
“Non!”
Sayup-sayup terdengar suara memanggil, membuat Alexa membuka mata. Ia melihat wajah Weni yang berdiri di sisinya.
“Kok, Non tidur di sini? Apa ranjang di kamar sudah dijual?” Weni menepuk mulutnya setelah mendapat tatapan tajam dari Alexa. “Eh, ini Non, ada tamu nyariin Enon.” Weni menunjuk Kikan yang berdiri di belakangnya.
Alexa bangkit duduk. Seperti mimpi, ia harus kembali dipertemukan oleh wanita bermulut cabe itu. lihatlah, bahkan sisa kuah sate bekas pertempuran di kantor tadi masih menempel sebesar biji jambu di kening tepat dekat rambut wanita itu. ya ampun, sepertinya Kikan tidak begitu teliti saat membersihkannya sampai-sampai masih ketinggalan secuil di jidat.
Weni bergegas pergi ke belakang.
Atika tampak memasuki rumah dan melintasi ruangan. Ia melangkah naik ke lantai atas, tak peduli dengan adanya Alexa dan Kikan yang berada di ruangan itu.
“Kenapa kau temui aku di sini?” Alexa menatap Kikan sinis.
Bola mata Kikan berputar mengamati seisi rumah. Ia seperti sedang mencari-cari sesuatu. Ia kemudian meletakkan tas laptop dan beberapa berkas yang sejak tadi dia peluk dnegan satu tangan ke meja.
__ADS_1
“Ini. Aku tidak bisa mengerjakannya sendiri. Kita harus melakukannya bersama-sama,” jawab Kikan sambil duduk di sofa depan Alexa.
“Apa Arul tidak menyampaikan pesanku kepadamu?”
“Arul sudah menyampaikan pesan Anda, tapi aku tidak mau ambil resiko jika berantakan mengerjakan semua ini.”
“Aku akan mengoreksinya, kau kerjakan saja sana!”
“Nona Alexa! aku minta berdamailah, ini bukan saatnya berdebat.”
Weni muncul membawa segelas kopi ginseng dan meletakkannya ke meja.
“Untuk siapa kopinya?” Tanya Alexa pada Weni. Alexa heran kenapa Weni menyajikan minuman kepada Kikan tanpa menanyai Kikan terlebih dahulu apa jenis minuman yang diinginkan oleh sang tamu.
“Untuk Mbak Kikan. tadi Mbak Kikan sudah pesan terlebih dahulu,” jawab Weni.
__ADS_1
Ya ampun, Kikan bahkan sudah memesan minumannya sebelum mendapat sambutan dari Tuan rumah. Artinya dia meyakini kalau dia akan duduk lama di rumah itu.
Weni kemudian pergi setelah memberikan penjelasan pada Alexa.
“Huuuh… Baiklah. Aku akan kerjakan sendiri saja di sini.” Kikan mulai membuka tas laptop dan mengeluarkan laptop.
“Terserah padamu saja.” Alexa memutar badan hendak pergi, namun ia berhenti saat berpapasan dengan Atika yang baru saja menuruni anak tangga dengan langkah tergesa-gesa.
Ekspresi wajah Atika tampak sangat emosi, menatap tajam ke arah Kikan. kemudian ia menyambar gelas yang disajikan di meja dan menyiramkan kopinya ke wajah Kikan.
Sontak Kikan gelagapan sambil berdiri dan mengerjap akibat kepanasan. Untung saja Weni tadi kehabisan air panas sehingga kopi tersebut tidak murni menggunakan air panas melainkan dicampur dengan air dingin. Sehingga rasa panasnya tidak sampai membuat kulit Kikan melepuh. Setelah tadi wajah Kikan tersiram kuah sate, sekarang kopi.
“Siapa kau? Berani-beraninya menyiramku dnegan kopi?” hardik Kikan menatap tajam ke arah Atika.
“Kau yang sengaja berbuat kurang ajar di sini,” balas Atika sengit. “Lihat ini!” Atika menunjukkan chat whatsap milik Joan, suaminya. Ponsel suaminya itu baru saja dia temukan di kamar. Pertama kali masuk kamar, ia langsung menjemput ponsel Joan yang tergeletak di kasur dengan posisi menyala. Ia melihat pesan WA yang belum sempat dibuka oleh Joan, tak lain pesan dari Kikan. di sana tertulis kalau Kikan mengajak Joan berkencan. Dan Joan juga menyanggupinya. Joan bahkan mengatakan kalau ia memiliki banyak waktu untuk Kikan karena ia sedang tidak bersama istrinya. Pada pesan terakhir, Kikan menuliskan kalau dia sudah berada di rumah Joan dan akan menunggu Joan turun. Joan belum sempat membuka pesan tersebut karena kini ia sedang di kamar mandi.
__ADS_1
TBC