
Azlan kembali meraih tangan Bundanya yang sengaja ditarik. Kemudian dia kembali menggenggam erat-erat.
“Tatap aku Bunda! Jangan palingkan wajahmu!” Azlan berkata dengan lembut. “Bunda boleh kecewa dan marah padaku. Bunda boleh caci maki aku, tapi jangan anggap aku nggak ada. Aku puteramu, Bunda.” Azlan sangat memahami situasi batin bundanya yang merasa malu pada Veti dan Anjas. Dan ia juga tidak bisa memaksakan Bundanya agar memaafkannya, karena satu keputusannya yang menikahi Alexa telah mengubah hubungan antara dua keluarga besar.
“Katakan apa saja, Bunda. Katakan apapun itu. Aku mengakui kesalahanku ini, Bunda. Aku salah. Apakah hanya aku satu-satunya manusia yang haram melakukan kesalahan? Aku juga manusia, sama dengan yang lain. Lalu kenapa kata maaf tidak berlaku untukku, Bunda?”
Dinda kemudian menoleh ke arah Azlan, tatapannya melemah. Kedua lengannya terangkat dan memeluk Azlan. Memeluk kepala sulungnya itu. air matanya tumpah dan membanjir di wajahnya, lalu jatuh di rambut Azlan.
“Bunda telah gagal menjadikanmu imam yang baik.” Bunda terisak.
__ADS_1
“Bunda nggak gagal, aku yang nggak bisa menjalankan amanah Bunda.” Azlan menjauhkan kepalanya dan memberi jarak tatapannya dengan mata Bundanya. Ia kemudian menoleh ke arah Mertuanya. “Ayah, Ibu, aku yang salah dalam hal ini. aku belum sempat membatalkan pernikahan dengan Mekka saat kecelakaan itu terjadi. Maafkan aku. Sekarang keputusan ada di tangan Mekka, dan aku akan siap menerimanya.”
“Keputusan apa yang kamu maksud?” tegas Anjas dengan suara mengguntur keras.
“Jika saja Mekka ingin mengakhiri pernikahan ini, aku akan bisa mengerti,” sahut Azlan.
“Kamu mengharap Mekka mengakhiri pernikahan ini setelah kamu nikahi dia dalam beberapa hari dan kemudian kamu membuatnya berstatus janda? Itukah yang kau inginkan?” gertak Anjas menggelegar.
“Kalau kau tidak sanggup memiliki dua istri, maka ceraikan saja istri pertamamu itu.”
__ADS_1
Azlan mengesah. Ia memaklumi kemarahan mertuanya itu. tidak ada orang tua yang merelakan putrinya dilukai. “Ayah, Alexa nggak akan mungkin kutinggalkan. Aku dan dia sudah menjalani layaknya hubungan pernikahan yang sesungguhnya. Tapi Mekka, usia pernikahan kami baru berjalan dalam hitungan hari.”
“Begitu mudahnya kau mencampakkan putriku. Aku ternyata telah salah menilaimu. Kau bahkan lebih mempertahankan wanita lain dibandingkan wanita yang sudah kau beri banyak janji. Sebenarnya apa yang membuatmu mempertahankan istri pertamamu itu? apakah karena dia kaya raya? Dan Mekka tidak bisa memberimu seperti apa yang Alexa berikan untukmu? kau benar-benar mata duitan.”
“Ayah, sedikitpun aku nggak pernah berpikir mengenai materi. Pikiranku nggak seburuk itu, Ayah.”
“Lalu? Apa yang kau harapkan dari wanita itu? mekka jelas sudah lebih dari segalanya, kecuali materi. Dan hanya materi yang tidak kau dapatkan dari Mekka.”
“Percuma kamu mendebatkan ini, Mas,” sergah Veti ikut bicara. Ia menyentuh punggung tangan suaminya. “Azlan jelas ingin mempertahankan istri pertamanya. Percuma kita memaksanya, akan lebih buruk keadaannya jika putri kita memiliki suami yang tidak mencintainya. Mungkin Azlan akan tega menyakiti batin Mekka.”
__ADS_1
“Kamu benar. Percuma kita mengemis pada Azlan. Biarlah kita menanggung malu di hadapan banyak orang karena putri kita dicerai setelah menikah dengan pria yang sudah beristri. Orang-orang kampung pasti akan membicarakan putri kita.”
TBC