Suami Sensasional

Suami Sensasional
Seratus Tujuh Puluh


__ADS_3

Azlan melihat Rara berjalan di trotoar bersama ibu-ibu lainnya, gadis itu baru saja bubar bersama para ibu dari masjid yang ditinggalkan. Azlan menepikan mobil, kemudian berjalan mendekati Rara, adiknya yang kini duduk di bangku kuliah.


Beberapa ibu-ibu yang melintas di sekitar sana, terlihat saling bersahutan memuji ketampanan Azlan. Azlan pun tersenyum sopan sambil menganggukkan kepala menanggapi para ibu-ibu yang membicarakannya.


“Ada apa, Kak? Kok, kakak ke sini?” Tanya Rara menatap Azlan yang berdiri dengan ekspresi bingung di hadapannya.


“Apa kamu melihat Kak Alexa melintas di sekitar sini?” Azlan balik Tanya.


“Kak Alexa? Istri kakak yang sering dihebohin di sosial media itu?” Rara bertanya dengan wajah serius.


Oh… Azlan sampai lupa kalau dia belum mengenalkan Alexa pada Rara. Dan tentu saja kini Rara menebak-nebak. Berhubung Alexa tenar di dunia maya, Rara pun akhirnya mengenal sosok Alexa melalui sosial media meski Azlan belum sempat memperkenalkannya.


“Iya, kakak iparmu. Tadi dia bersama kakak ke rumah bunda, dan sekarang dia pergi entah kemana. Kakak takut dia kesasar,” jelas Azlan berusaha menutupi kejadian yang sebenarnya dengan beralasan kalau ia takut Alexa kesasar.


“Aku nggak melihatnya, Kak. Telpon aja, kak.”


Paras wajah Azlan terlihat semakin bingung. Jaman sudah canggih begini masih saja ia mencari-cari Alexa dengan cara berputar-putar tanpa mempergunakan benda secanggih ponsel.


“Ya sudahlah, biar kakak hubungi lagi dia nanti. Kamu mau pulang? Apa perlu kakak antar?” Tanya Azlan.


“Enggak usah Kak, aku pulang sendiri aja. Jalan kaki juga nyampai, rumah kita kan deket.”


“Kamu kok sendirian, bunda mana?” Azlan mengedarkan pandangan ke sekitar. Tidak terlihat bunda di sana. Meski ia mengajak Rara bicara, namun mata dan pikirannya tertuju kemana-mana. Kecemasannya terhadap Alexa kian membuncah.


“Bunda masih di masjid.”


“Ya sudah, kakak pergi dulu.” Azlan menghambur masuk ke mobil bersama kekalutannya.


Sepanjang jalan menyetir mobil, manik matanya terus bergerak melihat ke kiri dan ke kanan mencari keberadaan Alexa. Raut cemas mendominasi wajahnya. Sesekali ia mengusap wajah kasar sambil berbicara sendiri.

__ADS_1


“Ya Allah, kemana perginya Alexa? Sayang, plis munculah. Jangan begini. Aku sangat mencemaskanmu. Aku mencintaimu, sayang. Ya Tuhan, tolong beri petunjuk pada Alexa.” Azlan berucap sambil menekan nama Alexa di kontak ponselnya, namun hingga nada dering putus, Alexa tidak menjawab teleponnya.


Satu-satunya alasan yang membuat kecemasan Azlan membukit adalah rasa cintanya terhadap Alexa hingga ia takut Alexa berbuat nekat. Meski akhir-akhir ini Alexa sudah meminum jamu yang berisi banyak petuah bijak dari mulutnya, namun hal itu tidak membuat kecemasan Azlan memudar mengingat sifat Alexa yang bar-bar.


Azlan pulang ke rumah. Dengan langkah lebar ia memasuki rumah dan mencari Weni.


“Wen, apa kamu melihat Alexa?” Tanya Azlan saat menemukan Weni di ruangan belakang.


“Eh Tuan Muda! Saya nggak melihat Nona Alexa, Tuan. Bukannya Nona Alexa belum pulang sejak keluar bersama Tuan muda?” jawab Weni sambil pura-pura menyelidiki. Kepo sekali dengan urusan rumah tangga majikan.


“Ya, tadi bersamaku.” Azlan berlalu pergi meninggalkan Weni menuju ke luar. Ia berdiri di teras tampak seperti orang kebingungan. Idris yang sedang hilir mudik di dekat pos penjagaan pun menghampiri Azlan.


