
“Azlan, baru aja aku ketemu bunda, sekarang aku udah kangen,” bisik Alexa masih di dalam pelukan Azlan.
Azlan menarik nafas mendengar pengakuan itu. Sungguh, Alexa hidup di sekeliling orang-orang bergelimang harta, tapi pada kenyataannya ia justru haus kasih sayang. Tak seorang pun yang memperhatikannya, tumbuh kembangnya tanpa perhatian dan pendidikan yang bagus dari orang tua. Sampai-sampai sekarang dia merindukan bunda karena menginginkan perhatian seorang ibu.
Azlan tidak tega mendengarnya, sebab kasih sayang bunda pun sebenarnya tidak ada untuk Alexa. bunda hanya sebatas menghargai Alexa sebagai menantunya. Azlan berharap, Tuhan akan membukakan hati bundanya untuk dapat menerima Alexa sehingga kemudian bundanya akan menyayangi Alexa seiring berjalannya waktu.
“Kenapa nggak ngangenin aku aja?” balas Azlan sambil menggerak-gerakkan jari-jarinya di punggung Alexa.
“Kamu kan udah ada di depan mata. Di sini, aku ngeliat mak lampir, sebel jadinya.”
“Mak lampir? Siapa itu?”
“Atika.”
“Mama Atika.”
“Sejak kapan dia jadi mamaku?”
“Sejak papa mengucap ijab qobul untuk memperistri mama Atika,” jawab Azlan sok polos.
__ADS_1
“Aku nggak akan mengakuinya.”
“Meskipun kamu nggak mengakuinya, tapi Tuhan dan malaikat mengakuinya. Nggak penting kamu mengakui atau enggak, Atika tetap menjadi mamamu.”
“Aku benci padanya. Mau sampai kapan dia menjadi parasit di sini? Apa sampai dia berhasil menguasai rumah ini?”
“Alexa, biarkan dia membencimu. Biarkan dia berbuat apapun yang dia mau, kamu jangan mengikuti hawa nafsumu untuk membalas perbuatannya. Cukup Tuhan yang memvonis dan memberi hukuman padanya. Apa kamu nggak percaya pada Tuhan? Hukuman dari-Nya jauh lebih adil. Tugasmu, hanya perlu bersabar menghadapinya. Percayalah Tuhan nggak akan lengah memperhitungkan.”
Jika sudah bicara menyangkut yang Maha Kuasa, Alexa mengalah. Dia tidak memiliki bahan untuk menyanggahnya. Azlan jauh lebih memahami hal itu, dan nasihatnya juga berguna untuk diri Alexa. Hanya saja, Alexa merasa sulit untuk mempraktikannya.
“Ingat, kamu nggak boleh marah. Ini berlaku selama seminggu ke depan. Hari ini kamu udah marah, jadi tugasmu gagal hari ini,” ujar Azlan ringan.
Azlan membalas tatapan Alexa. “Hari ini nggak terhitung hari pertama. Besok adalah hari pertamamu. Jadi ujianmu masih ada seminggu ke depan karena hari ini hangus.”
“Hah?”
“Sama seperti puasa. Jika kamu ingin berpuasa selama tujuh hari, lantas puasa hari batal, tentu kamu harus menggantinya di lain hari bukan?”
“Astaga, Azlan. Kamu membuatku menjadi seperti anak kecil.”
__ADS_1
“Sama sekali enggak begitu maksudku. Ini akan terasa indah. Kamu hanya perlu menyabarkan diri. Kalau kamu sedang marah saat dalam posisi berdiri, untuk meredakan emosimu, maka duduklah. Dan jika duduk nggak mempan, maka berbaringlah. Dan jika berbaring juga nggak mempan, maka berwudhulah. Dan jika kemarahan masih ngeganjel, shalatlah.”
Skak deh. Alexa tidak bisa membalas. Sepertinya ia memang harus belajar untuk bersabar. Alexa menarik nafas dalam-dalam, berusaha menguasai diri supaya bisa menahan emosinya. Baklah, ia akan mencoba tantangan yang diberikan Azlan. Mencoba bersabar tidaklah buruk.
Oke, Alexa akan mencoba untuk menahan emosi dalam keadaan apapun. Wanita bar-bar yang sebentar-bentar marah tiba-tiba harus terus tersenyum saat dihadapkan dengan kondisi yang membuatnya naik darah. Tapi, sanggupkah dia?
“Ya udah, jangan nangis. Besok dimulai lagi percobaannya,” ujar Azlan.
“Aku nggak nangis, kok,” sergah Alexa menarik tubuhnya ke belakang.
“Iya, nggak nangis, tapi kesel karena ujian hari ini dibatalin. Besok start ya, istri jelekku,” Azlan menjepit ujung hidung mancung Alexa dengan tangannya hingga membuat ujung hidung wanita itu memerah. Sakit.
Saat Alexa menatap horror akibat hidungnya dijepit sangat kuat, Azlan melepaskan jepitan itu kemudian menghambur pergi.
“Azlaaaaaan!”
TBC
Bantu sumbangin poin ya buat dukung cerita ini.
__ADS_1
klik vote di setiap chapter. tengkyuh 😘