
Azlan memasuki ruang makan. Sudah ada pak Joan yang lebih dulu duduk di meja makan menimmati sarapan pagi, pria yang khas dengan penampilan necis itu tampak klimis mengenakan jas hitam dengan rambut yang kelihatan basah oleh minyak rambut. Azlan menarik kursi dan duduk. Ia meraih piring yang sudah tersedia pisau dan garpu di atasnya. Kemudian ia mengambil sandwich yang disajikan, masih hangat.
“Hari ini kamu harus berangkat ke Riau untuk proyek baru. Kupercayakan padamu soal ini. Nanti akan ada beberapa asisten, General Manager dan crew yang mendampingimu,” titah Joan sambil menyantap sarapannya. “Aku tidak akan mungkin memerintah Alexa, sebab sudah ada kamu sebagai suaminya.”
“Baik, Pak.” Azlan sudah mempelajari proyek yang dimaksud, yang selalu menjadi topic pembahasan di kantor.
Joan mengangkat wajah. “Pak? Formal sekali. Kamu bahkan masih emmanggilku Bapak seperti saat kamu menjadi pegawaiku. Panggil aku ‘papa’.”
“Baik, Pa.”
“Hm.” Joan meneguk jusnya.
“Apa kira-kira General Manager nggak bisa menghandle proyek tersebut?”
“Bisa. Tapi tetap harus dibawah pimpinan dan pengawasanmu. Azlan, ini proyek besar. Dan aku minta kamu yang memegangnya.”
“Oke.”
“Good. Dimana Alexa?”
Azlan ingat saat ia bangun tadi, Alexa masih tertidur pulas. Azlan menaikkan selimut yang melorot sampai ke dada. Ia mendaratkan bibirnya di kening wanita itu cukup lama, lalu keluar kamar.
“Alexa masih tidur,” jawab Azlan. “Pa, Alexa dalam masalah.”
__ADS_1
“Masalah apa?”
Bahkan ayahnya sendiri tidak tahu hal buruk apa yang menimpa putrinya.
“Dia ketergantungan obat terlarang,” ucap Azlan setelah beberapa detik berpikir.
Joan meletakkan gelas jus yang baru saja akan dia teguk untuk kedua kalinya. Ia mengenrnyitkan dahi beberapa detik. “Menurutmu apa yang perlu dilakukan untuk menyelesaikan masalah putrik?.”
Oh ya Tuhan, Pak Joan bahkan malah bertanya kepada orang lain solusi untuk putri semata wayangnya. Jelas tidak ada kecemasan di raut wajahnya, pria itu tampak rileks.
“Alexa harus direhabilitasi.”
Joan menatap Azlan intens. Dia hanya diam.
“Ya terserah kamu. Aku yakin kamu bisa menyelesaikan masalah Alexa. Kalau menurutmu itu baik, lakukanlah.”
Joan benar-benar mempercayakan segala urusan pada Azlan. Dia bahkan lepas tangan untuk urusan Alexa.
“Alexa merasa terpukul atas kepergian mamanya, itu yang dia katakan.” Azlan mulai membuka pembicaraan mengenai penyebab terpuruknya hidup Alexa. Walaupun dia tahu perbuatan Alexa tidak dibenarkan meski dengan alasan apa pun, tapi ia tetap harus membicarakan masalah itu.
“Ya. Aku tahu itu. Waktu itu mati lampu, ada perampokan di rumah ini, sepertinya perampok sengaja mematikan listrik di rumahku. Dan istriku memergoki perampokan tersebut. Kemudian istriku menjadi korban pembunuhan. Alexa yang bersembunyi di bawah ranjang pun menyaksikan pembunuhan sadis itu. Ya, kejadian tragis itu terjadi di depan mata Alexa.”
Oh, jadi ini alasannya kenapa Alexa merasa sangat takut dnegan gelap. Ibunya dibunuh di depan matanya saat dalam keadaan gelap.
__ADS_1
“Alexa kurang begitu suka dengan istri baruku,” lanjut Joan.
“Mungkin itu alasan tambahan yang menjadi beban hidupnya.”
Joan tertegun. Meski hatinya membenarkan ucapan Azlan, namun ia tidak ingin meninggalkan istrinya demi Alexa.
“Aku pergi. Hari ini aku akan ke luar Paris.” Joan bangkit berdiri.
“Untuk bisnis?”
“Bukan. Istriku mengajakku jalan-jalan ke luar negeri. Mungkin akan lama. Kau jaga Alexa baik-baik.”
“Tapi bukankah Papa menyuruhku ke luar kota untuk mengurus proyek? Dan ini juga tentu akan lama, bagaimana aku bisa berada di dekat Alexa?”
Joan berpikir sejenak.
“Bagaimana kalau aku membawa Alexa?” Azlan mengutarakan idenya.
“Tidak bisa. Alexa harus menghandle kantor. Kau pergi sendiri saja.”
“Lalu bagaimana jika ada yang berniat jahat pada Alexa? bukankah ada Leo yang selalu berniat buruk padanya?
“Ah, kau aturlah itu. Kau suruh saja Yakub atau Idris untuk memantau Alexa. atau bagaimanalah. Terserah padamu.” Pak Joan kemudian melenggang pergi.
__ADS_1
TBC