Suami Sensasional

Suami Sensasional
Seratus Delapan Puluh Lima


__ADS_3

Kesibukan hari ini membuat Alexa tidak bisa meninggalkan meja kerjanya. Ia bolak-balik mengecek laporan masuk melalui email. Azlan yang bertugas sebagai wakil direktur pun turut serta membantu.


Azlan memasuki ruangan Alexa, ia meletakkan bebrapa map ke meja.


“Alexa!” Azlan meletakkan kedua telapak tangannya ke meja, sisi Alexa.


“Ya?” Alexa fokus ke layar laptop. Jemarinya sibuk mengetik tust tust keyboard.


“Proyek besar untuk kerja sama kita dengan Pak Syarif membuatmu menjadi sangat sibuk dan seperti nggak punya waktu untuk istirahat.”


Alexa menghentikan ketikannya lalu mengangkat wajah dan menatap Azlan. Ia melipat kedua tangannya di meja.


“Aku justru lelah batin kalau berdiam diri. Sebab dengan diam, aku malah sering kepikiran hal-hal yang nggak baik. Lebih baik aku menyibukkan diri, bukan? Bahkan laporan yang udah dicek oleh Arul pun, sekarang aku sering mengecek ulang. Bukan maksudku nggak percaya dengan hasil kerja Arul. Tapi aku suka dengan kesibukan, kamu paham kan?”


Azlan tersenyum, ia membungkukkan tubuh dan menatap wajah Alexa dengan tatapan teduh.


“Kamu harus banyak istirahat. Kamu lupa, saat ini kamu sedang mengandung. Jangan biarkan fisikmu kelelahan. Ini nggak baik untuk kandunganmu.”


“Jangan cemaskan hal itu. aku akan baik-baik aja.”

__ADS_1


“Berhentilah menyibukkan diri. Kamu ingin punya anak bukan?”


“Hm.”


“Jaga kesehatan.”


“Kamu pikir aku selemah itu? yang bisa langsung keguguran saat kelelahan, begitu?” Alexa menaikkan alis. “Enggak begitu, Azlan. Aku kuat. O ya, aku kemarin udah ketemu Mekka.”


Azlan terkejut. Ia membelalak. “Ketemu Mekka? Di mana?”


“Aku ngajakin dia ketemuan. Dan seperti yang kubilang tadi, kami pun bertemu.”


“Lexa, dia hanyalah masa lalu. Kuharap jangan lagi memikirkan dia.”


“Dan dia pasti akan mendapatkan jodoh yang baik juga.”


“Kupikir aku akan bisa marah saat bertemu dengannya. Aku ingin menggertaknya dan mengatakan supaya dia jangan meneleponmu meski hanya untuk sebatas urusan pekerjaan. Tapi saat pertemuanku dengannya, aku bahkan nggak bisa marah. Dia memiliki kelembutan yang nggak dimiliki siapa pun, dia juga memiliki aura yang berbeda dalam dirinya, yang membuatku tahu diri dan mengerti bahwa dia adalah gadis baik.”


“Lupakan itu. kita hanya perlu membahas masa depan kita. Mekka memiliki masa depan lain. Sekarang singkirkan dirimu dari tempat duduk!”

__ADS_1


“Kenapa kamu mengusirku?” Alexa menjauhkan tubuhnya dari Azlan dengan memundurkan tubuh hingga menyandar di sandaran kursi.


“Aku ingin kamu berdiri.”


Meski dengan dahi mengernyit, Alexa mengikuti kemauan suaminya. Ia pun bangkit berdiri.


Azlan menggantikan posisi duduk Alexa. kemudian ia membuka file yang sudah terbuka dan mengeceknya.


“Hei… jadi kamu mau membuat pekerjaanku berkurang dengan mengecek email masuk, juga membantu pekerjaanku?” Alexa menepuk lengan Azlan yang disambut dnegan senyuman oleh pria itu.


“Aku nggak mau pikiranmu terlalu dipaksa sehingga pekerjaan ini akan menjadi beban pikiranmu. Aku ingin beban pikiranmu akan berkurang.”


Alexa duduk di sandaran tangan kursi putar yang diduduki oleh Azlan. Ia mengalah dan memilih untuk menemani suaminya saja.


“Bagaimana kalau besok kita refreshing. Liburan ke vila di bandung?” Azlan menoleh dan menatap Alexa intens.


Alexa tersenyum. “Boleh. Aku setuju.”


“Halo, sayang! Mamamu akan jalan-jalan, kita cari angin segar ya, sayang!” Azlan mengelus permukaan perut Alexa yang berlapis baju.

__ADS_1


Alexa tergelak.


TBC


__ADS_2