Suami Sensasional

Suami Sensasional
Seratus Tujuh Puluh Lima


__ADS_3

“Alexa!” panggil Azlan lembut. Lima menit telah berlalu semenjak ia memejamkan mata dan ia belum bisa tidur. Kini, ia kembali membuka matanya, langit-langit kamar menjadi objek pemandangan.


“Hm,” jawab Alexa dengan mata terpejam.


“Apa kamu tahu bagaimana beratnya menjadi seorang suami?”


“Aku nggak mau tau,” ketus Alexa.


Senyum Azlan sedikit mengembang. Ia menoleh ke arah Alexa yang memunggunginya. “Suami memikul tanggung jawab besar atas akhlak istrinya. Dan aku nggak memiliki kekuatan untuk itu. Aku nggak berani menanggungnya. Untuk menjadikan akhlak dari satu istri menjadi lebih baik aja aku nggak menjamin sanggup, bagaimana bisa dua?”


Sepi.


Alexa tidak menjawab.


“Jujur aku nggak sanggup memiliki dua istri. Apa lagi letak pertanggungjawabannya sangat besar. Tujuan menikah adalah untuk ibadah, tapi aku nggak akan menemukan tujuanku jika aku justru memiliki beban berat, yaitu punya istri dua,” lanjut Azlan. “Aku sama sekali nggak menginginkan semua ini terjadi. Aku bahkan sampai harus membuat diriku menjadi egois dan kejam dengan menalak Mekka demi wanita lain yang aku cintai. Aku mencintaimu, Alexa.”


“Sekarang jawab aku, apa yang udah kamu lakukan dengan wanita itu?” lirih Alexa.


“Jangan tanyakan itu.”

__ADS_1


“Kenapa?”


“Itu hanya akan membuatmu terluka.”


“Berarti kamu udah pernah menciumnya? Pernah memeluknya? Pernah bersetubuh dengannya?” Suara Alexa bernada rendah.


“Sama sekali ngak ada baiknya kamu mengetahui hal itu, Alexa. apa pun yang udah terjadi antara aku dan Mekka hanyalah masa lalu. Kita memiliki masa depan. Kita hanya perlu memikirkan masa depan kita.”


“Sudahlah jangan bicara lagi denganku. Aku muak!” hardik Alexa kesal.


Azlan bangkit duduk. Ia menoleh ke arah Alexa dan menatap punggung wanita itu. “Aku hanya mencintaimu.”


“Itu nggak akan mengubah keadaan yang udah terjadi. Seribu kali kamu mengatakan cinta, keadaan tetap sama.”


Alexa membalikkan badan hingga menelentang saat merasakan elusan lembut di lengannya. “Jangan sentuh aku!” hardiknya. “Aku belum bisa menerima semua ini. Kamu paham?”


“Iya, aku mengerti dengan apa yang kamu rasakan. Tapi bukan berarti kamu harus terus-terusan ngambek begini.”


“Aku bukan hanya sekedar ngambek saja, tapi muak, benci, kesal, semuanya. Aku nggak bisa menggambarkan apa yang aku rasakan sekarang. Pergi sana! Jangan dekat-dekat denganku!” Alexa menunjuk permadani dengan dagunya.

__ADS_1


“Tapi aku nggak bisa jauh darimu walau hanya semalam saja.” Azlan langsung menjatuhkan tubuhnya di atas Alexa. Dan dengan sigap, tangannya menyentuh caruk leher wanita itu bersamaan dengan wajahnya yang maju dan mendaratkan ciuman di bibir Alexa.


Posisi Alexa yang diapit oleh tubuh Azlan di atasnya, serta satu tangan Azlan yang bertugas memegangi lengan Alexa,, membuat wanita itu tak berkutik dan tak kuasa melawan. Azlan curi start. Seenaknya saja dia ingin menyentuh Alexa disaat Alexa sedang dalam keadaan marah. Alexa meronta, tubuhnya bergerak-gerak ingin melepaskan diri.


Azlan menjauhkan wajahnya dan mengusap rambut wanita itu.


“Alexa, jangan bersikap seakan aku sedang memperk*samu. Ini akan kedengaran lucu, suami memperk*sa istri,” celetuk Azlan masih mengunci erat tubuh di bawahnya.


“Kenyataannya begitu!”


Azlan tersenyum tipis sambil mendaratkan ciuman ringan di lengan polos Alexa. “Sayang, kita pikirkan kita berdua saja. Jangan memikirkan hal yang lain-lain.” Azlan meneruskan aksinya dengan membuat tanda di leher Alexa.


“Hentikan Azlan!” Alexa ingin meninju Azlan andai saja tangannya bisa melakukannya.


“Aku nggak akan menghentikannya. Kamu akan menikmati ini, sayang! Bacalah basmallah, ini pasti akan terasa indah, percayalah. Bahkan ini adalah salah satu ibadah dalam rumah tangga.” Azlan telah sempurna membuat Alexa tak bisa berkutik dengan memposisikan tubuhnya untuk mengunci Alexa di bawahnya, kemudian bibirnya pun beraksi cukup lama.


Ulah yang dilakukan Azlan membuat Alexa tak berkutik. Sensasi yang diciptakan pria itu sungguh membuat Alexa dengan tanpa sadar menikmatinya. Api dalam tubuhnya seakan menyambar-nyambar. Meski ia dalam keadaan marah dan kesal, namun kondisi tubuhnya tidak lagi bisa diatur oleh akal sehat. Terlebih Azlan begitu lihai dalam menaklukkan wanita dengan segala sensasi yang dia ciptakan.


“Aku mencintaimu, sayang!” Kalimat itu terus-terusan dibisikkan oleh Azlan saat ia melakukan kegiatan mesra hingga menyelesaikan hajatnya tersebut.

__ADS_1


***


BERSAMBUNG


__ADS_2