
Azlan menarik lengan Alexa, membuat tubuh gadis itu bergerak bangun mengikuti tarikan tangan Azlan.
“Hei, jangan ditarik-tarik! Kulitku gampang memar kalau dipegang agak kuat begini.” Alexa meronta berusaha melepaskan diri dari pegangan Azlan.
Azlan tidak bermaksud memegang lengan Alexa dengan genggaman kuat, namun sikap Alexa yang meronta, membuatnya terpaksa melakukannya.
“Maaf aku tetap harus berada di kamar ini, nona. Dan aku nggak bisa berada satu kamar dengan nona.” Azlan menarik Alexa hingga sampai ke ruang depan.
“Aaaaaaaaa…..” Tiba-tiba Alexa berteriak sekencang-kencangnya, membuat Azlan kaget bukan main.
“Kenapa kamu teriak? Kumohon diam!” ucap Azlan dan berhenti menarik lengan Alexa meski tangannya masih memegangi lengan gadis itu.
“Aaaaaaaa…..” Alexa tidak memperdulikan ucapan Azlan, teriakannya semakin kencang.
“Ya Tuhan!” Azlan terpaksa membekap mulut Alexa dengan satu tangannya sementara tangan yang lain membekap tubuh Alexa dari arah belakang.
Teriakan Alexa bisa saja mengundang pertanyaan para tetangga dan kemudian Azlan didatangi para tetangga yang kemudian mempertanyakan hubungannya dengan Alexa. Sungguh sangat buruk bila itu terjadi.
__ADS_1
“Kumohon diam!” pinta Azlan, tanpa sadar napas dari mulutnya menampar lembut pipi Alexa yang kini posisinya berada sangat dekat dengannya.
Alexa yang kini berdiri membelakangi Azlan dengan punggung menempel di dada lelaki itu, mengangguk patuh.
Azlan melepas tangan yang memebekap dari mulut Alexa.
“Trus apa kamu masih akan terus peluk aku kayak gini?”
Azlan buru-buru melepas tubuh Alexa yang baru dia sadari sejak tadi berada dalam dekapannya. Efek reflek, takut teriakan Alexa terdengar sampai ke tetangga, sampai-sampai Azlan mendekap tubuh Alexa tanpa sadar.
“Aku akan cek lampu di kamar tamu.” Azlan berjalan menuju kamar tamu untuk mengecek lampu. Dia mendorong pintu yang memang sudah terbuka. Azlan kemudian menekan tombol sakelar lampu di dekat pintu, lampu plafon menyala. Kamar yang tadinya gelap, langsung terang benderang.
“Tunggu dulu!” Alexa merentangkan tangannya lebar-lebar untuk menghadang langkah Azlan.
Azlan mengangkat alis tinggi-tinggi.
“Aku nggak bisa tidur dengan lampu terang benderang. Lampu tetap harus mati, dan aku seharusnya tidur dengan lampu tidur aja. Cek dulu lampu nakasnya. Aku terbiasa tidur pake lampu nakas.”
__ADS_1
“Oke, fine!” Azlan mengalah. Dia membalikkan badan dan kembali memasuki kamar tamu. Dia membungkukkan badan untuk mengecek lampu nakas dan ternyata lampunya memang putus. Entahlah apanya yang rusak. Azlan juga tidak ahli di bidang itu.
Azlan menoleh saat mendapati siku tangan diletakkan di pundaknya.
Dengan entengnya gadis bermata biru itu mengangkat dagu seraya bertanya. “Gimana? Bisa diperbaiki?”
“Enggak.” Azlan menegakkan punggung dan Alexa menjauhi pria itu.
“Aku nggak bisa tidur dengan lampu terang begini, aku juga nggak bisa tidur terlalu gelap karena aku takut gelap.”
“Shalat tahajud aja kalau gitu.”
Alexa terbengong mendengar saran yang terakhir. Shalat tahajud? Ya Tuhan, lelaki itu membuatnya mengingat Yang Maha Kuasa untuk sejenak.
Kemudian Alexa berlari menuju kamar Azlan ketika sadar Azlan sudah tidak ada di sisinya lagi.
“Azlan!” Alexa menggedor-gedor pintu kamar Azlan yang ternyata sudah dikunci dari dalam. Percuma saja Alexa terus mengetuk-ngetuk pintu, Azlan tidak membukanya. Ya ampun, untung saja Alexa adalah bos cantik yang masih memiliki hati nurani. Kalau tidak, Azlan tentu sudah dia kutuk menjadi capung karena tidak patuh pada sang bos.
__ADS_1
TBC