Suami Sensasional

Suami Sensasional
Dua Ratus Empat


__ADS_3

Dengan langkah tergesa, Alexa mengikuti gerak bed yang di dorong dengan cepat oleh para suster. Tangannya terkait dengan tangan Azlan yang terbaring dengan mata terpejam di atas bed yang didorong.


Sebenarnya ia sudah tidak kuat lagi berjalan dengan langkah secepat itu, pinggangnya semakin ngilu, perutnya nyeri. Gerak kontraksi di perutnya juga semakin kuat. Namun ia tetap berjalan mengikuti bed.


“Azlan, plis. Buka matamu! Kamu pasti kuat. Jangan tinggalkan aku! Anak kita akan lahir, sayang! Kuatkan dirimu! Aaakh…” Alexa berhenti sambil memegangi perutnya, merintih dan meringis. Tangannya terdelpas dari tangan Azlan. Tubuhnya menyandar di dinding.


Seorang suster menghampiri dan memberi pertolongan dengan membantu Alexa menuju kamar persalinan.


Disaat menunggu persalinan, Alexa berbaring menahan segala rasa yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Sakit, ngilu, nyeri dan semuanya. Suster menyarankan supaya ia di posisi miring. Alexa meremas sprei setiap kali kontraksi datang seperti meremas-remas isi perutnya, ia juga memegang kuat tiang infus dan menjerit kecil menahan betapa sakitnya proses si kecil saat ingin melihat dunia. Inilah yang dirasakan setiap wanita dalam proses melahirkan buah hati.

__ADS_1


Tanpa terasa air matanya mentes. Di saat sedang sangat membutuhkan kehadiran suami, bahkan di sisinya pun suaminya tak ada. Suaminya dalam keadaan darurat dan kritis. Entah siapa yang harus dipikirkan sekarang, disaat Alexa harus fokus pada persalinannya, pikirannya juga harus terbagi memikirkan Azlan. Ia ingat bagaimana Azlan mengatakan cinta di akhir kalimatnya, ia ingat saat Azlan memejamkan mata dan tubuh pria itu langsung lemas, ia juga ingat saat tangannya terlepas dari tangan Azlan.


Tuhan… Aku nggak sanggup. Tangis Alexa pecah. Isi kepalanya kini hanyalah Azlan, bukan lagi fokus pada kelahiran sang buah hati. Apa jadinya jika ia melahirkan bayi tanpa suami di sisinya? Dan bagaimana jika saat bayinya lahir nanti, kedua bayinya itu tidak lagi bisa memanggil papa karena papanya sudah pergi untuk selamanya? Kenapa pikiran Alexa jadi keruh sekali? Bayangan tentang kondisi Azlan yang sangat parah masih terus mengganjal di otaknya. Bagaimana tidak? Tubuh Azlan terhimpit sangat kuat oleh benda-benda di mobil, bahkan Alexa sempat mendengar suara cukup keras berderak di tubuh Azlan, mungkin itu tulang yang retak, atau entahlah. Yang jelas Azlan menjerit keras saat itu. alexa juga ingat saat kepala Azlan membentur kaca samping hingga berdarah.


Tuhan, kejadian itu tidak bisa pergi dari kepala Alexa. ia benar-benar tidak bisa fokus pada persalinannya.


Sekarang, ia tidak tahu bagaimana kondisi suaminya. Bahkan di saat suaminya kritis, ia pun tidak bisa berada di sisi suaminya. Ia sungguh-sungguh tidak sanggup menjalani semua itu. Bahkan kini, tidak satu pun orang yang menunggunya di sana. Ia pun memutuskan untuk menelepon Jesy, ia butuh bantuan siapapun. Namun Jesy tidak menjawab teleponnya setelah beberapa kali ditelepon. Alexa ingin menghubungi Bunda Dinda, namun ia tidak tahu nomer ponsel Bunda Dinda. Lalu siapa yang harus ia telepon untuk hadir di sisinya, menjaganya, juga menunggui Azlan.


“Ya, Nona? Ada apa malam-malam begini menelepon saya?” Tanya Yakub di seberang.

__ADS_1


“Yakub, ke rumah sakit Sejahtera sekarang. Azlan kecelakaan dan sekarang kritis. Aku akan melahirkan. Hubungi siapa saja yang bisa membantuku di sini!” Suara Alexa bergetar. Ia berbicara saat jeda kontraksi.


“Ya Allah, Azlan kecelakaan? Baik, Nona. Saya akan segera datang. Saya akan ajak Mekka, boleh, Nona?”


Ah ya ampun, Alexa sampai kelupaan nama Mekka. Kenapa ia tidak menghubungi Mekka saja tadi? Memang Mekka-lah yang seharusnya dia hubungi sejak tadi.


“Terserah kamu,” jawab Alexa lalu mematikan telepon.


***

__ADS_1


TBC


__ADS_2