Suami Sensasional

Suami Sensasional
Seratus Dua Puluh Lima


__ADS_3

Azlan menyetir mobil keluar area kantor. Kali ini ia tidak bersama Alexa, ia juga menyetir mobil sendiri karena Alexa mengaku pergi dengan Jesy. Dan Sunil sudah disuruh pulang oleh Azlan naik taksi.


Azlan menyetir dengan santai. Pikirannya kini sedang pecah ke dua arah. Ia sangat mencintai Alexa, namun di sisi lain ada wanita yang tersakiti atas hubungannya dengan Alexa. Azlan ingin agar Mekka minta diceraikan, tapi wanita itu justru berpikiran lain. Apakah dia masih ingin bertahan? Karena justru akan semakin terdengar kejam jika Azlan yang lebih dulu meminta untuk berpisah. Azlan tidak ingin menyakiti Mekka jika wanita itu masih ingin terus bersama. Mekka hanya akan menelan pahitnya rumah tangga jika hidup bersama Azlan, pria yang jelas tidak memiliki benih cinta. Sesungguhnya, hati kecil Azlan merasa sangat bersalah atas keinginan yang dia anggap egois itu. Sekarang Azlan hanya mengharap keajaiban, semoga Tuhan memberi jalan terbaik untuk menyelesaikan masalah rumah tangganya.


Membangun rumah tangga tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, segala keputusan dan tindakan akan berpengaruh ke segala sisi, baik sisi dunia maupun akhirat.


Azlan merasakan ponselnya di saku celana berdering. Azlan merogoh ponsel dan melihat nama Alexa memanggil. Ia kembali memasukkan ponsel ke saku celana, kemudian menjawab telepon melalui earphone yang sudah terhubung dengan ponsel dan sudah dia sumbat ke telinga.


“A…” Belum sempat Azlan buka suara, Alexa sudah menyambar di seberang sana.


“Azlan, tolong aku.” Suara Alexa terdengar sedikit berbisik, gadis itu menahan suaranya agar tidak terdengar keras.


“Tolong? Kamu kenapa?”


“Ada yang ngikutin aku. Mereka asing dan menakutkan. Mungkin perampok, atau penjahat kelamin, atau entahlah. Aku jalan kaki sendirian di sini.”


“Sendiri? Bukankah kamu bersama Jesy tadi?”


“Jesy udah pulang dan aku tadinya mau nyari kaset. Ah, tapi aku malah terjebak di sini.”

__ADS_1


“Dimana posisimu sekarang?” Tanya Azlan dengan nada cemas.


“Di jalan mangga.”


“Aku ke situ. Jangan putus sambungan teleponnya.”


“Baik. Aku menggunakan earphone dan nggak ada yang mencurigai kalau aku sedang menelepon.”


“Apa yang mereka lakukan sekarang?”


“Aku nggak berani menoleh.”


“Jangan lakukan apapun yang bisa membuat mereka curiga. Tenang, dan tetap waspada.”


“Mereka berapa orang?” Azlan mempercepat kelajuan mobilnya.


“Dua.”


Tak lagi terdengar suara Alexa. Azlan menginjak gas, kelajuan mobil semakin tinggi.

__ADS_1


“Alexa!” panggil Azlan.


Tidak ada jawaban.


“Alexa, kamu masih di sana? Apa yang terjadi? Kamu baik-baik aja?”


“Mm… Ya ya… Aku… Ah, tapi mereka…”


Terputus. Azlan berseru halo halo dan halo, tidak ada jawaban. Tak lama ia sampai di alamat yang disebutkan, ia menghentikan mobil dan turun. Tampak Alexa sedang berjalan dengan langkah cepat dan dua pria mengikutinya di jarak dua meter. Sebentar lagi tangan dua pria itu akan sampai bila menjangkau lengan Alexa.


“Hei!” seru salah seorang pria berbadan besar itu memanggil Alexa.


Alexa tidak menghiraukan. Ia terus berjalan hingga akhirnya langkahnya terhenti ketika lengannya ditarik dari arah belakang. Jeritan kecil terlontar dari bibir tipis Alexa.


“Mau apa kau?” hardik Alexa.


Dua pria itu kini berdiri di hadapan Alexa sambil tersenyum lebar.


Tak lama tubuh Alexa kembali tertarik mundur saat pria lain mengambil alih lengan Alexa. Kini Alexa terlepas dari pegangan pria sangar dan berganti pria lain yang memeganginya.

__ADS_1


Alexa menoleh, tersenyum saat mendapati wajah tampan Azlan di sisinya.


TBC


__ADS_2