Suami Sensasional

Suami Sensasional
Seratus Tiga Puluh Enam


__ADS_3

Suasana di ruang tamu terasa tegang. Terutama karena tatapan mata Anjas dan Veti yang tidak bersahabat. Wajah sepasang suami istri itu masih tampak dipenuhi emosi. Semalaman, mereka tidak bisa tidur memikirkan nasib Mekka.


Ruang tamu dipenuhi oleh seisi rumah, Ada Azlan, Mekka, Tiga adik-adik Azlan, Bunda dinda, serta Anjas dan Veti. Tiga adik Azlan duduk di sofa bersama Dinda, Azlan dan Mekka berdiri di sisi sofa, sedangkan Anjas dan Veti berdiri di ambang pintu.


Mekka menatap Bunda Dinda yang sudah memegangi koper di tangannya. Serta tiga adik Azlan yang berdiri di sisi Azlan seperti pasukan baris-berbaris. Mereka sudah siap dan akan pergi dari rumah itu.


Mekka tersenyum menatap Dinda.


Dinda melangkah mendekati Mekka, “Mekka, Bunda yakin akan sangat merindukanmu. Kamu adalah wanita yang luar biasa. Jangan jadikan masalah ini beban dalam hidupmu. Jadikan masalah ini sebagai cambuk untuk memtoivasi dirimu, bahwa Tuhan Maha Baik. Tuhan memberi ujian pada orang yang dia Kasihi, Tuhan juga tidak akan memberi ujian di luar batas kemampuan manusia. Kamu dipilih Tuhan untuk menjalani kisah ini, artinya Tuahn percaya bahwa kamu adalah orang yang kuat. Dan benar, Tuhan tidak pernah salah memilih manusia.”


“Bunda, makasih banyak atas semuanya. Aku merasa sangat beruntung pernah memiliki mertua sebaik Bunda. Inilah keadilan untukku, meski nggak bisa mendapatkan cinta dari satu pihak, namun aku tetap mendapatkan cinta dari pihak yang lain. Ini sempurna bagiku. Makasih, Bunda.”


“Masyaa Allah… Bunda salut padamu.” Dinda memeluk singkat tubuh Mekka penuh haru. “Satu hal yang perlu kamu ingat, jadilah istri yang dimuliakan dan yang memuliakan. Kamu wanita istimewa, maka Bunda percaya hidupmu pasti akan baik.”


“Iya, Bunda.” Mekka menjawab dengan seulas senyum.


“Ya sudah, Bunda pergi.”

__ADS_1


Mekka mengangguk.


Sasha menghambur dan meraih lengan Mekka. Si bungsu itu menggoyang-goyangkan tangan kakak iparnya. “Kak, kami akan pergi ke rumah baru. Kok, kakak nggak ikut?”


Seisi ruangan saling pandang.


“Apa kakak akan tetap tinggal di sini bersama orang tua kakak?” lanjut Sasha, si bungsu yang masih belum memahami situasi.


Mekka tersenyum, tangannya menjulur mengelus pipi gemil Sasha. “Iya, kakak akan tetap tinggal di sini. Kamu ikut sama Kak Azlan, ya!”


“Sasha, nanti akan kakak jelasin ke kamu semuanya. Sekarang kita pergi, yuk!” Azlan menyahuti. Pandangannya kemudian tertuju ke arah Anja dan Veti. “Ayah, Ibu, aku pergi dulu.”


Anjas diam saja. Veti juga diam.


Kemudian Mekka yang menyahuti, “Iya, Mas. Hati-hati.”


Azlan mengajak adik-adiknya meninggalkan rumah kontrakan itu, Bunda Dinda turut serta. Mereka memasuki mobil milik Azlan yang sudah terparkir di depan rumah. Klakson berbunyi saat mobil mulai melesat meninggalkan pekarangan rumah.

__ADS_1


“Ini mobil siapa, Kak?” Tanya Sasha yang duduk di jok tengah antara Rara dan Lala.


“Milik Allah. Kakak hanya dititipi aja,” jawab Azlan sambil tersenyum.


“Jadi ini punya kakak? Waaaow… enaknya bisa naik mobil sendiri. Kakak sekarang udah kaya, ya?” Sasha menggenjot-genjotkan tubuhnya di atas jok dengan girang.


“Yeee… Sasha seneng banget deh kayaknya,” sahut Lara.


“Iyalah.” Sasha nyengir.


Rara hanya tersenyum melirik adik-adiknya.


Sepanjang perjalanan, Shasa tampak sangat ceria menikmati mobil baru. Bagaimana tidak? Selama ini Sasha belum pernah naik mobil. dan ini adalah pertama kalinya.


Lara juga kelihatan bahagia, mereka berguarau di sepanjang jalan. Hanya Rara yang cenderung diam. Dia memang gadis pendiam. Ia sebenarnya juga turut gembira bisa naik mobil milik kakaknya, tapi kegembiraannya tidak sampai terlihat ke permukaan.


TBC

__ADS_1


__ADS_2