yang sangat dia rindukan itu. Dari ke sekian banyaknya hal-hal yang membuatnya rindu pada pria itu, hanya satu yang sangat dia rindukan, keperkasaannya di ranjang. Ups… itulah sebabnya Alexa selalu saja memulai untuk membangunkan hasrat Azlan karena ia selalu dibikin mabuk kepayang saat melakukannya. Alexa tersenyum geli mengingat percintaannya dengan Azlan yang selalu saja panas saat di ranjang.


Ia sangat paham dengan kondisi lokasi proyek yang jauh dari jangkauan listrik hingag sulit dihubungi. Lalu kepada siapa ia mengadu akan kerinduannya itu? Kapan Azlan pulang? Apakah ia harus menyusul Azlan? Ah, tidak logis rasanya ia menyusul Azlan hanya sebatas alasan rindu.


Alexa kemudian menelepon Idris, security di rumahnya yang ia kenal sebagai security siaga. Tak lama kemudian Idris muncul.


“Jangan lebai lu!” Alexa melambaikan tangan di depan wajahnya.


“Oh… Kirain ada yang jahat.”


“Selama nggak ada tuan rumah di sini? Apa yang terjadi? Apakah rumah ini baik-baik aja?”


“Baik banget, Non. Nggak ada yang berani macem-macem karena kan saya yang jaga.” Idris ke pe de-an.

__ADS_1


Weni yang melintas memonyongkan bibir mendengar pernyataan Idris.


“Wen, bikinin kopi untuk Idris, biar dia nggak ngantuk sata berjaga,” titah Alexa.


“Baik, Non.” Weni putar arah kemudian balik ke dapur lagi.


Alexa menanya-nyanyai banyak hal kepada idris mengenai rumahnya semasa ditinggal pergi dan Idris menjawab apa adanya. Semuanya baik-baik saja.


Tak lama kemudian Weni muncul membawa kopi panas. “Ini kopinya, Mas Idris!”


“Aku lebih suka kopi pakai susu,” ucap Idris.


“Aku udah tahu seleramu kok, Mas. Ini udah kukasih susu. Jadi Mas Idris maunya susu yang mana lagi? Susu kaleng atau susu gantung tinggal pilih.”


Idris membelalak mendengar gurauan Weni. Gadis itu ya ampun. Weni terkikik setelah mengucapkan kata-kata itu. Dari dulu dia memang nyablak. Bicara pun suka ngawur, asal ceplos. Weni langsung lari ngibrit ke dapur sebelum mendapat protes sang majikan.


TBC

__ADS_1


__ADS_2