Suami Sensasional

Suami Sensasional
Enam Puluh Dua


__ADS_3

“Azlan, aku lapar,” lanjut Alexa.


“Sebentar lagi kita sampai ke rumah,” jawab Azlan denganpandangan fokus ke jalan di depan.


“Apa kamu nggak bosan makan di rumah? Aku bosan.”


“Nona harus hilangkan kebiasaan merasakan bosan, karena pembosan itu nggak bagus.”


“Jangan ceramah!” ketus Alexa mulai jengah.


“Apa nona akan ganti suami sampai puluhan kali jika nona sebentar-bentar bosan pada suami yang sudah nonanikahi?”


Alexa menoleh ke arah Azlan dengan tatapan membelalak. “Jangan gila kamu, mana mungkin aku gonta ganti suami kayak ganti baju aja. Crazy!”


“Kalau papanya Nona memergoki kita pulang pagi begini, apa yang akan nona katakan?”


“Aku akan katakan kalau aku tidur di rumahmu.”


“Lebih baik nona beri jawaban yang lain aja.”

__ADS_1


“Kau mengajariku berbohong?”


“Bukan maksudku memintamu berbohong, tapi nona bisa bilang kalau menginap di rumah teman. Anggap aja aku temanmu. Pak Joan akan mengira nona nggak bersamaku semalaman.”


“Idemu buruk.” Alexa melambaikan tangan di depan wajahnya.


“Apa nona nggak takut kalau Pak Joan akan marah?”


“Aku lebih mengenal papaku dari pada kamu. Jangan protes!”


Mobil berhenti di depan rumah. Idris melongo saat melihat mobil yang dinaiki Azlan melintasinya. Ia terbengong melihat Azlan berada di dalam satu mobil bersama Alexa.


“Azlan!” panggil Pak Joan.


“Ada apa, Pak?” tanya Azlan , ia berdiri menghadap Pak Joan. Ia terpaku, bingung karena Pak Joan yang malah mediamkannya begitu ia sudah berdiri di depan pria tengah baya itu. Pak Joan menatap tubuh Azlan penuh selidik seperti sedang meneliti sesuatu, tatapannya mengawasi dari ujung kaki sampai ke ujung rambut Azlan dengan dahi mengerut tajam.


Azlan mulai merasa terintimidasi atas tatapan itu. Sepertinya Azlan lupa kalau tatapan mata Pak Joan memang sudah tajam dari sononya. Antara marah dan melamun, tatapannya tetap sama, menusuk seperti pisau belati.


“Dari mana kau membawa putriku semalaman? Pagi-pagi baru kau pulangkan dia?” tanya Pak Joan dengan pandangan penuh selidik.

__ADS_1


Jawaban apa yang harus Azlan katakan?


Alexa semalaman menginap di rumah saya, Pak.


Saya nolongin Alexa dan saya bawa pulang ke rumah saya.


Alexa semalaman memang menginap di rumah saya, tapi kami nggak ngapa-ngapain.


Ah, sepertinya semua jawaban di kepala Azlan akan terdengar buruk. Tentunya juga akan berakibat fatal karena akan memunculkan pikiran negatif.


Baru saja mulut Azlan terbuka hendak menjawab, Alexa sudah duluan menjawab.


“Aku tidur di rumah Azlan tadi malam,” jawab Alexa tanpa beban. Bahkan bibirnya tertarik lebar saat mengucapkannya. Dia juga meletakkan sikunya di bahu Azlan.


Anehnya jawaban Alexa tak lantas membuat Pak Joan berang. Ekspresi lelaki itu tetap sama seperti semula, tidak terkejut, juga tidak menunjukkan adanya tanda-tanda bakalan mengamuk. Dia hanya mengangkat alis menunggu penjelasan berikutnya.


“Sehabis jalan-jalan, aku main ke rumah Azlan. Dan aku ketiduran di sana. Rumah yang dikontrak oleh Azlan memang sederhana, tapi nyaman, membuatku jadi betah sampe akhirnya ketiduran. Kurasa Azlan nggak tega ngebangunin aku, makanya dia biarkan aku tidur pulas. Kenapa? Papa nggak suka?” ucap Alexa ringan. Ia tidak mengatakan kejadian yang sebenarnya, bahwa ia mengalami kejadian buruk yang hampir saja membuat nyawanya melayang. Kemudian Alexa melenggang masuk ke rumah.


TBC

__ADS_1


__ADS_2