
Akhir-akhir ini Azlan merasa ada yang aneh dalam dirinya. Perasaannya selalu terarah kepada Alexa, nona cantik yang dia jaga. Apa itu yang namanya cinta?
Azlan menepis pikiran itu berkali-kali supaya tidak menumpuk dalam kepalanya. Alexa adalah nonanya, wanita kaya yang memiliki banyak harta. Gadis itu tidak setara dengannya. Mana mungkin Alexa menyukainya, terbukti dari sikap gadis itu yang kerap emosi dan selalu saja tidak sependapat dengannya setiap kali beradu argument. Ah, tidak seharusnya Azlan memikirkan gadis itu, apalagi ada wanita lain yang perasaannya harus dijaga, Mekka.
Ini adalah hari ketiga setelah percakapan dengan pak Joan di kantor waktu itu, Azlan harus sudah memberikan jawaban pada pak Joan. Dan ia telah mempersiapkan jawaban yang tepat. Mekka adalah gadis pilihan mamanya, yang akan menjadi makmumnya, akan menjadi ibu dari anak-anaknya kelak. Ia harus mengemban amanah tersebut. Satu-satunya alasan yang dapat dia gunakan untuk menolak menikah dengan Alexa adalah dengan mengatakan kalau dia tidak mencintai Alexa, dan hubungan yang terjalin antara dirinya dan alexa hanyalah sebatas bos dan bodyguard. Ia tidak bisa mengatakan tentang Mekka, sebab dalam surat perjanjian telah jelas dikatakan bahwa dia tidak boleh berpacaran. Apa pun resiko yang akan dia terima dari Pak Joan, maka ia akan terima.
Namun anehnya wajah Alexa terus menari dalam bayangannya. Terus mengikis zikirnya hingga disaat diam dan seharusnya mengingat Tuhan, dia malah mengingat Alexa. Dia takut cintanya terhadap Tuhan terkalahkan oleh cintanya terhadap Alexa. tapi itulah yang Tuahn tunjukkan padanya, perasaan yang selalu tertuju pada Alexa.
Disaat demikian, Azlan merasa sangat bersalah pada Mekka. Dia sudah menyanggupi untuk menikahi Mekka, dan itu adalah sebuah janji yang tentunya haram untuk diingkari. Lalu bagaimana dengan perasaannya yang kini malah tertuju kepada Alexa?
Kenapa Alexa harus muncul di saat Azlan telah memutuskan untuk menikahi Mekka? Kenapa Alexa tidak muncul sejak dulu? Azlan menggelengkan kepala berusaha membuang pemikiran itu. Berpikir demikian, sama saja dia memprotes takdir yang sudah Allah tetapkan padanya. Sekarang dia hanya harus mengambil sikap, menjalankan apa yang sudah dia putuskan, itu saja.
Rasa bersalah terhadap Mekka bertambah parah saat pagi tadi Bundanya menelepon dan menyuruhnya segera pulang untuk memperjelas hubungan dengan Mekka. Minimal Azlan bertunangan terlebih dahulu. Namun Azlan menolak, dia lebih memilih langsung menikah dari pada harus bertunangan. Dan dia memutuskan akan secepatnya menikahi Mekka.
__ADS_1
Azlan mengingat perbincangannya dengan Bundanya pagi tadi saat menelepon.
“Kalau begitu, temuilah Mekka supaya taarufanmu lebih jelas. Kalian belum pernah ketemu, loh.”
“Iya, Bun.”
“Kamu jangan diemin Mekka. Kasian dia. Nanti dikira tidak diperdulikan. Sejak awal kan kamu sudah menyanggupi untuk menikahi Mekka, jadi jangan ingkari apa yang telah kamu sanggupi.”
“Iya, Bun.”
Azlan berdoa setelah shalat Asar. Yang pertama dia ucapkan tentu saja permohonan ampun atas dosa-dosanya. Dia meminta supaya Tuhan menghapus Alexa dari hatinya. Dia memohon supaya dimudahkan urusannya untuk menikah dengan Mekka. Dia tidak ingin ingkar dengan lidahnya sendiri. Hanya Tuhan yang bisa mengubah segalanya jika memang Mekka bukan jodohnya. Azlan meminta supaya Allah mendekatkan Azlan dengan jodohnya.
Usai berdoa, Azlan membaringkan tubuh di ranjang dengan mata terpejam. Dia menggelengkan kepala karena yang muncul disaat terpejam adalah wajah Alexa.
__ADS_1
Azlan meraih ponsel saat benda itu bergetar. Ada sms masuk dari Mekka.
Maaf Mas aku baru lihat sms yang Mas kirim pagi tadi.
Maaf juga aku baru bales.
Tadi nemenin Ibu ke pasar, gk bawa hp, Mas.
Mas gk marah, kan?”
Ya benar, Azlan tadi mengirim sms kepada Mekka sekedar menanyai kabar sesuai dengan titah sang bunda, dan Mekka tidak membalasnya. Azlan menghela napas. Batinnya semakin galau. Rasa bersalah kian memuncak. Sms Mekka seperti teror baginya, padahal Mekka tidak sedang menghakiminya.
TBC
__ADS_1