Suami Sensasional

Suami Sensasional
Seratus Lima Puluh Lima


__ADS_3

Azlan menyusul masuk ke kamar. Dia melepas sepatu dan kaos kaki, lalu naik ke ranjang dan berbaring.


Alexa yang saat itu tengah duduk di depan meja rias dan menyisir rambutnya pun menoleh ke arah Azlan. Pria itu tampak terpejam dengan tenang.


“Azlan, apa kamu nggak ganti baju dulu? Apa kamu nyaman tidur pakai kemeja gitu?” Tanya Alexa sembari mengoles masker ke wajahnya.


Azlan membuka matanya dan menoleh ke arah Alexa, istrinya itu sudah mengganti pakaiannya. Tak heran, Alexa memang wanita paling demen dengan penampilan. Untuk urusan tidur pun dia sangat memperhatikan penampilan. Walah.. Azlan memperhatikan Alexa yang mengenakan pakaian tidur berbahan licin dengan bawahan pendek dan atasnya lebar.


Dasar Alexa, paling hobi mancing suami. Azlan bangga dengan Alexa yang sekarang sudah tidak lagi mengenakan pakaian seksi, wanita itu hanya mengenakan pakaian seksi saat di hadapannya.


“Alexa, kamu nggak mau tidur?” tanya Azlan.


“Kenapa memangnya?” Alexa menoleh kemudian tersenyum skeptis. “Kamu nggak sabar mau sentuh-sentuh aku ya?” Ia mengangkat satu alisnya.


Azlan tersenyum tipis. Kemudian membalikkan tubuhnya hingga kini berada di posisi miring membelakangi Alexa. “Aku tidur aja deh aklau gitu, dari pada diejekin sama kamu.”


“Ha haaaa…” Alexa tergelak. “Azlan, jangan punggungi aku!”


Azlan diam saja.


“Azlan! Balik badan, nggak?” Nada Alexa seperti mengandung ancaman.

__ADS_1


Azlan mengulas senyum dan balik badan, menuruti titah sang istri.


“Aku nggak suka dipunggungi,” celetuk Alexa.


Azlan hanya tersenyum saja.


Alexa bangkit berdiri setelah menyisir rambut dan mengembalikan sisir ke tempat semula. Ia kemudian melangkah mendekati ranjang. Lalu duduk di sisi ranjang, baju di pundaknya melorot dan jatuh ke lengan membuat Azlan menahan nafas sesaat.


“Tidurlah sini!” Azlan menarik lengan Alexa membuat tubuh Alexa membungkuk dan menubruk dada pria itu.


“Geser sana!” Alexa mendorong dada Azlan.


Azlan bergerak menggeser tubuhnya ke samping, memberi ruang untuk Alexa berbaring di sisinya. Wanita itu menghempaskan tubuh di sisi Azlan.


“Kenapa?”


“Nanti kamu kepingin. Aku lagi nggak boleh disentuh.”


“Ooh… peluk aja kan boleh.”


Alexa mendorong dagu Azlan saat pria itu mendekatkan wajahnya ke leher Alexa. “Jangan nempel-nempel.”

__ADS_1


“Aku kan nggak minta ‘itu’.”


“Iya, nanti kamunya yang kasian kalau nahan-nahan. Ha haaa…”


Azlan tersenyum tipis. Tangannya menjulur meraba dinding dan menekan sakelar lampu.


Tik.


Lampu padam dan seketika ruangan menjadi gelap gulita.


“Aaaakh…! Azlan!” Tubuh Alexa hampir saja melompat turun dari ranjang saat lampu mati, namun lengan kokoh Azlan merengkuhnya hingga ia tertahan dalam pelukan pria itu. Dalam hitungan sepersekian detik, detakan jantung Alexa yang tadinya normal, berubah pacunya menjadi dua kali lebih cepat.


“Alexa, jangan kemana-mana! Tetaplah di sini!”


“Jahat kamu! Kenapa lampunya dimatiin? Kamu bahkan nggak ngidupin lampu nakas? Ini gelap, Azlan! Gelap!” Alexa memeluk erat tubuh Azlan. “Hidupin lampunya! Cepat hidupin lampunya! Aku nggak mau gelap!”


“Pejamkan matamu. Ini terlihat gelap karena efek dari lampu yang begitu terang. Sesaat setelah lampu mati, berangsur pandangan nggak akan begitu gelap, kok.”


Alexa menuruti kata-kata Azlan meski pacu jantungnya masih terasa sangat kuat. Ketakutannya belum hilang.


Azlan mengedarkan pandangan. Temaram lampu dari luar memberikan penerangan sampai ke dalam kamar melalui kaca jendela, meski hanya remang-remang.

__ADS_1


TBC


__ADS_2