
“Tapi apa ya Azlan bakalan kuat sama godaan dunia? Apa dia nggak ngiler ngeliat Alexa mulu? Jangan-jangan mereka nggak sadar udah gituan lagi.”
Yakub mengerutkan dahi melihat Arul menggoyang-goyangkan dua ibu jarinya secara berhadapan.
“Maksud Antum itu apa?” Yakub menampik dua ibu jari yang asik menari-nari.
“Bukannya berpikiran jorok, tapi cewek cantik kayak dia berduaan mulu sama Azlan. Apa nggak bakalan kebablasan mereka ya? Azlan itu kan keren, macho lagi. Bisa jadi Alexa tertarik sama dia, yak an? Salah-salah mereka malah kikuk kikuk. Ini jamannya prostitusi. Artis aja yang udah punya banyak job masih demen pasang harga 80 juta. Bisa aja kan Alexa juga gitu. Azlan jadinya ngeluarin biaya gede tuh, niat nyari duit malah ngabisin duit.”
“Sembarangan! Suudzon itu dosa besar, loh. Ditambah lagi ghibah. Amal antum bisa lebur.”
“Eits, jangaaan! Percuma gue shalat kalau Cuma lebur.”
“Nah, itu makanya jangan ghibah.”
Pandangan Arul dan Yakub mengarah ke Azlan saat melihat lelaki tampan itu muncul dari arah dia tadi menghilang. Azlan terlihat semakin tampan mengenakan jas hitam dipadu kemeja biru muda di dalamnya. Sangat rapi.
__ADS_1
“Eeeeh... Stop!” Arul mencegat langkah Azlan.
Azlan menaikkan alis tinggi-tinggi sebagai wujud sebuah pertanyaan.
“Wow... Pagi ini kamu rapi banget. Wangi lagi. Belum beristri aja kamu udah rapi, sampe-sampe keliatan perfek gini,” komentar Arul seraya memperhatikan penampilan Azlan dari sepatu ke rambut.
“Lebay... Bukannya sejak dulu gue emang kayak gini?” balas Azlan. “Jadi menuru lou gue akan lebih rapi dari ini kalau udah beristri? Jadi menurut lo istri untuk dijadiin pelayan? Istri bukan untuk diperbudak, tapi untuk disayang. Gue akan ngerapiin pakaian gue sendiri meski udah menikah nanti.”
“Tanpa bantuan istri?”
“Beruntung cewek yang bakalan jadi bini lo. Dimanjain terus.”
Pandangan Azlan kemudian menatap wajah Yakub dan Arul silih berganti. “Trus kalian ngapain masih ngegosip di sini? Bukannya kerja?”
“Ya’ela... Ini juga mau kerja. Gue lagi nyari pemandangan indah,” ujar Arul seraya tersenyum simpul. Sini, ikut gue!” Arul menarik pergelangan tangan Azlan dan membawanya memasuki ruangannya. Yakub mengikuti.
__ADS_1
Arul duduk di kursi putarnya, kemudian menatap Azlan lekat-lekat.
“Lan, lo tahu nggak siapa Alexa?”
“Ya, tahu. Kenapa?” Azlan duduk di sebuah kursi.
“Dia itu putri direktur, loh. Direktur utama lagi. Gimana bisa lo jadi bodyguard-nya dia?”
Azlan malas menjelaskan. Arul adalah sosok teman yang paling hobi mengobrol, akan panjang ceritanya jika ia menanggapi pertanyaan Arul.
“Asal lo tahu, Alexa itu primadona di sin. Dia cantik, menarik, modis. Pokoknya syut bangetlah. Alexa itu…”
“Berhenti bicarakan Alexa,” potong Azlan tidak ingin membahas Alexa. Apakah tidak ada pembicaraan yang lebih menarik selain Alexa? Kantor itu terlihat heboh jika sudah membicarakan Alexa. “Kamu nggak ada bedanya sama yang lain.” Azlan geleng-geleng kepala dan berjalan menuju pintu. Terlihat malas mendengarkan kata-kata Arul selanjutnya. Ejak saat pertama menyebut nama Alexa, yang dia bahas hanyalah soal kecantikan, keanggunan, dan yang paling dihebohkan adalah keseksiannya.
Mungkin ada banyak gadis di luaran sana yang berpenampilan sama seperti Alexa, atau mungkin Arul dan pria lainnya sudah sering melihat artis berpenampilan semenarik Alexa di televisi, tapi yang mereka lihat bukanlah bagian dari penghuni kantor. Kali ini gadis itu ada di kantor. Tentu saja mereka heboh.
__ADS_1
TBC