
Semenjak Azlan mengucap sumpah suci dalam ijab dan qobul, ia berjanji pada Tuhan untuk menjaga, membimbing, dan menyayangi wanita itu dengan sepenuh hati. Bukan hanya karena sebatas janjinya itu rasa tanggung jawabnya muncul begitu saja, namun juga karena cintanya terhadap Alexa yang tumbuh begitu subur. Entah daya tarik apa yang membuat Azlan merasa sangat mencintai wanita itu. Bukan kecantikannya, bukan pesona fisiknya, juga bukan segala kelebihan dalam diri Alexa yang membuat Azan merasa sangat emncintai Alexa. tapi entah dari mana rasa cinta itu muncul dalam lubuk hatinya.
Alexa masuk ke mobil dengan kesal. Ia menghentakkan pintu dengan kuat. Sepanjang jalan, ia menyentuh keningnya karena merasa pusing. Baru saja ia ingin membaringkan tubuh di ranjang empuk hotel, dan Azlan tiba-tiba saja membatalkannya. Ia kesal sekali.
“Kamu ingin istirahat?” Tanya Azlan menatap Alexa yang kelihatan penat dan kesal.
“Enggak,” sewot Alexa dengan tatapan ke luar jendela mobil.
“Berbaringlah di pangkuanku!” Azlan menarik pundak Alexa dan membaringkan tubuh wanita itu di pangkuannya. Azlan tersenyum menatap wajah Alexa di pangkuannya. Tangannya terangkat dan mengelus rambut Alexa.
Kekesalan Alexa memudar. Ia menatap senyuman manis suaminya. Ya ampun, Azlan selalu saja mampu membuatnya takluk. Ini entah rasa takluk yang ke berapa kalinya. Kelembutan Azlan benar-benar menjadi senjata ampuh untuk meluluhkan hati keras Alexa.
Alexa akhirnya mengalah, berbaring dan emmejamkan mata di pangkuan Alzan. Toh, ia merasa nyaman berada dalam pangkuan Azlan.
Sesampainya di rumah, Azlan mengusap dahi Alexa. Membangunkannya pelan. Alexa membuka mata.
__ADS_1
“Kita udah sampai!” ucap Azlan.
“Hm.” Alexa tidak bergerak dari posisinya. Malah kembali memejamkan mata.
Azlan mengambil tisu dan melayang-layangkan tisu di atas wajah Alexa, ujung tisu tergesek-gesek di wajah mulus itu hingga membuat Alexa tersenyum merasakan sapuannya.
“Jangan mincing-mancing!” Alexa mengambil tisu dan melemparnya asal-asalan.
Azlan akhirnya tertawa dibalas dengan tawa cekikikan oleh Alexa. Sunil yang melihat dari luar pun memandang iri. Kapan nikah? Begitu isi kepalanya.
“Ah, lo, Nil. Panggil-panggil gue Tuan segala.” Azlan mengelak dipanggil dengan sbeutan Tuan. Sebab sebelum ia menjadi Tuan Muda di sana, Sunil memanggil dengan sebutan nama saja.
Sunil tersenyum.
“Eh, tetep harus panggil Tuan muda. Suamiku adalah tuan muda di rumah ini,” celetuk Alexa sambil bangun dan duduk. Ia tidak terima jika ada suaminya dipanggil tanpa embel-embel Tuan Muda.
__ADS_1
“Iya, Nona,” jawab Sunil. “Trus kopernya langsung saya bawa ke kamarkah ini?”
“Ya ya, bawa aja ke atas,” jawab Azlan sambil menekan handle pintu mobil dan keluar.
Sunil langsung menjalankan tugas, membawa koper masuk ke dalam.
Azlan menoleh ke arah mobil asing yang terparkir di halaman.
“Mobil siapa itu?” Azlan mengernyit menatap mobil berwarna putih. Artinya ada orang lain yang datang ke rumah.
Alexa yang sudah berdiri di sisi Azlan pun mengedikkan bahu. Ia melenggang masuk ke rumah diikuti oleh Azlan.
Langkah Alexa terhenti saat memasuki rumah dan menemukan sosok wanita berdiri di tengah-tengah ruangan. Alexa mengangkat alis menatap wanita berambut pirang yang usianya tak jauh berbeda darinya, Atika.
“Halo, anak kesayanganku! Malam-malam begini kamu baru pulang? Dari mana?” Tanya Atika dengan seulas senyum lebar. Senyum yang di mata Alexa sangat menjijikkan karena jelas hanya senyum sandiwara.
__ADS_1
TBC