Suami Sensasional

Suami Sensasional
Seratus Enam Puluh Empat


__ADS_3

Alexa berjalan gontai di lorong rumah sakit, heelnya yang beradu dnegan lantai membuat ketukan berirama di lorong sepi itu. Sudah jam sepuluh malam, di luar jam besuk, sehingga suasana rumah sakit agak lengang. Azlan mengiringi langkah wanita itu.


Alexa berhenti di depan sebuah pintu kamar, kemudian ia menunjukkan identitasnya pada dua polisi yang berjaga di sana. Sebentar saja Alexa berbincang dengan petugas kemudian ia masuk ke kamar bersama dengan Azlan yang mendampingi.


Tampak tubuh Arga terbaring lemah dengan posisi miring menghadap pintu di atas bed pesakitan. Selang infus menusuk tangannya. Wajahnya memucat. Ia menatap kedatangan Alexa dan Azlan, dua majikannya itu mendekat ke arahnya. Pandangan mata Arga menunduk, menatap lantai.


Alexa menatap tajam ke arah Arga. Ingin rasanya ia menjitak kepala Arga dengan pentungan, meratakan muka itu dengan parutan, memukuli tubuh itu dengan sendok eh kayu atau apalah. Tapi ia berusaha menahan emosinya. Ia sudah belajar banyak hal mengenai kesabaran dari Azlan. Dan ia sanggup mempraktikkannya. Andai saja ia benar-benar menghajar Arga untuk menuruti emosi, justru masalah baru yang akan muncul akibat ulahnya yang menganiaya Arga.


“Inikah balasanmu terhadapku? Apa yang kurang dari keluargaku? Semua asisten rumah tangga, supir, dan siapapun yang bekerja di rumahku diberi upah yang besar rata-rata. Makan gratis. Kau juga bisa menikmati apapun di rumahku, sama sepertiku tanpa harus dibeda-bedakan. Lalu dimana letak kurangnya kami terhadapmu?” bentak Alexa.

__ADS_1


Arga diam saja. Kelopak matanya masih menunduk dengan manik mata menatap ke arah lantai. Pandangannya itu hanya dapat menjangkau kaki Alexa saja.


“Kalau kau merasa ada yang kurang, kenapa kau nggak menuntut padaku? Kenapa kau justru mengkhianati kami?” sambung Alexa. “Kami bahkan memberi kebebasan pada seluruh asisten rumah tangga sebebas-bebasnya di rumah untuk melakukan apapun tanpa membatasinya, kalian bebas menggunakan fasilitas di rumah sepuasnya. Bahkan menurutku upah yang kau dapatkan jauh jika dibandingkan dengan karyawan di kantor yang digaji setara UMK. Kenapa aku melakukan itu? Karena jujur aja aku menghargai kerja keras kalian yang diberi tugas yang terkadang harus dikerjakan diluar batas jam kerja normal orang kantoran. Kalian juga nggak punya pilihan lain selain mematuhi perintah majikan meski diperintahkan melakukan pekerjaan yang melelahkan. Inilah yang menjadi pertimbanganku.”


Azlan meraih lengan Alexa dan menganggukkan kepala sebagai isyarat supaya Alexa tidak khilaf. Azlan tidak menyangkal semua ucapan Alexa. meski Alexa dulunya adalah majikan yang galak dan suka marah-marah, namun dia begitu royal dan bahkan memberi kebeabsan sepenuhnya pada seluruh asisten rumah tangganya. Azlan yang dulu sempat menikmati upah dari Pak Joan juga merasakan hal yang sama. Upah yang dia terima sangat besar dan berlebih sampai-sampai ia bisa membiayai pengobatan Sasha, menyekolahkan adik-adiknya. Juga menghidupi keseharian bunda dan adik-adiknya. Soal materi, keluarga Pak Joan sangatlah royal dan tidak perhitungan.


Arga mendongakkan wajah, menatap Alexa saat mendengar penjelasan Alexa yang menyebut Sunil meninggal dunia.


“Sunil meninggal dunia?” Arga seperti tidak yakin.

__ADS_1


“Ya. Kaulah penyebabnya. Kau puas? Kau sudah melenyapkan temanmu? Apa kau lupa, kau juga hampir melenyapkanku, kan?”


Arga terdiam.


“Kita sudah serahkan urusan ini kepada pihak yang berwajib. Percayakan pada mereka, Arga akan mendapatkan hukuman yang setimpal,” ujar Azlan sembari merangkul pundak istrinya berusaha menenangkan.


Alexa mengesah. “Arga, aku nggak akan melupakan perbuatanmu ini. Kau akan membusuk di penjara!” Alexa balik badan kemudian berlalu pergi.


TBC

__ADS_1


__ADS_2