
Usai mandi, Azlan membaringkan tubuh di spring bed. Anak rambutnya masih sedikit basah. Ia mengenakan kaos tipis dan celana selutut.
Jika sudah membaringkan tubuh begitu, ia merasa sangat tenang dan nyaman. Lepas dari pekerjaan, juga lepas dari beban pikiran. Hanya saja, Alexa. Gadis itu tengah tertidur di kamar tamu saat Azlan meninggalkannya, suhu tubuhnya juga sudah meningkat mendekati normal. Mudah-mudahan Alexa akan segera siuman.
Azlan ingat, sebelum ia bekerja di rumah Alexa, ia hidup seorang diri di rumah itu, tidak ada asisten rumah tangga, tidak ada siapapun yang menemaninya di sana. Dia tidak membutuhkan pembantu. Dia beres-beres rumah sendiri. Pakaiannya loundry. Urusan sarapan dan makan malam seringnya di luar. Makan siang di kantor.
Azlan membuka ponsel. Ia melihat ada tiga kali panggilan tak terjawab dari Alexa. Pasti gadis itu meneleponnya saat sedang kesulitan, namun ia lupa mengaktifkan nada hingga posisi ponselnya masih silent.
Azlan membuka pesan yang baru amsuk. Dari bunda.
Assalamualaikum
Apa sudah tidur nak?
Jangan lupa shalat
Jangan lupa bismillah setiap kali akan melakukan aktifitas
Jaga pergaulanmu
Hidup di kota tdk semudah di kampong
Sering-seringlah menelepon Mekka
Supaya Mekka merasa diperhatikan
Sebatas menanyai kabar saja sudah cukup
Azlan menarik nafas membaca pesan itu. Dia bahkan tidak tahu kata-kata apa yang harus dia ucapkan jika berteleponan dengan Mekka. Mereka tidak saling mengenal, sehingga Azlan kekurangan bahan pembicaraan.
Demi amanah bunda, Azlan merasa harus menghubungi Mekka. Namun tidak menelepon, cukup dengan mengirim pesan saja.
Azlan
Selamat malam
Mekka, belum tidur?
**Mekka**
Bzzsppttt
Sederet huruf yang tidak membentuk kata. Azlan bingung membaca balasan dari Mekka.
Azlan
Apa itu?
Mekka
Ups, maaf.
Gara-gara menatapi kontak Mas di WA,
__ADS_1
mungkin tadi tanpa sengaja kepencet-pencet layar ponselnya
dan kemudian tertekan send.
Azlan
Oh…
Azlan bingung harus mengirim kata-kata apa lagi, sehingga hanya satu kata itu yang dia kirim. Dan setelah itu pun dia tidak memiliki bahan pembicaraan untuk chatingan. Jadi dia meletakkan ponsel menyudahi chating begitu saja.
Azlan kembali meraih ponsel membaca chat yang masuk.
Mekka
Bagaimana pekerjaan Mas di kota?
Apakah lancar?
Azlan
Alhamdulillah semuanya lancar
Azlan menutup matanya, kantuk mulai menyerang. Namun nada chat yang masuk membuat kelopak matanya kembali terbuka, tangannya membalikkan ponsel yang menelungkup di atas permukaan perutnya.
**Mekka**
Jam segini bagus loh buat tahajud.
Azlan
Hayooo…
**Mekka**
Udah tahajud tadi, Mas.
**Azlan**
Alhamdulillah, semoga istiqomah
Mas bangga punya calon istri sepertimu
Mekka
Alhamdulillah kalau ternyata Mas Azlan ridha aku jadi istrimu.
**Azlan**
Tapi kamu belum tahu seperti apa wajah Mas.
Mas takut kamu malah lari setelah melihat wajah Mas?
**Mekka**
__ADS_1
Lari mendekat ya? Hehee…
Aku ikhlaskan semuanya, Mas.
Allah yg menentukan jodohku.
Apapun yg Allah berikan padaku, pasti itu anugerah
Toh, Mas juga belum tahu seperti apa wajahku.
Aku takut Mas kecewa.
**Azlan**
Percaya diri aja.
Calon suamimu ini gk akan menuntut apapun, kecuali Satu
Keimanan.
Mekka
Ya Allah, aku baper, Mas.
Azlan
Masa iya?
Mekka
Atau perlu kita bertukar foto, Mas?
Untuk sekedar biar bisa saling tahu.
**Azlan**
Ga perlu.
Biarlah Mas yg kesana di saat tiba waktu yg ditentukan.
Dan Mas akan lihat secara langsung. Itu pasti akan lebih indah.
Mekka
Semoga kita berjodoh.
**Azlan**
Aamiin.
Selamat tidur.
Semoga mimpi baik.
__ADS_1
Mekka tidak membalas lagi. Mungkin Mekka menganggap kalimat terakhir Azlan sebagai penutup perbincangan mereka.
TBC