
Alexa beriringan dengan Azlan memasuki rumah. Azlan merangkul bahu Alexa saat wanita itu kembali bersin.
“Sepertinya kamu mau flu,” ucap Azlan dengan manik mata terfokus ke wajah istrinya.
“Iya. Aku mulai merasa nggak enak badan.”
“Nanti biar kubikinin ramuan.”
“Emangnya kamu bisa bikin ramuan? Ramuan apa? Kamu udah kayak mbah dukun aja pake-pake ramuan segala.”
“Bukan hanya Mbah dukun aja yang bergelut membuat ramuan, tabib, dokter bahkan orang-orang yang memahami ilmu kesehatan pasti akan selalu menggunakan ramuan herbal untuk mengobati orang sakit.” Azlan membimbing tubuh Alexa duduk di sofa.
“Ini semua kan gara-gara kamu. Kamu yang membuatku begadang demi membaca buku.”
“Aku nggak menyuruhmu menuntaskan bacaan hanya dalam waktu semalam, sayang,” ujar Azlan dengan seulas senyum manis.
“Tapi aku penasaran, jadi kutuntasin aja.”
“Masih ada enam tugas lagi untukmu.”
“Jangan memberiku tugas yang sulit,” tegas Alexa dengan sorot tajam.
__ADS_1
“Aku nggak akan mungkin memberikan tugas rumit untukmu. Semua tugasku ringan. Kamu jangan melaksanakannya dengan beban supaya terkesan mudah. Tugas kedua, selama seminggu ke depan, kamu nggak boleh marah.”
Alexa membelalakkan mata.
“Aku nggak menyuruhmu membuka mata lebar-lebar,” celetuk Azlan membuat mata Alexa spontan kembali mengecil. “Itu nggak sulit. Aku hanya memintamu untuk nggak boleh marah.”
“Ini maksudmu apa?”
“Ini tugas, sayang.”
“Jadi kalau ada pekerjaan yang nggak beres di kantor, apa aku juga nggak boleh marah sama bawahanku?”
“No.”
“Mudah.”
“Sulit.”
“Kamu belum mencobanya.” Senyum Azlan semakin lebar mengembang. “Apa kamu nggak mau mencoba tantangan ini? Atau, kamu ingin aku pergi bersama…”
“Wanita lain?” potong Alexa sebelum Azlan menyelesaikan ucapannya. “Kamu selalu mengancamku dengan kata-kata itu. Sebel.”
__ADS_1
“Tugas masih ada enam lagi. Dan kamu udah menyelesaikan satu diantaranya, kenapa kamu menyerah? Sayang kan kalau dilepas? Apa kamu rela membiarkanku pergi bersama wanita lain ke sebuah tempat yang aku jamin semua orang menginginkannya? Aku yakin kamu akan cemburu dan mencakar-cakar dinding. Ha haaa…”
Plak!
“Aduh!” Azlan menghentikan tawa sesaat mendapat tamparan kuat di pipinya. “Sekali-kali jangan memukul pipiku kenapa?”
“Abisnya kamu ngetawain aku. Iya oke, aku akan ikuti tugasmu. Jadi, mulai kapan aku nggak boleh marah?”
“Terhitung mulai hari ini.”
“Sekarang?”
“Yess.”
“Ya ya. Oh my God, jauhkan aku dari segala kemarahan.”
Azlan tersenyum mendengar ucapan Alexa yang menengadahkan tangan sambil menatap ke atas saat mengucapkannya.
“Baiklah, sekarang tunggu di sini, aku akan kembali ke sini membawa minuman hangat untukmu.” Azlan melenggang pergi.
Alexa mengangguk. Ia mengulas senyum menatap kepergian Azlan. Betapa ia bahagia sekali memiliki suami seperti Azlan, dia perhatian, tulus dan penuh dengan kasih sayang. Itulah yang dia inginkan sejak dulu, tidak muluk-muluk, hanya kasih sayang. Dan itu sudah dia dapatkan dari Azlan. Ia mengalihkan perhatian ke kakinya yang memucat. Baru saja diserang virus flu, ia sudah merasa tidak nyaman dan bahkan tubuhnya terasa dingin serta memucat. Daya tahan fisiknya jauh dibandingkan dengan fisik Azlan yang kokoh dan kuat. Pria itu tetap terlihat baik-baik saja meski sesakit apa pun.
__ADS_1
Terdengar suara langkah kaki mendekat, Alexa tersenyum sambil berkata, “Cepat sekali kamu membuat ramuan untukku.” Ia mengangkat wajah dan senyumnya seketika memudar. Bukan Azlan yang datang, melainkan Atika. Wanita yang mengenakan dress di atas paha itu tersenyum lebar.
TBC