
“Hei, Lan. Gue belom selesai ngomong,” tukas Arul memanggil Azlan yang melenggang.
Azlan terus berjalan tanpa menghiraukan teriakan Arul yang memanggil-manggil namanya. Ia menuju ke lbi dan duduk di salah satu kursi. Seperti biasa, ia ingin menanyakan kabar bundanya. Sebab tadi pas di ia masih berada di rumah dan akan berangkat ke kantor, Bundanya minta dikabarin jika Azlan sudah sampai.
Azlan menyentuh-nyentuh saku celana depan, kantong celana belakang hingga ke kantong kemeja, mencari ponsel. Tapi tidak menemukan benda itu. Ia baru ingat telah meninggalkan ponsel di mobil. Segera ia bangkit berdiri untuk menjamput ponsel. Dia keluar ruangan, menelusuri koridor, lalu memasuki lift.
Seseorang menyusul masuk ketika pintu lift hampir tertutup. Azlan merasakan aroma parfum menyeruak memenuhi sepetak ruangan lift.
Lift mulai bergerak turun ketika pintu sudah tertutup.
Angka demi angka terlewati.
Tiba-tiba... Grek.... Lampu berkedip. Lalu lift berhenti.
Lampu lift mati dan berganti dengan lampu darurat pada sangkar lift yang otomatis menyala. Semua alat yang berkaitan dengan baterai cadangan berfungsi otomatis. Kipas angin pada ceiling pun bergerak. Tapi menit kemudian semuanya mati mendadak. Baik lampu daurat, kipas angin dan bahkan semua tombol pun mati.
Gelap.
__ADS_1
“Ini kenapa? Kenapa liftnya berhenti? Ada apa ini?” gadis di samping Azlan histeris. Ia bergerak maju sembari meraba-raba dinding, kemudian tangannya memukul-mukul pintu lift, ia juga memijit-mijit tombol yang nyatanya sudah mati total. Azlan seperti mengenal suara itu.
“Aaaa.....”
Teriakan gadis itu membuat Azlan terkejut dan menoleh ke sumber suara. Tapi ia tidak bisa melihat dengan jelas akibat pandangan yang terbatas. Perempuan memang jago kalau berteriak. Sedikit-sedikit selalu berteriak.
Tiba-tiba Azlan merasakan sepasang tangan melingkar dilehernya dan kini memeluknya erat-erat.
“Pliiis... Jangan begini. Nona, tolong lepasin!” Azlan berusaha melepaskan lengan yang mengalung di lehernya. Tapi pegangan gadis itu sangat kuat hingga Azlan kesulitan melepaskannya.
Tiba-tiba gadis itu menangis ketakutan.
Ya Tuhan, hanya gelap saja gadis itu bersikap sehisteris itu? apa mungkin gadis itu phobia gelap? Azlan bingung.
“Nona, lepaskan!” teriak Azlan dengan nada penuh penekanan hingga gadis itu langsung melepaskan pelukannya dan menjauh, punggungnya terhempas ke dinding lift.
“Mm... Maaf... Bukan maksudku ngebentak kamu. Kita nggak akan kenapa-napa. Ini hanya gelap doang.” Azlan berusaha menenangkan.
__ADS_1
Gadis itu mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya. Lalu menyalakan senter dengan gerakan gemetaran dan kembali memasukkan ponsel ke tas yang resletingnya tidak ditutup hingga lampunya mampu memberi sedikit penerangan meski hanya sebatas remang-remang.
Alexa? Ternyata benar dugaannya.
“Kita akan mati. Kita akan mati kehabisan nafas di sini. ****** gue. Gimana ini, dong?” Gadis itu semakin cemas. Kemudian ia menendang pintu lift sambil mengomel.
Azlan geleng-geleng kepala mendengar ocehan Alexa.
“Nona hanya akan membuang energi dengan melakukan tindakan seperti itu,” ucap Azlan.
“Diam kamu! Kamu nggak tahu kengerian apa yang akan terjadi kalau lampunya nggak menyala juga.”
“Tapi tindakan nona nggak akan membuahkan hasil.”
Alexa tidak mengomentari. Ia malah terus mengumpat tanpa mengindahkan perkataan Azlan. Ia juga mengutuki PLN yang mati mendadak tanpa aba-aba hingga membuatnya merasa ketakutan seperti sedang berada di ambang maut.
TBC
__ADS_1