Suami Sensasional

Suami Sensasional
Lima Puluh Empat


__ADS_3

Usai mandi, Azlan membaringkan tubuh di spring bed. Anak rambutnya masih sedikit basah. Ia mengenakan kaos tipis dan celana selutut.


Jika sudah membaringkan tubuh begitu, ia merasa sangat tenang dan nyaman. Lepas dari pekerjaan, juga lepas dari beban pikiran. Hanya saja, Alexa. Gadis itu tengah tertidur di kamar tamu saat Azlan meninggalkannya, suhu tubuhnya juga sudah meningkat mendekati normal. Mudah-mudahan Alexa akan segera siuman.


Azlan ingat, sebelum ia bekerja di rumah Alexa, ia hidup seorang diri di rumah itu, tidak ada asisten rumah tangga, tidak ada siapapun yang menemaninya di sana. Dia tidak membutuhkan pembantu. Dia beres-beres rumah sendiri. Pakaiannya loundry. Urusan sarapan dan makan malam seringnya di luar. Makan siang di kantor.


Azlan membuka ponsel. Ia melihat ada tiga kali panggilan tak terjawab dari Alexa. Pasti gadis itu meneleponnya saat sedang kesulitan, namun ia lupa mengaktifkan nada hingga posisi ponselnya masih silent.


Azlan membuka pesan yang baru amsuk. Dari bunda.


Assalamualaikum


Apa sudah tidur nak?


Jangan lupa shalat


Jangan lupa bismillah setiap kali akan melakukan aktifitas


Jaga pergaulanmu


Hidup di kota tdk semudah di kampong


Sering-seringlah menelepon Mekka


Supaya Mekka merasa diperhatikan


Sebatas menanyai kabar saja sudah cukup


Azlan menarik nafas membaca pesan itu. Dia bahkan tidak tahu kata-kata apa yang harus dia ucapkan jika berteleponan dengan Mekka. Mereka tidak saling mengenal, sehingga Azlan kekurangan bahan pembicaraan.


Demi amanah bunda, Azlan merasa harus menghubungi Mekka. Namun tidak menelepon, cukup dengan mengirim pesan saja.


Azlan


Selamat malam


Mekka, belum tidur?


**Mekka**


Bzzsppttt


Sederet huruf yang tidak membentuk kata. Azlan bingung membaca balasan dari Mekka.


Azlan


Apa itu?


Mekka


Ups, maaf.


Gara-gara menatapi kontak Mas di WA,

__ADS_1


mungkin tadi tanpa sengaja kepencet-pencet layar ponselnya


dan kemudian tertekan send.


Azlan


Oh…


Azlan bingung harus mengirim kata-kata apa lagi, sehingga hanya satu kata itu yang dia kirim. Dan setelah itu pun dia tidak memiliki bahan pembicaraan untuk chatingan. Jadi dia meletakkan ponsel menyudahi chating begitu saja.


Azlan kembali meraih ponsel membaca chat yang masuk.


Mekka


Bagaimana pekerjaan Mas di kota?


Apakah lancar?


Azlan


Alhamdulillah semuanya lancar


Azlan menutup matanya, kantuk mulai menyerang. Namun nada chat yang masuk membuat kelopak matanya kembali terbuka, tangannya membalikkan ponsel yang menelungkup di atas permukaan perutnya.


**Mekka**


Jam segini bagus loh buat tahajud.


Azlan


Hayooo…


**Mekka**


Udah tahajud tadi, Mas.


**Azlan**


Alhamdulillah, semoga istiqomah


Mas bangga punya calon istri sepertimu


Mekka


Alhamdulillah kalau ternyata Mas Azlan ridha aku jadi istrimu.


**Azlan**


Tapi kamu belum tahu seperti apa wajah Mas.


Mas takut kamu malah lari setelah melihat wajah Mas?


**Mekka**

__ADS_1


Lari mendekat ya? Hehee…


Aku ikhlaskan semuanya, Mas.


Allah yg menentukan jodohku.


Apapun yg Allah berikan padaku, pasti itu anugerah


Toh, Mas juga belum tahu seperti apa wajahku.


Aku takut Mas kecewa.


**Azlan**


Percaya diri aja.


Calon suamimu ini gk akan menuntut apapun, kecuali Satu


Keimanan.


Mekka


Ya Allah, aku baper, Mas.


Azlan


Masa iya?


Mekka


Atau perlu kita bertukar foto, Mas?


Untuk sekedar biar bisa saling tahu.


**Azlan**


Ga perlu.


Biarlah Mas yg kesana di saat tiba waktu yg ditentukan.


Dan Mas akan lihat secara langsung. Itu pasti akan lebih indah.


Mekka


Semoga kita berjodoh.


**Azlan**


Aamiin.


Selamat tidur.


Semoga mimpi baik.

__ADS_1


Mekka tidak membalas lagi. Mungkin Mekka menganggap kalimat terakhir Azlan sebagai penutup perbincangan mereka.


TBC


__ADS_2