Suami Sensasional

Suami Sensasional
Dua Puluh


__ADS_3

Alexa kemudian berjalan mendekati Azlan. “Hei, pria aneh, lihat aku!” Alexa meletakkan ujung siku tangannya ke pundak Azlan, membuat pria itu semakin gugup dan membuang muka.


Telapak tangan Alexa mengelus dada Azlan dan merasakan detakan yang sangat kuat di sana.


Ugh! Gadis ini! bena-benar! Batin Azlan berkecamuk. Kalimat istighfar terus mengalir di ebnaknya. Tuhan, akankah ia mampu istiqomah? Godaannya terlalu berat.


“Apa kamu nggak suka wanita? Jangan-jangan kamu nggak normal ya?” bisik Alexa di telinga Azlan.


Azlan menjauhkan wajahnya dari Alexa tanpa memberi jawaban hingga yang menjadi pandangan Alexa hanyalah separuh wajah pria itu.


“Ayo, berangkat!” ucap Alexa kemudian melenggang menuju mobil yang sudah terparkir di pekarangan rumah. Alexa masuk ke mobil dan duduk di jok belakang.


Azlan duduk di sisi kemudi, tepat di samping supir yang sudah menunggu.


“Hei, siapa suruh kamu duduk di depan! Sini, duduk di sampingku. Kalau ada apa-apa, kamulah yang dekat denganku dan langsung nolongin aku.” Alexa menatap Azlan.

__ADS_1


“Mm… Biar aku aja yang nyetir. Nggak perlu pakai supir. Kamu turunlah!” titah Azlan pada supir.


“Saya turun?” supir bingung.


“Ya, turunlah!”


Supir menuruti perintah Azlan dan turun dari mobil. Azlan menggeser duduknya dan menggantikan posisi supir di bagian kemudi. Inilah satu-satunya jalan supaya ia tidak duduk bersebelahan dengan Alexa. Demi menghindari dua paha Alexa yang tentunya akan menjadi pemandangannya bila ia duduk bersisian dengan gadis itu.


Azlan terkejut dan menoleh saat mendengar suara pintu di sisinya dihentak, pintu tersebut baru saja ditutup setelah sebelumnya dibuka. Ia mendapati Alexa sudah duduk manis di sisinya. Ya ampun.


“Kenapa ngeliatin aku begitu?” tanya Alexa melihat Azlan yang matanya melebar menatapnya.


Mobil melaju meninggalkan halaman rumah. meninggalkan Idris yang melongo menatap Azlan duduk satu mobil dengan nona mudanya.


Azlan tetap berusaha fokus menatap jalan di depan meski Alexa mengajaknya mengobrol. Ia tidak mau menoleh, tidak mau menatap wajah cantik itu, juga tidak mau tanpa sengaja menatap paha yang terekspos.

__ADS_1


“Kira-kira kita udah sampai apa belum kalau aku selesai dandan?” Alexa menggaris tepi bibirnya dengan pinsil make up miliknya sambil berkaca pada kaca kecil yang dia pegang.


Azlan melirik sebentar ke samping, gaya Alexa dalam bermake up cukup berhati-hati hingga gerakannya terkesan lambat.


“Kurasa udah sampai,” singkat Azlan. “Kenapa Nona harus ke club?”


“Kenapa? Jangan tanya kenapa. Tentu aja untuk bersenang-senang. Aku bosan di rumah.”


Azlan ingin mengatakan kalau club bukanlah tempat yang baik untuk Alexa, ada banyak pengaruh buruk di sana. Bahkan laki-laki dan wanita berbaur menjadi satu, bersenggolan, menari, saling pegang. Rokok, minuman keras, ****, dan bahkan peluang besar orang-orang menikmati narkoba. Tapi Alexa pasti akan tertawa bila mendengarnya menasehati selayaknya penceramah. Mungkin saja Alexa akan menganggapnya sebagai ustad kesasar.


“Nona yakin ingin ke club?”


“Tentu. Kenapa enggak?” Alexa sampai menghentikan gerakannya menggaris bibir untuk menatap Azlan. Pertanyaan Azlan terasa aneh olehnya, ia sudah sampai pertengahan jalan dan Azlan menanyakan keyakinannya.


“Sebutkan satu aja hal baik yang nona dapatkan di club.”

__ADS_1


Sontak Alexa melongo. Tentu saja Alexa tidak bisa menyebutkannya, jelas –jelas di club tidak ada hal yang baik. Semuanya adalah hal buruk. Alexa sekarang mengerti maksud pertanyaan Azlan.


TBC


__ADS_2