
“Aku keluar, Nona.” Azlan hendak keluar dari ruangan.
“Jangan!” sergah Alexa dengan tatapan fokus ke layar laptopnya.
“Lalu, apakah aku harus menungguimu di sini?”
“Ya.”
Azlan menoleh ke arah kaca pembatas ruangan itu. Ia melihat para karyawan hilir-mudik di depan ruangan seperti sedang penasaran dengan apa yang dilakukan oleh Alexa dan dirinya di dalam satu ruangan setelah kejadian di ruangan meeting. Dan anehnya, ada satu karyawan yang sejak tadi mondar-mandir. Azlan menarik korden dan menutup kaca, sehingga orang di luar tidak bisa lagi melihat aktivitasnya di dalam. Tatapan orang-orang yang melintas membuatnya merasa risih, lebih baik ruangan ditutup sekalian.
Pagi itu Alexa tidak begitu sibuk, pekerjaannya tidak menumpuk. Belum ada laporan masuk. Pertengahan bulan memang saatnya untuk Azlan bersantai ria. Kesibukan hanya akan melanda di awal dan akhir bulan. Jadwal closing kerap kali membuatnya fokus pada pekerjaan supaya tidak ada kesalahan laporan ketika laporan masuk ke meja direktur. Karena semua laporan akan melewati tanda tangannya terlebih dahulu, dan itu merupakan tanggung jawab besar yang harus ia pikul.
Untuk membunuh rasa bosan, Azlan duduk di sofa yang ada di sudut ruangan dan membuka aplikasi Al Qur’an. Dia kemudian membaca ayat-ayat suci tersebut dalam hati.
Azlan kemudian menoleh saat mencium aroma wangi yang sangat ia kenal, ia mendapati Alexa berdiri di sisinya. Gadis itu menatapnya dengan alis terangkat.
__ADS_1
“Sejak tadi aku mengajakmu bicara, dan kamu mengabaikanku. Ternyata ini yang membuatmu terlalu asik sampai-sampai nggak menyadari panggilanku,” ujar Alexa menatap sederet ayat-ayat yang tampil di ponsel Azlan.
“Maaf, aku nggak mendengarmu.” Saking asiknya membaca ayat-ayat suci al Qur’an, Azlan sampai tidak mendengar suara di sekitarnya.
“Itu Al Qur’an?” Alexa menatap layar ponsel Azlan yang menunjukkan ayat-ayat suci Al Qur’an tampil di sana.
“Ya.”
“Untuk apa kamu beribadah?”
“Helooow... Aku nanya kok nggak dijawab?” Alexa memajukan kepala sekligus menundukkannya membuat Azlan bergerak cepat memundurkan kepala.
“Cita-cita seorang muslim sederhana dan cuma satu, yaitu kebaikan di akhirat, udah itu aja. Azlan sebenarnya mau bilang ingin bertemu dengan Allah, tapi jawaban itu sepertinya terlalu dalam untuk seorang Alexa.
“Kamu yakin surga dan neraka itu ada? Kalau ternyata semua itu nggak ada, percuma kamu beribadah.”
__ADS_1
Deg! Jantung Azlan berdetak keras mendengar kalimat yang diucapkan oleh Alexa. bahkan Alexa yang di KTP-nya adalah seorang muslim pun tidak meyakini isi kitabnya. “Aku meyakini kitabku, Al Qur’an. Tentu juga meyakini isinya.”
Otak Alexa mencerna kalimat yang baru saja dia dengar. “Lalu, jika tanpa adanya surga ataupun neraka, masihkah kamu taat pada Tuhanmu?”
“Tujuanku bukanlah surga, juga bukan karena takut sama neraka. Tapi Allah. Hanya Allah.”
Alexa menemukan keyakinan di mata Azlan. Lelaki di hadapannya itu sangat meyakini kebenaran agamanya, berbeda dengan Alexa yang selama ini meragukan kebenaran kitab suci umat muslim, meski dia juga seorang muslim. Karena sampai detik itu, ia belum meyakini adanya kehidupan di akhirat setelah kematian.
“Belajarlah banyak hal dari Al Qur’an, kamu akan menemukan siapa dirimu yang sebenarnya.” Azlan mulai tertarik membahas agama. Kedangkalan pemahaman Alexa tentang Al Qur’an, membuat Azlan merasa ingin berbagi ilmu dengan gadis itu.
Alexa terdiam. Mungkin Azlan benar, Alexa harus banyak belajar tentang Al Qur’an. Bagaimana dia bisa meyakini kitab itu jika tanpa mempelajarinya? Dia memang tidak paham dengan agama, dan memang tidak pernah dikenalkan agama oleh orang tuanya. Dia sekolah di santa Maria, sekolah non muslim, sejak sekolah dasar sampai SMA. Jadi dia tidak mengenal agamanya sendiri. Salah satu alasan Pak Joan menyekolahkannya di sana, adalah karena sekolah itu mutunya bagus. Dari segi kualitas, sekolah itulah yang merajai.
“Bacaan ini bisa membuat kita lupa dengan masalah hidup, bisa menghilangkan bosan, juga bisa membuat kita merasa tenang. Apa nona tertarik dengan bacaan ini?” Azlan menunjuk bacaan di dalam ponselnya.
Alexa diam saja karena otaknya sedang bekerja mempertanyakan apa yang sedang diucapkan oleh Azlan kepadanya.
__ADS_1
TBC