Suami Sensasional

Suami Sensasional
Seratus Empat Puluh Dua


__ADS_3

Jujur saja Alexa gedeg sekali saat itu. Bukan hanya kasus Azlan saja yang membuatnya menjadi sekesal sekarang, tapi ada banyak kasus pendukung. Akhirnya tingkat emosinya sekarang jadi naik tiga kali lipat dari biasanya. Meski sejujurnya Alexa merasa sedikit terobati saat melihat wajah Azlan, namun ia tidak bisa menampilkan senyum demi memberi pelajaran pada Azlan.


Azlan menggaruk pelipisnya. Menoleh ke kiri kanan. Sepi. Hanya mereka berdua di ruangan itu.


“Apa yang membuatmu semarah ini?” Tanya Azlan lembut.


“Pikirkan aja sendiri.”


Azlan diam. Dia harus berpikir meski ia tahu alasan kemarahan Alexa.


“Kemana kamu semalem? Sekarang udah jam sebelas gini kamu baru nongol ke sini. Kenapa ponselmu nggak aktif? Dihubungi susah banget? Sekalian aja tuh jual ponselmu dan nggak usah pakai ponsel lagi. Percuma punya ponsel tapi nggak berguna. Emangnya apa yang kamu kerjain selama semaleman sampai nggak pulang ke rumah, huh?”


“Nanti aku jelasin ke kamu. Ini untukmu, apa kamu nggak mau mengambilnya?” Azlan menyerahkan bunga di tangannya kea rah Alexa.


Dengan sekali sambar, bunga berpindah ke tangan Alexa, kemudian teronggok di lantai sesaat setelah dilempar oleh tangan mungil wanita itu.


“Bunga itu nggak mempan untuk ngelumerin hatiku. Aku belum denger penjelasanmu, gimana aku bisa mengerti?” ketus Alexa dengan sorot membunuh.


Azlan tetap tampak tenang, ia menyentuh punggung tangan Alexa namun detik berikutnya wanita itu menyentak tangannya hingga terlepas dari pegangan Azlan.


“Jangan pegang-pegang!” ketus Alexa lagi.


Plak!

__ADS_1


Azlan sontak memegang pipinya yang baru saja kena tampik tangan Alexa. rasanya pedes gila. Pipinya langsung memerah. Namun Azlan berusaha menampilkan ekspresi biasa saja. Tangan Alexa mungil tapi kalau nampol lumayan juga.


Alexa melirik Azlan, menyesal sudah memberi hadiah manis di pipi suaminya. “Jangan deket-deket aku, aku bisa membuatmu belur.”


Azlan tersenyum. Ia kemudian berdiri di hadapan Alexa, ia mengangkat satu kakinya, sementara kedua tangannya menjewer daun telinganya sendiri. “Apakah seperti ini udah cukup untuk menghukumku?”


Alexa menatap Azlan yang sengaja menggantung satu kaki dan hanya berpijak dnegan satu kaki saja, sebenarnya ia ingin tersenyum melihat cara pria itu membujuknya. Tapi ia harus jaga image. Nggak boleh gampang luluh. Alexa masih menampilkan ekspresi jutek demi menjaga emosionalnya. Kemudian ia memalingkan wajah dan kini objek pemandangannya adalah dinding.


“Baiklah, akan kujelasin,” ujar Azlan masih di posisi yang sama. “Aku sebenernya tadi malem juga mau ngabarin ke kamu tapi ponselku low dan aku cas. Paginya, aku pikir akan lebih baik langsung menemuimu aja dan mengatakan semuanya.” Azlan ingat, pagi tadi ia mengurus perceraiannya ke pengadilan. Dan ia mendapat jadwal sidang dua minggu ke depan. Saking sibuknya dengan urusan pengadilan, ia sampai lupa dengan urusan ponsel.


“Ya udah, katakan sekarang!”


“Bukankah kamu yang memintaku untuk membawa bunda serta adik-adikku ke sini? Aku udah ajak mereka menempati rumah yang baru kubeli. Semalam aku sibuk sekali mengurus kedatangan mereka. Dan sekarang mereka tinggal di Jakarta, kamu bisa menemui mereka.”


Alexa tertegun sejenak. Artinya sekarang Alexa sudah memiliki ibu mertua, sosok ibu yang mungkin bisa menjadi ibunya juga. Alexa senang sekali. Ia ingin koprol atau apalah. Tapi ia diam saja, sudut bibirnya tertarik sedikit.


“Whatever!” Alexa melambaikan tangan ke depan wajah.


“Kok, masih ketus? Apa perlu kucium supaya kemarahanmu bener-bener meluntur?” Azlan menurunkan kakinya melepas jeweran telinganya. Kemudian ia memajukan wajahnya mendekati wajah Alexa. kepalanya terhenti di jarak sejengkal dari wajah Alexa saat dua jemari Alexa menyentuh bibirnya untuk menahan posisi tubuhnya.


“Kenapa?” tanya Azlan.


“Aku masih agak sebel sama kamu.”

__ADS_1


“Apa perlu aku berlutut untuk hal ini?”


“Lain kali kalau pergi jangan diem-diem aja, kabarin aku.”


“Iya. Maafin aku, ya!” Azlan meraih kepala Alexa dan mendekatkannya ke wajahnya lalu mendaratkan kecupan singkat ke kening wanita itu. “Jadi gimana? Apa kamu mau langsung menemui mereka sekarang?”


“Nanti pulang kerja aja. Soalnya aku mau tau notulen rapat dari hasil meeting hari ini.”


“Oke. Aku ke ruangan dulu.”


Alexa mengangguk.


“Apa kamu yakin nggak mau memberiku ciuman pagi ini? Kamu belum melakukannya untukku.”


“Enggak.”


Azlan tersenyum lagi. “Masih marah?”


“Enggak.”


“Ya udah, biar aku yang cium kamu.” Azlan memiringkan wajahnya dan mencium bibir Alexa.


Disaat posisi seperti sekarang, Alexa merasa sangat senang sekali. Sosok Azlan membawa pengaruh besar dalam hidupnya. Entah kenapa ia merasa sangat emncintai pria itu.

__ADS_1


“Aku pergi.” Azlan memundurkan wajah, tersenyum kemudian melangkah menuju pintu.


TBC


__ADS_2