Suami Sensasional

Suami Sensasional
Seratus Dua


__ADS_3

Pagi itu Azlan shalat subuh di rumah kontrak yang baru sehari ia tempati. Hujan turun begitu deras saat adzan berkumandang, dan ia memilih untuk shalat di rumah, menjadi imam dan Mekka makmumnya.


Usai berdoa, Azlan membalikkan badan dan Mekka maju menjulurkan tangan untuk menyalami tangan Azlan. Wanita itu mencium punggung tangan suaminya penuh takzim.


“Hari ini aku akan mulai mencari pekerjaan,” tutur Azlan membuka pembicaraan.


“Ya, Mas. Apakah aku juga boleh membantumu mencari nafkah? Aku juga ingin bekerja.”


Azlan mengulas senyum tipis. “Kamu yakin?”


“Yakin, Mas.”


“Mencari nafkah adalah tanggung jawabku, aku nggak mau kamu terbebani dengan pekerjaan.”


“Ini atas kemauanku, Mas. Aku ikhlas dan sangat senang membantumu.”


“Maaf, aku belum bisa membuat hidupmu senang.”


“Aku bahagia dan ikhlas menjalani hidup bersamamu, apapun kondisinya.”


Azlan mengangguk. Istrinya begitu patuh dan taat padanya. Mekka, wanita yang begitu mulia hatinya, sopan dan lembut tutur katanya. Tapi entah kenapa hati Azlan begitu beku, tak sedikitpun merasa tertarik pada wanita itu? Tidak ada yang kurang dari dalam diri Mekka, dia cantik dan baik hati. Lalu apa yang membuat hati Azlan sebeku itu? Dia sendiri tidak tahu.


“Kamu mau nyari pekerjaan di mana? Di perkantoran atau dimana?” Tanya Azlan.


“Aku search dulu di internet, entar kucari-cari dulu. Sebenarnya aku lebih suka bekerja di perkantoran.”


“Ya, pergunakanlah ilmu sekolahmu sehingga bermanfaat. Aku mungkin nggak akan bisa menjabat bagian penting karena kulihaku hanya sampai D3.”

__ADS_1


“Mas nggak usah pesimis, rejeki udah diatur. Yang penting kita berusaha. Aku yakin akan ada jalan.”


“Kamu nggak marah kan meski aku belum bisa menafkahimu selayaknya? Aku belum bisa memberimu rumah, pakaian dan makanan pantas.”


“Mas, aku udah bilang tadi, aku ikhlas menjalani hidup bersamamu apa adanya. Aku istrimu dan aku harus bersedia menghadapi semuanya bersama-sama denganmu.”


Sunyi.


Azlan dan Mekka diam.


Azlan menyandarkan punggung di kaki ranjang, memejamkan mata sambil menggerakkan tasbih di tangannya. Hatinya berdzikir.


“Mas Azlan, aku mau ke dapur. Kamu mau kubikinin teh atau kopi?”


Azlan membuka mata. “Terserah kamu aja. Memangnya di dapur udah ada teh atau kopi? Bukannya kita belum belanja?”


“Ooh…” Azlan mengangguk.


Mekka bergegas keluar kamar.


Azlan melanjutkan kegiatannya, berdzikir. Tak lama kemudian ia bangkit bangun, keluar kamar setelah mengganti pakaian shalat dengan kemeja dan celana panjang. Ia duduk di ruangan tengah dan mulai mencari informasi tentang lowongan pekerjaan. Hidungnya mencium aroma kopi saat Mekka meletakkan segelas kopi panas ke hadapannya.


“Makasih.” Azlan mengambil gelas tersebut dan meneguknya sedikit dmei sedikit, sementara manik matanya terus fokus ke ponselnya.


“Mas nyariin lowongan kerja?” tanya Mekka.


Azlan menoleh ke arah Mekka yang entah sejak kapan sudah duduk di sisinya. “Hm.”

__ADS_1


“Udah dapet?”


“Ini ada beberapa, tapi kurang cocok. Apa untuk sementara aku ambil kerjaan di pengiriman paket ini ya? Mereka membutuhkan jasa kurir.”


“Boleh juga itu, Mas.” Mekka tersenyum menanggapi.


“Tapi kan aku nggak punya kendaraan. Gimana bisa jadi kurir?”


“Kamu sewa kendaraan aja. Ini aku ada uang sedikit untuk sewa motor. Setelah nanti kita mendapat uang yang banyak, kita akan beli motor untukmu.”


Azlan mengangkat wajahnya menatap Mekka, wanita itu tampak cerah berseri-seri seakan tidak ada beban. Padahal gaji yang Azlan akan terima tentu saja tidak banyak, tapi lihatlah Mekka tetap tersenyum mendukungnya.


“Pergilah, datangi kantornya supaya kamu nggak terlambat. Akan sulit kalau udah diisi orang.”


Azlan mengangguk. “Kalau gitu aku berangkat dulu!”


“Iya, Mas.” Mekka langsung menyalami tangan Azlan dan mencium punggung tangan pria itu. “O ya, aku nanti juga akan pergi nyari kerjaan, nggak apa-apa kan kalau aku belum pulang saat Mas udah pulang duluan?”


“Iya, nggak apa-apa.”


“Hati-hati, Mas.”


Azlan mengangguk sembari tersenyum saat mengusap pucuk kepala Mekka. Ia berlalu keluar rumah.


Sepeninggalan Azlan, raut murung pun langsung tercipta di wajah Mekka. Ia mengintip Azlan yang melenggang keluar pekarangan rumah. Sejak pernikahan mereka, sampai kini Azlan tidak menyentuhnya. Apa sebenarnya yang dipikirkan Azlan hingga pria itu selalu dingin terhadapnya? Apakah Azlan tidak mencintainya? Di ulu hatinya terasa tersayat setiap kali mengenang sikap Azlan yang kelihatan manis namun cenderung dingin.


TBC

__ADS_1


__ADS_2