“Bro, ada apa? Lo keliatan bingung begitu?” Idris menepuk lengan Azlan.


“Alexa pergi dan gue nggak tahu dia pergi kemana.”


“Lah, gitu aja kayak kebakaran jenggot. Dia kan terbiasa pergi tanpa elo. Trus apanya yang bikin bingung? Lo kawin udah agak lama tapi masih aja kayak pengantin baru. Istri pergi sampe mesti harus dicemasin begitu. Biasa aja keles.” Idris geleng-geleng kepala.


“Itu sih masalah elo. Lo apain bini lo sampe jadi ngambek sama lo?” Idris terkekeh, menganggap kata-kata Azlan sebagai lelucon. “Apa jangan-jangan lo lupa menyentuh bagian termanis miliknya sehingga dia sampai nganbek.”


“Jangan bercanda, ini serius. Alexa pergi setelah dia tahu gue udah menikah dengan Mekka.”


“Hah? Jadi lo udah nikah sama cewek lain?”


“Aduh!” Azlan mengacak singkat rambutnya. Ia tanpa sadar malah jadi curhat hingga membuat Idris mengetahui masalahnya.


Azlan kemudian menceritakan semua yang terjadi padanya hingga membuat sahabatnya itu melongo menyadari kisah rumit Azlan.


Setelah Azlan selesai menceritakan semuanya, Idris mengelus dagu. Kemudian ia bertanya, “Dari semua kisah yang lo ceritain ke gue, gue pengen nanya satu hal, lo udah making love sama dua cewek kan? Apa perasaan lo?”

__ADS_1


“Idris, berhentilah bercanda. Ini masalah serius. Dan lagi, gue udah berpisah dengan Mekka, jadi tolong jangan membahas dua wanita.”


“Ya ya, terserah lo aja kalau nggak mau ngejawab. Gue kan Cuma bertanya. He heee...”


“Rasanya percuma mengadu sama lo, bahkan pesan dan nasihat pun nggak gue dapetin dari lo.” Azlan mengesah kesal.


“Sori, jangan marah mas bro.”


“Lo udah lama bekerja dengan Alexa bukan? Apa lo tahu kebiasaan Alexa kemana jika dia sedang dalam kondisi begini?” tanya Azlan masih dengan ekspresi cemas.


“Mm...” Idris menggaruk dagnya, berpikir. Mengingat-ingat majikannya itu pergi kemana jika sedang dalam keadaan frustasi. “Bisa jadi ke diskotik, atau ke panti asuhan.”


“Ayo, anterin gue nyari ke tempat-tempat yang biasa dia datangi.” Azlan bergegas memasuki mobil yang terparkir di halaman rumah sebelum smepat Idris menjawab.


Idris terpaksa mengikuti Azlan masuk ke mobil.


Pertama-tama mereka menuju ke diskotik, namun mereka tidak menemukan Alexa di sana. Kemudian mereka menuju ke panti asuhan, tempat dimana Alexa sering berkunjung ke sana untuk mencari kasih sayang ibu panti.


Di panti asuhan pun, Azlan tidak menemukan Alexa. Berkali-kali Azlan menanyakan Alexa namun jawaban ibu panti tetap sama, dia tidak tahu dimana keberadaan Alexa.


Azlan sungguh sangat merasa khawatir. Alexa benar-benar pergi dan bahkan kini ponselnya sudah tida aktif lagi. Wanita itu entah dimana.


Azlan kemudian keluar dari panti asuhan dengan kecemasan yang bertambah. Bagaimana mungkin ia bisa tenang di saat Alexa pergi meninggalkannya dalam keadaan frustasi. Bahkan kini Alexa sudah mengetahui kalau Azlan pernah menikahi wanita lain. Ini bukan masalah sepele.


“Alexa, kamu dimana?” Azlan resah sambil mengayunkan ponselnya saat sudah berdiri di sisi mobilnya, di depan bangunan panti asuhan.


“Tenanglah, aku yakin kamu akan menemukannya. Dia mungkin hanya sedang ingin menenangkan diri,” ujar Idris berusaha menenangkan Azlan.


“Aku nggak bisa tenang sbeelum menemukannya dalam keadaan baik-baik saja. Aku takut terjadi hal buruk terhadapnya.”

__ADS_1


Idris menyentuh pundak Azlan dan mengangguk memahami keresahan sahabatnya.


BERSAMBUNG


__ADS_2