
Azlan berjalan gontai menuju ruangan direktur, benaknya bertanya-tanya, apa gerangan yang membuat Joan memanggilnya. Apakah direktur akan membahas persoalan kasus perampokan tadi pagi? Atau soal pekerjaan? Seharusnya setiap pekerjaan dibicarakan oleh pimpinan masing-masing bagian, tak lain kepala gudang, lalu kenapa kali ini ia berurusan langsung dengan direktur? Hal apa yang membuat direktur memanggilnya? Tiga hari bekerja, rasanya tidak ada kesalahan yang ia perbuat. Bahkan kepala gudang dan teman-teman sepekerjanya memuji pekerjaannya karena ia begitu cepat mudah menangkap cara kerja yang harus dilakukan.
Azlan mengucap basmallah sebelum mengetuk pintu. Ia masuk dan duduk di hadapan Joan.
“Azlan, aku dengar kinerjamu di sini bagus. Tapi sepertinya aku tidak bisa mempekarjakanmu lebih lanjut di sini.” Joan menatap Azlan intens.
Tatapan setegas itu tak lantas membuat Azlan menjadi tegang. Ia tetap tenang. Hatinya tetap teduh oleh zikir.
“Tapi apa kesalahan saya, Pak? Kenapa saya diberhentikan?”
“Justru karena kinerjamu bagus, aku tidak bisa memakaimu di sini. Aku membbutuhkan skilmu di bidang lain.”
Aneh. Pikir Azlan bingung.
__ADS_1
“Kau akan kupekerjakan di tempat lain. Patuhi perintahku!” tegas Joan. “Supir akan membawamu ke lokasi baru tempatmu bekerja. Semoga kau nyaman. Di sana nanti akan ada kontrak kerja, tertulis tugas dan kewajiban yang bisa kau pelajari.”
Tak lama seorang pria berseragam supir muncul setelah mengetuk pintu. Joan mempersilahkan Azlan mengikuti supirnya.
“Aku akan menyusulmu setelah pekerjaanku selesai,” ucap Joan.
Azlan mengangguk kemudian berpamitan setelah menjabat tangan direktur dan mengucapkan terima kasih. Ia mengikuti supir menuju parkiran. Kepala Azlan dipenuhi tanda tanya saat mobil membawanya keluar area perusahaan, entah kemana supir akan membawanya. Rasa kantuk membuatnya tertidur sejenak semasa dalam perjalanan.
“Sudah sampai, Mas Bro!” supir membangunkan Azlan, mengguncang lengan pria itu.
Oh Tuhan…
Azlan melangkah masuk rumah dan melihat Alexa tengah mengobrak-abrik beberapa lembar kertas di meja ruang tamu.
__ADS_1
Untuk sesaat Azlan terdiam dan tidak tahu harus berbuat apa. Untuk apa Joan memerintahnya ke sana? Apa yang akan dia dapatkan di rumah itu?
“Permisi, Nona!” Azlan berucap sambil mengetuk pintu yang sudah terbuka.
Alexa menoleh. Ia mengernyit dan memiringkan kepala seakan tidak yakin apa yang sedang dia lihat sekarang. Pria yang selalu jual mahal kini mendatangi rumahnya kembali. Mimpi apa dia semalam? Mimpi diseruduk banteng kali.
“Kamu? Kenapa kamu ke sini? Jangan menggangguku. Aku sibuk.” Alexa kembali fokus kepada pekerjaannya mengobrak-abrik kertas-kertas di meja.
“Boleh aku masuk?” Tanya Azlan.
Alexa menoleh sekilas lalu mengangguk.
“Tenang saja, aku nggak akan mengganggumu. Aku hanya akan menumpang duduk aja di sini.” Azlan duduk di salah satu sofa.
__ADS_1
“Terserah kamu saja.” Alexa masih serius pada kesibukannya. “Astaga, kemana surat itu? Tadi kutarok sini, kenapa bisa hilang? Apa ada orang iseng yang mindahin? Ya ampun, rumah ini lama-lama jadi kayak dihuni jin. Semuanya berantakan. Kertas pun bisa hilang.” Alexa ngomong sendiri.
TBC