
Alexa melongokkan pandangan ke delam mall. “Kebetulan kita berdiri di depan mall. Gimana kalau kita belanja? Apa kamu punya uang cash? Kita belanja pakai uang cash aja.”
Azlan mengeluarkan dompet, kemudian mengambil selembar uang seratus ribuan dan menyerahkannya pada Alexa. “Nih.”
“Hah? Kamu nggak salah? Kamu kasih aku uang selembar itu untuk aku belanja? Mana cukup! Astaga.”
Azlan tersenyum. “Saat berada di depan Mall, uang ini terasa sedikit, namun saat berada di depan kotak amal, ini rasanya terlalu banyak,” katanya sambil menunjukkan uang seratus ribuan.
Ucaran Azlan memang sederhana, namun cukup menohok hati Alexa. ia seperti terkena tamparan keras karena merasa tidak pernah bersedekah, berinfaq, apa lagi mengenal kotak amal.
“Kalau ini nggak cukup untuk kamu belanja, kamu masukkan aja ke sana!” Azlan menunjuk kotak yang ditaruh di meja salah satu toko di dalam mall. Di kotak itu tertulis ‘untuk anak yatim’.
Alexa mengernyit. Namun ia menerima uang tersebut. Ucapan Azlan seperti seruan petualangan baru baginya, yang bila dia jalani tidak akan membuatnya merasa rugi. Alexa ingin merasakan bagaimana rasanya memasukkan lembaran rupiah ke kotak amal seperti yang Azlan sebutkan tadi.
“Oke, aku masukin ke sana.” Alexa melenggang memasuki mall, kemudian memasukkan uang ke kotak itu.
Azlan tersenyum melihat istrinya tidak menolak perintahnya. Dalam hati ia bersyukur, karena pada hakikatnya hanya Tuhanlah yang berkuasa membolak-balikkan hati Alexa. awalnya Alzan tidak yakin akan bisa mengubah Alexa-nya menjadi lebih baik, namun rasa tidak yakinnya berubah menjadi penuh keyakinan karena ia sadar Tuhan Maha Besar.
__ADS_1
Alexa kembali dan kini berdiri di hadapan Azlan. “Kalau begitu sekarang kita belanja pakai kartu kredit aja. Ayo, temani aku!”
“Apa kamu udah selesaikan tugasmu membaca buku dariku?” Tanya Alzan.
“Oh my God, maaf aku lupa.” Alexa menepuk jidatnya sendiri. Kemudian ia melingkarkan lengannya ke satu lengan Azlan sambil menggelayut manja. “Aku akan baca nanti.”
Azlan melirik wajah Alexa yang kepalanya kini berada di pundaknya. Rayuan Alexa benar-benar ampuh hingga membuat Azlan tidak bisa berkomentar apa pun.
“Kalau begitu sekarang kita nggak bisa belanja, kamu nggak akan punya waktu untuk membaca kalau keasikan berbelanja,” ucap Azlan akhirnya.
“Ya ampun.”
Panggilan sayang diiringi suara lembut Azlan membuat Alexa takluk tanpa sadar hingga wanita itu tidak mengajukan protes.
Alexa melipat tangan di dada, manik matanya kini menatap hujan yang turun sangat deras.
“Pakai ini!” Azlan melepas jas yang ia kenakan dan menyerahkannya ke Alexa.
__ADS_1
Alexa segera mengenakan jas itu tanpa banyak tanya.
“Lebih baik kita pulang. Hujan semakin deras. Bisa sampe malem kalo ditungguin reda. Lagi pula kita pakai mobil.” Azlan melangkah mendekati bibir teras.
“Untuk sampe ke mobil aja kita pasti udah basah kuyup.”
“Kamu bisa pakai jasku untuk menutupi kepala.” Azlan menangkupkan jas ke atas kepala Alexa. Ia tidak perduli meski Azlexa tidak menanyakan kembali padanya akan kondisinya yang tentu bakalan kehujanan, ia sudah sangat memahami Alexa dan tidak ingin banyak menuntut. Karena hanya pria yang sempurnalah yang pantas menuntut istri untuk mengikuti kemauan sang suami. Azlan berlari mengikuti Alexa menuju mobil.
“Kamu basah,” ucap Alexa sembari menatap wajah dan kemeja depan Azlan yang kuyup.
Akhirnya Alexa memperhatikan kondisi Azlan juga. Sudut bibir Azlan tertarik sedikit. “Nggak pa-pa. Akan kering dengan sendirinya ketika terkena AC.”
“Kamu bisa menggigil kedinginan, bahkan mungkin bisa demam setelah ini.”
Azlan diam saja, ia mulai konsentrasi menyetir. Alexa benar, detik berikutnya tubuhnya meremang merasakan sapuan sejuk angin Ac. Namun ia memilih mengabaikannya.
***
__ADS_1
TBC
POINNYA MANA YAH? DUKUNG CERITA INI DENGAN MEMBERI TIPS BERUPA POIN OR KOIN. 🥰🥰🥰